Disiplin

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
20/12/2017 05:31
Disiplin
(Thinkstock)

KEMACETAN Bangkok jauh lebih parah daripada Jakarta. Transportasi umum massal, baik mass rapid transit maupun light rail transit, tidak mampu mengurangi kemacetan. Rupanya siklus kemacetan itu kembali terjadi di Ibu Kota Thailand, itu setelah kemacetan sempat terurai saat transportasi umum massal selesai dibangun.

Satu yang menarik, di tengah kemacetan yang luar biasa, semua orang bisa sabar untuk mengantre. Nyaris tidak ada orang yang mencoba untuk menyerobot. Semua menerima keadaan untuk menunggu kesempatan keluar dari kemacetan. Itulah yang membedakan kemacetan di Bangkok dan Jakarta.

Kita di sini cenderung tidak sabar menghadapi kemacetan. Sedikit ada celah, orang mencoba untuk menyerobot. Bahkan tidak jarang orang menutup jalan orang lain hanya untuk bisa lebih cepat keluar dari kemacetan. Sikap yang tidak sabar akhirnya menyebabkan kemacetan justru lebih parah.

Apalagi ketika orang yang diserobot tidak menerima, kemudian ia membunyikan klason. Akibatnya, jalan yang macet bertambah ramai oleh bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Di Bangkok kesabaran berkendara ditandai juga dengan sikap untuk tidak membunyikan klakson.

Nyaris tidak ada bunyi klakson di jalanan meski orang harus berada dalam kemacetan berjam-jam. Semua begitu tertib untuk menunggu giliran bisa berjalan. Mengapa itu bisa terjadi? Jawabnya ialah karena disiplin. Setiap orang di Bangkok tahu bagaimana mendisiplinkan diri. Bukan hanya dalam berkendara, melainkan juga dalam membuang sampah.

Tidak ada orang yang sembarangan membuang sampah sehingga kota terasa bersih. Kita angkat pelajaran dari Bangkok karena Presiden Joko Widodo berulang kali mengatakan perlunya kita sebagai bangsa melakukan transformasi. Kita tidak pernah akan menjadi bangsa yang maju apabila tidak mampu membangun etos kerja, menegakkan disiplin, dan meningkatkan produktivitas.

Kita garis bawahi persoalan disiplin. Inilah kelemahan yang terbesar pada kita sebagai bangsa. Begitu seringnya kita menggampangkan persoalan. Kita begitu sulit untuk menjalankan apa yang menjadi kesepakatan kita bersama. Jelas-jelas ditulis dilarang berhenti, kita seenaknya saja berhenti di mana kita mau.

Lampu merah jelas menyala, kita seenaknya saja untuk menerobosnya. Dilarang membuang sampah di tempat umum, kita seenaknya membuang sampah di mana-mana. Diminta hadir pukul 08.00, seenaknya saja kita datang terlambat. Disiplin memang tidak bisa hanya diimbau.

Harus ada tindakan keras yang memaksa kita untuk bisa disiplin. Kalau setengah-setengah seperti sekarang, jangan harap kita bisa bertransformasi dan jangan harap kita bisa menjadi negara maju. Singapura ketika awal merdeka sama seperti kita, tidak disiplin. Namun, pendiri bangsa itu, Lee Kuan Yew, mulai membangun bangsanya dengan menegakkan disiplin keras. \

Semua yang melanggar aturan bersama dikenai hukuman keras. Lee Kuan Yew tidak peduli meski di-bully dengan sebutan ‘Singapore The Fine Country’. Penegakan disiplin yang keras dan konsisten membuat bangsa Singapura akhirnya berubah. Mereka menjadi negara di ASEAN dengan kepatuhan kepada aturan dan disiplin sama dengan bangsa-bangsa di Eropa.

Singapura bukan hanya begitu tertib, masyarakatnya pun paham mana yang pantas dan tidak pantas mereka lakukan. Hal yang sama sedang terjadi di Tiongkok. Masyarakat Tiongkok yang sampai 2000-an masih meludah di mana-mana, kini tahu sopan santun. Dengan disiplin diri yang tinggi, mereka beranjak menjadi negara yang maju dan beradab.

Kalau Presiden Jokowi menginginkan disiplin dari bangsa ini, caranya harus dilakukan dengan keras. Tidak bisa kita bersikap permisif seperti sekarang ini. Dengan 250 juta orang, negara ini akan menjadi chaos kalau tidak dimulai dengan menegakkan disiplin.
Kita tidak perlu melompat seperti Singapura.

Bisa disiplin seperti masyarakat di Bangkok saja akan membuat Indonesia jauh berbeda. Kota-kota tidak hanya akan menjadi tertib, tetapi juga bersih. Kita pun pasti akan menikmati kehidupan yang lebih baik. Dengan itulah baru kita bisa membangun peradaban bangsa yang lebih tinggi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima