Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMACETAN Bangkok jauh lebih parah daripada Jakarta. Transportasi umum massal, baik mass rapid transit maupun light rail transit, tidak mampu mengurangi kemacetan. Rupanya siklus kemacetan itu kembali terjadi di Ibu Kota Thailand, itu setelah kemacetan sempat terurai saat transportasi umum massal selesai dibangun.
Satu yang menarik, di tengah kemacetan yang luar biasa, semua orang bisa sabar untuk mengantre. Nyaris tidak ada orang yang mencoba untuk menyerobot. Semua menerima keadaan untuk menunggu kesempatan keluar dari kemacetan. Itulah yang membedakan kemacetan di Bangkok dan Jakarta.
Kita di sini cenderung tidak sabar menghadapi kemacetan. Sedikit ada celah, orang mencoba untuk menyerobot. Bahkan tidak jarang orang menutup jalan orang lain hanya untuk bisa lebih cepat keluar dari kemacetan. Sikap yang tidak sabar akhirnya menyebabkan kemacetan justru lebih parah.
Apalagi ketika orang yang diserobot tidak menerima, kemudian ia membunyikan klason. Akibatnya, jalan yang macet bertambah ramai oleh bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Di Bangkok kesabaran berkendara ditandai juga dengan sikap untuk tidak membunyikan klakson.
Nyaris tidak ada bunyi klakson di jalanan meski orang harus berada dalam kemacetan berjam-jam. Semua begitu tertib untuk menunggu giliran bisa berjalan. Mengapa itu bisa terjadi? Jawabnya ialah karena disiplin. Setiap orang di Bangkok tahu bagaimana mendisiplinkan diri. Bukan hanya dalam berkendara, melainkan juga dalam membuang sampah.
Tidak ada orang yang sembarangan membuang sampah sehingga kota terasa bersih. Kita angkat pelajaran dari Bangkok karena Presiden Joko Widodo berulang kali mengatakan perlunya kita sebagai bangsa melakukan transformasi. Kita tidak pernah akan menjadi bangsa yang maju apabila tidak mampu membangun etos kerja, menegakkan disiplin, dan meningkatkan produktivitas.
Kita garis bawahi persoalan disiplin. Inilah kelemahan yang terbesar pada kita sebagai bangsa. Begitu seringnya kita menggampangkan persoalan. Kita begitu sulit untuk menjalankan apa yang menjadi kesepakatan kita bersama. Jelas-jelas ditulis dilarang berhenti, kita seenaknya saja berhenti di mana kita mau.
Lampu merah jelas menyala, kita seenaknya saja untuk menerobosnya. Dilarang membuang sampah di tempat umum, kita seenaknya membuang sampah di mana-mana. Diminta hadir pukul 08.00, seenaknya saja kita datang terlambat. Disiplin memang tidak bisa hanya diimbau.
Harus ada tindakan keras yang memaksa kita untuk bisa disiplin. Kalau setengah-setengah seperti sekarang, jangan harap kita bisa bertransformasi dan jangan harap kita bisa menjadi negara maju. Singapura ketika awal merdeka sama seperti kita, tidak disiplin. Namun, pendiri bangsa itu, Lee Kuan Yew, mulai membangun bangsanya dengan menegakkan disiplin keras. \
Semua yang melanggar aturan bersama dikenai hukuman keras. Lee Kuan Yew tidak peduli meski di-bully dengan sebutan ‘Singapore The Fine Country’. Penegakan disiplin yang keras dan konsisten membuat bangsa Singapura akhirnya berubah. Mereka menjadi negara di ASEAN dengan kepatuhan kepada aturan dan disiplin sama dengan bangsa-bangsa di Eropa.
Singapura bukan hanya begitu tertib, masyarakatnya pun paham mana yang pantas dan tidak pantas mereka lakukan. Hal yang sama sedang terjadi di Tiongkok. Masyarakat Tiongkok yang sampai 2000-an masih meludah di mana-mana, kini tahu sopan santun. Dengan disiplin diri yang tinggi, mereka beranjak menjadi negara yang maju dan beradab.
Kalau Presiden Jokowi menginginkan disiplin dari bangsa ini, caranya harus dilakukan dengan keras. Tidak bisa kita bersikap permisif seperti sekarang ini. Dengan 250 juta orang, negara ini akan menjadi chaos kalau tidak dimulai dengan menegakkan disiplin.
Kita tidak perlu melompat seperti Singapura.
Bisa disiplin seperti masyarakat di Bangkok saja akan membuat Indonesia jauh berbeda. Kota-kota tidak hanya akan menjadi tertib, tetapi juga bersih. Kita pun pasti akan menikmati kehidupan yang lebih baik. Dengan itulah baru kita bisa membangun peradaban bangsa yang lebih tinggi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved