Musim Pulang Kampung

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
19/12/2017 05:07
Musim Pulang Kampung
(Ilustrasi)

SIAPA bilang politik kerap menjauhkan? Justru dalam setiap hajat politik, ada kehendak kuat untuk mendekatkan, yakni kehendak kembali dan peduli.

Kembali 'pulang kampung' dalam arti harfiah maupun kiasan.

Mereka (yang berminat menjadi calon kepala daerah) tak lagi menyembunyikan kampung tempat ia berasal, lokus yang mungkin selama ini tak dipedulikan lagi.

Berkelilinglah banyak wilayah negeri ini, terutama daerah-daerah yang pada 27 Juni 2018 menggelar pemilihan daerah (pilkada) serentak.

Lihatlah di 171 daerah: 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten, termasuk di tiga daerah dengan penduduk terpadat, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Inilah rangkaian pilkada serentak yang ketiga sejak 2015 dari lima pilkada serentak hingga 2022.

Terasa kuat berbagai upaya 'pulang kampung' itu.

Meskipun pendaftaran bakal calon secara resmi baru mulai awal 2018, gambar-gambar mereka dalam spanduk, baliho, dan advertensi telah bertebaran memenuhi ruang publik sejak jauh-jauh hari.

Ada yang ingin maju atas kehendak sendiri, desakan organisasi massa, dan partai politik.

Ada yang serius, hanya coba-coba, atawa sekadar memperkenalkan diri.

Cermati kata-kata dalam spanduk dan gambar-gambar itu.

Banyak di antara mereka yang berupaya mengingatkan calon pemilih tentang siapa diri mereka.

Selain mempromosikan berbagai potensi keunggulan diri masing-masing, seperti 'berpengalaman', 'cerdas, 'pintar', 'jujur', 'cakap', 'profesional', 'cekatan', 'mengayomi', dan hal-hal terpuji lainnya, mereka berupaya menjual 'kedekatan' semaksimal mungkin.

Kedekatan terhadap daerah yang akan mereka pimpin jika secara administratif memenuhi syarat dan masyarakat berkenan memilihnya kelak.

Kalau memang lahir di daerah itu, mereka akan menulis antara lain 'putra asli daerah' lengkap dengan kata-kata lokal. Jika orang Banyumas, ia bisa menulis, 'kiye nembe wonge dewek' (ini baru orangnya sendiri), 'aja adoh-adoh, wonge dewek bae' (jangan jauh-jauh, orangnya sendiri saja), 'kiye sing asli wong Banyumas' (ini yang asli orang Banyumas).

Anda bisa mencari sebanyak mungkin contoh 'kehadiran wajah' dengan nuansa lokal dari berbagai daerah lain.

Mereka yang tak lahir di daerah tempat ia akan berkompetisi, tetapi punya hubungan dekat, misalnya pernah menjadi pejabat, pengusaha, tokoh di daerah itu, umumnya mereka menulis prestasinya.

Bagi petahana yang merasa berhasil, ada yang menulis seperti ini, 'sudah terbukti', 'nyata berprestasi', 'nyata kerjanya', dan 'sedikit cakap banyak kerja'. A

rtinya, publik tetap harus diingatkan.

Jika mereka tak dikenal tapi merupakan anak, menantu, adik, keponakan atau cucu tokoh terkenal/berpengaruh di daerah, ada yang memasang gambar bersama sang tokoh itu dan menulis hubungan kekerabatannya.

Bahkan, ada yang menulis lengkap gelar akademik dan adat meskipun teramat panjang dan sulit diingat pembacanya. Itulah berbagai upaya pendekatan agar mereka diterima.

Itu sebabnya musim pilkada bisa disebut musim 'pulang kampung'.

Musim yang jauh didekatkan, yang putus disambungkan, dan yang lupa diingatkan.

Tidak hanya para calon kepala daerah yang akan dipilih, tetapi juga yang akan memilih.

Ada yang bilang, selain hari-hari besar keagamaan dan kematian orang-orang terdekat di kampung, hajatan politik bernama pemilihan umum menjadi musim pulang kampung juga.

Terlebih bagi 'si anak hilang' yang namanya mungkin hanya terdengar 'sayup-sayup sampai'.

Ada orang biasa ingin menjadi anggota dewan, wali kota, bupati, gubernur.

Ada anggota DPRD, DPR, DPD, bekas menteri, pengusaha, artis, ustaz, pendidik, bahkan menteri aktif, berniat maju Pilkada 2018.

Tak ada masalah. Menjadi pemimpin daerah memang dinilai benar-benar 'riil' tantangan dan problemnya.

Ia butuh banyak kemampuan jika ingin berhasil.

Jikapun tak menang, setidaknya ia telah berupaya untuk memahami kembali 'kampung halamannya'.

Kampung halaman yang boleh jadi telah lama ia tinggalkan dan lupakan.

Menjadi menteri atau pejabat penting apa pun di luar kepala daerah memang tak selalu mudah untuk maju pilkada yang dipilih langsung oleh publik yang beragam-ragam selera dan kehendak politiknya.

Saya selalu menilai positif keinginan 'pulang kampung', menjadi kepala daerah atau anggota dewan, dengan kehendak kuat untuk memajukan daerah dan mewujudkan keadilan sosial yang kini masih menjadi problem serius negeri ini.

Jika gairah dan motivasinya hanya untuk menumpuk kekayaan dan menzalimi publik, sebaiknya angkat kaki. Jangan pernah kembali.

Tak selalu mudah untuk pulang kampung.

Siapa pun boleh menjadi menteri atau pejabat apa saja di Jakarta atau tempat lain, tapi belum tentu 'diterima dengan tangan terbuka' ketika bertarung di ajang pilkada.

Bisa jadi ia menjadi perjalanan pulang kampung yang terjal berliku.

Bagi yang terpilih pun, jika ternyata terlalu banyak 'gincu' dan bukan mutu, berbagai upaya pendekatan primordial itu tak berarti apa-apa.

Pemilih rasional akan memilih pemimpin terbaik, yang autentik, yang tidak banyak 'gincu' di wajah dan lakunya.

Mereka umumnya tahu mana emas mana loyang.

Kedekatan sejati sesungguhnya bersambungnya hati pemimpin dengan publiknya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima