Karena Meme

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
15/12/2017 05:31
Karena Meme
(thinkstock)

MENJADI pemimpin publik zaman ini serupa berdiri di tengah lapang di siang hari. Ia bisa terlihat dari segala penjuru angin. Publik bisa menilai dari sudut pandangnya masing-masing. Bahkan, bisa 'ngomel' berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun jika mereka kecewa, juga jika mereka punya energi untuk berkeluh kesah.

Namun, begitulah zaman ini. Pemimpin yang dinilai berhasil, setegak lurus apa pun pribadinya, tak akan sepi dari kritik. Dalam perkara Gubernur DKI Jakarta, misalnya, Ali Sadikin dinilai sukses melakukan 'revolusi Jakarta' dari kota yang kumuh menjadi metropolitan pun, dikritik sebagai 'gubernur maksiat' karena melegalkan judi untuk membangun infrastruktur.

Ia juga dikiritik 'gubernur brangasan' karena pernah menempeleng sopir yang ugal-ugalan. Setelah Ali Sadikin digantikan Tjokropranolo, publik pun segera membandingkan keduanya. Langgam Bang Nolly, demikan Tjokro disapa, yang tak seprogresif Bang Ali. Jakarta seperti kehilangan elan vitalnya yang dinamis dan bergelora. Bang Nolly dikritik terlalu banyak 'menginjak rem' alias lambat berjalan.

Sementara sebelumnya Bang Ali seperti seorang pembalap yang lihai menginjak gas. Ia juga serupa 'Raja Midas', apa yang ia kerjakan menjadi 'emas'. Bang Nolly kemudian digantikan R Soeprapto; R Soeprapto digantikan Wiyogo Atmodarminto, dan Wiyogo digantikan Soerjadi Soedirdja. Empat gebernur ini masing-masing menjabat satu periode. Semua juga bebas dibanding-bandingkan.

Baru ketika Sutiyoso, ia menjabat gubernur dua periode, seperti Bang Ali. Pengganti Sutiyoso, yakni Fauzi Bowo, kembali hanya satu periode. Setelah Fauzi Bowo, satu periode bahkan secara bergtantian ada tiga gubernur: Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, dan Djarot Syaiful Hidayat.

Sudah pasti tak ada yang sepi dari perbandingan. Terlebih setelah era Jokowi bersamaan dengan era kejayaan media sosial di Indonesia, kritik, serangan, (juga fitnah), seperti tak pernah sepi. Meme jadi populer. Apa saja menyangkut para pemimpin bisa muncul dalam bentuk meme, yang lucu ataupun yang menghina.

Namun, Ahok, demi transparansi memulai 'tradisi' baru. Salah satunya mengunggah kinerjanya ke media sosial, terutama Youtube. Ia membuat Pergub Nomor 159 Tahun 2016 tentang Penayangan Rapat Pimpinan dan Rapat Kedinasan Pengambilan Keputusan Terkait Pelaksanaan Kebijakan pada Media Berbagi Video.

Sebuah keputusan yang berani. Sebab, tak mudah bagi pemimpin yang tak siap dan tak tahan banting. Karena harus tahu segala urusan dan dengan cepat pula memberikan solusi secara langsung. Semua pengaduan ditanggapi dan tahu apa solusinya, kadang plus marah-marah juga, kalau ia merasa benar dan masyarakat salah.

Namun, pesan yang hendak ia sampaikan, warga jangan sembarangan mengadu. Harus siap dan memang tak mengada-ada. Publik yang menonton pun jadi tahu apa yang dituntut warga dan apa yang dilakukan gubernurnya. Kebiasaan bagus yang bisa menjadi pengetahuan warga (khususnya warga Jakarta) itu tak akan diteruskan oleh Anies-Sandi, khususnya mengunggah rapat pimpinan.

Alasannya karena apa yang diunggah di media sosial (khususnya Youtube), kata Wakil Gubernur Sandiaga Uno lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Bukankah ada adagium, "Orang besar belajar dari musuh-musuhnya. Dari kritik-kritik besar?" Ia bertolak dari rapat pimpinan yang pertama yang diunggah ke media sosial, ternyata digunakan sebagai meme untuk memprovokasi.

"Pasti kita akan dibanding-bandingkan. Itu enggak bisa terlepas bahwa kita akan selalu dibanding-bandingkan dengan pemerintahan sebelumnya," kata Sandi. Namun, "Kalau itu dipermainkan, enggak akan ada habis-habisnya. Saya ingin mempersatukan warga. Kita ingin meredam suasana mulai Balai Kota sampai ke seluruh wilayah Jakarta."

Jujur saya tak sepakat alasan rapat pimpinan Pemrov DKI Jakarta dan kinerja lain yang diunggah ke media sosial, banyak mudaratnya. Sebab, bahan meme atau apa pun tak akan kurang jika mau. Kalau belum siap, kita paham karena Anies dan Sandi benar-benar baru menjadi pemimpin daerah.

Mereka bisa minta waktu 100 hari dulu sambil mengevaluasi apa yang kurang pas. Bukan menghentikannya. Ini justru kian empuk menjadi sasaran kritik, sebagai pemimpin yang tak siap. Jokowi, Ahok, dan Djarot, ketiganya memang punya pengalaman menjadi pemimpin daerah tingkat dua.

Ahok, sebelum menjadi gubernur, pernah menjadi Bupati Blitung Timur, anggota DPR, Wakil Gubernur DKI Jakarta, dan pernah pula menjadi pengusaha. Wajar jika paham betul akan tugasnya. Meme tak perlu ditakuti. Jika menjurus fitnah dan mencemarkan nama baik bisa diadukan ke polisi.

Jika Anies-Sandi ingin menyatukan warga Jakarta, justru tergantung pada hasil kerjanya, kata-katanya yang tak membelah. Seperti kata ‘pribumi’ di hari pelantikannya itu berpotensi membelah. Meneruskan kebijakan-kebijakan Ahok yang positif, seperti yang dijanjikan Anies-Sandi, juga bisa mempersatukan warga.

Beberapa di antaranya, menayangkan rapat pimpinan dan kinerja pemerintahan provinsi, menerima pengaduan warga di Balai Kota, menyebar WA dan No SMS gubernur, melanjutkan membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), penataan trotoar untuk pejalan kaki, penataan kawasan Tanah Abang, dan relokasi warga di kawasan aliran sungai yang kerap dilanda banjir.

Di bawah kepemimpinan Anies-Sandi, warga Jakarta, termasuk saya, ingin Ibu Kota ini lebih baik dibandingkan di masa Ahok-Djarot. Untuk menjadi lebih baik, tak harus beda yang belum tentu baik hasilnya. Meneruskan hal baik dari pemimpin sebelumnya jelas bukan aib. Ia juga mulia. Terlebih jika meneruskan dan hasilnya lebih baik. ***



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.