Adu Elite

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
14/12/2017 05:31
Adu Elite
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

SETYA Novanto memang hebat. Dalam status tersangka/terdakwa dan ditahan sekalipun dia berhasil membuat kehebohan di kalangan elite politik, elite hukum, bahkan elite profesi kesehatan. Mari kita mulai dengan urusan kesehatan. Hakim meminta dokter yang memeriksa Setya Novanto hadir di persidangan.

Dokter Rutan KPK Yohanes Hutabarat mengatakan dia memeriksa Setya Novanto sekitar pukul 08.00 WIB dan sesaat sebelum berangkat ke pengadilan. Apakah Setya Novanto lancar menjawab dokter? Lancar. Padahal, dalam sidang pengadilan itu Setya Novanto tidak menjawab hakim dengan lancar.

Setelah tiga kali hakim bertanya soal namanya, barulah Setya Novanto menjawab. Hakim Yanto bertanya kepada dokter EM Yunir dari RSCM, apakah dalam ilmu kesehatan dimungkinkan dalam 5-6 jam berubah drastis? Jawab dokter, kurang lebih kondisi psikis bisa memengaruhi saraf tidak bisa berbicara.

Menurut jaksa Irene, Setya Novanto mengeluh diare 20 kali. Tapi laporan pengawal di rutan, sepanjang malam hanya dua kali ke toilet. Sakit apakah Setya Novanto? Senyatanya Setya Novanto menunjukkan kehebatannya, yaitu melakukan perlawanan terhadap hak untuk sehat.

Dia mengubahnya menjadi hak untuk sakit. Dia protes keras dinyatakan sehat dan layak disidang. Setya Novanto membuat elite hukum kembali harus menjawab pertanyaan mendasar, kapankah seorang tersangka/terdakwa mulai diadili? Padahal Mahkamah Konstitusi telah menjawab pertanyaan tersebut sehingga Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP tidak multitafsir lagi sebagaimana aslinya, bahwa permintaan praperadilan dinyatakan gugur ketika telah dimulainya sidang pertama terhadap pokok perkara yang dimohonkan praperadilan.

Dalam pasal itu eksplisit disebut pokok perkara atas nama terdakwa/pemohon praperadilan. Apakah karena itu Setya Novanto tidak langsung menjawab hakim tentang namanya untuk berkelit bahwa perkara itu bukan atas nama dirinya sebagai terdakwa pokok perkara yang dimaksud?

Bukankah hal itu yang sedang diperjuangkannya melalui praperadilan? Senyatanya Setya Novanto menunjukkan kehebatannya, yakni melakukan perlawanan terhadap hak untuk diadili. Dirinya hanya kenal hak untuk praperadilan, bukan untuk pengadilan. Dia menjadikan dirinya bukan tersangka, melainkan pratersangka.

Bukan terdakwa, melainkan praterdakwa. Lengkapnya, Setya Novanto pratersangka/praterdakwa yang berhak sakit. Kehebatan lainnya, dari rutan sekalipun Setya Novanto nyata-nyata berhasil membuat sebuah partai besar menjadi partai semaput. Besar tapi pingsan. Maaf, partai itu menjadi seperti prapartai yang berhak sakit.

Puncak kehebatan Setya Novanto sebetulnya bukan di hadapan hakim atau dokter atau warga partainya selaku ketua umum, melainkan di hadapan rakyat yang telah memilih wakilnya duduk di DPR. Setya Novanto menunjukkan dirinya belum tergantikan sebagai Ketua DPR. Posisi Ketua DPR itu merupakan 'milik' partainya, urusan partainya, partainya yang besar tapi dibuatnya pingsan.

Posisi Ketua DPR samalah dengan posisi ketua umum partai tersebut, tepatnya sama-sama berstatus 'pra-' yang berhak sakit seperti Setya Novanto. 'Pra-' itu tinggal diteruskan saja, misalnya menjadi prademokrasi, praperadaban, prasejarah. Dalam konteks keseluruhan yang terjadi ialah adu cepat dan adu lambat. Setya Novanto adu cepat di praperadilan melawan KPK yang adu cepat membawa pokok perkara KTP-E ke pengadilan.

Dalam hal jabatan ketua umum partai dan Ketua DPR, Setya Novanto dan kawan-kawannya adu lambat dalam rangka mempertahankan status quo posisi ketua umum partai ataupun ketua DPR berhadapan dengan pihak yang adu cepat ingin menggantinya. Siapakah yang menang?

Dalam pikiran besar semua adu elite itu membawa kita mundur ke belakang. Suka atau tidak suka Setya Novanto memang hebat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima