Decoupling

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
06/12/2017 05:31
Decoupling
(thinkstock)

TAHUN depan merupakan tahun politik. Di samping Presiden yang masih akan menjalankan tugas lima tahunan jabatannya, tahun depan kita akan memiliki nama pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan ikut kontestasi pada 2019 kelak. Partai-partai politik peserta Pemilihan Umum 2019 sudah harus memasukkan pasangan capres dan cawapres yang akan mereka usung, di samping nama calon anggota legislatif.

Wajar apabila muncul kekhawatiran karena untuk pertama kalinya kita akan menyelenggarakan pemilu legislatif dan pemilu presiden secara serentak, termasuk kekhawatiran dari kalangan dunia usaha karena akan memengaruhi keputusan bisnis mereka. Namun, sebenarnya masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam menjalankan sistem demokrasi, termasuk memisahkan antara kepentingan ekonomi dan politik.

Sudah terjadi decoupling di antara kedua kepentingan tersebut. Dulu ketika kita baru awal menjalankan demokrasi, gejolak ekonomi langsung terjadi begitu ada rumor politik yang muncul. Paling terasa di pasar uang karena kita memang menerapkan sistem perdagangan terbuka.

Nilai tukar rupiah langsung berfluktuasi sehingga menyulitkan kalangan dunia usaha untuk mengambil keputusan bisnis. Hal itu sangat kita rasakan pada 10 tahun pertama reformasi. Ketidakstabilan politik sangat mudah dimanfaatkan untuk melemparkan rumor. Apalagi pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid sering terjadi keputusan mendadak berkaitan dengan pergantian menteri.

Namun, setelah itu kita banyak belajar. Risiko dari sistem demokrasi ialah kuatnya checks and balances. Pemerintah tidak bisa serta-merta mengambil keputusan. Setiap kali harus melakukan komunikasi politik dan itu tidak selalu berjalan mulus. Kalangan dunia usaha akhirnya makin memahami dan tidak harus khawatir ketika muncul perdebatan politik di publik.

Negara yang sudah mapan demokrasinya memang tidak pernah terganggu oleh kehidupan masyarakatnya karena peristiwa politik. Di Jerman, misalnya, Kanselir Angela Merkel tengah menghadapi kesulitan membangun koalisi dan membentuk pemerintah setelah pemilu lalu.

Namun, kehidupan masyarakat di Jerman dan kegiatan ekonomi mereka tetap berjalan normal. Pada negara yang demokrasinya sudah maju, masyarakat dituntut untuk bisa menyelesaikan persoalan sendiri secara baik. Prinsip demokrasi yang paling dasar memang ‘Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’.

Pemerintah sendiri hanya hadir untuk menjaga, mengawal, dan merawat bahwa tatanan itu bisa berjalan baik. Tidak boleh ada kelompok masyarakat yang mendominasi dan sebaliknya juga tidak boleh ada yang termarginalisasi. Kita lihat sekarang ini pasar uang kita relatif stabil.

Gejolak pasar uang di Indonesia bahkan boleh dikatakan yang paling kecil ketika terjadi gejolak di pasar global. Masyarakat akhirnya semakin cerdas untuk tidak menjadi korban berbagai macam isu. Hanya, kita harus juga belajar agar kita pandai untuk menyelesaikan berbagai persoalan dengan cepat.

Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa Thailand. Dulu kita kagum kepada masyarakat di sana karena mampu memisahkan antara kepentingan politik dan ekonomi. Pergantian perdana menteri boleh sering terjadi, tetapi perekonomian Thailand terus bertumbuh. Namun, setelah kasus yang menimpa PM Thaksin Shinawatra, persoalan politik mengimbas kepada perekonomian mereka.

Polarisasi di tengah masyarakat antara kelompok ‘kaus merah’ dan ‘kaus kuning’ membuat perekonomian Thailand terhuyung. Berlarut-larutnya penyelesaian perbedaan membuat Thailand kehilangan kekompakan, kerja sama, dan keharusan untuk membangun negeri. Kita tentu tidak boleh seperti itu.

Kita harus semakin matang dalam mengelola perbedaan. Hal yang lebih penting untuk dilakukan ialah bagaimana membangun terus etos kerja, menegakkan disiplin, dan meningkatkan produktivitas kerja. Sekarang ini kelesuan ekonomi yang kita rasakan bukan disebabkan persoalan politik.

Kelesuan yang terjadi sejak Mei lalu lebih disebabkan kesalahan kebijakan. Pemerintah terlalu memikirkan kepentingan sendiri demi mempercepat pembangunan infrastruktur. Pemerintah lupa bahwa ada kegiatan ekonomi masyarakat yang harus terus didorong. Ambisi untuk meningkatkan penerimaan negara akhirnya justru menciutkan kegiatan ekonomi.

Perdagangan di Pasar Tanah Abang, Pasar Glodok, Pasar Mangga Dua, misalnya, menurun tajam karena aturan pajak yang mengimpit. Padahal, ada banyak orang yang menggantungkan kehidupan di sana dan hasil pendapatan itulah yang selama ini mendorong kegiatan ekonomi yang lebih besar.

Satu yang penting menjadi perhatian pemerintah di tahun politik nanti, jangan biarkan masyarakat kehilangan kegiatannya yang produktif. Ibarat memegang telur jangan terlalu longgar karena bisa lepas, tetapi juga jangan terlalu keras karena bisa pecah. Pengalaman 2017 ini seharusnya membuat pemerintah lebih cerdas dalam mengelola negara ini.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.