Akhir Cerita Mugabe

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/11/2017 05:31
Akhir Cerita Mugabe
(AFP PHOTO / JUAN BARRETO)

BUMI Afrika setidaknya kini punya dua lokus cerita yang tengah mendunia. Pertama, teror keji di sebuah masjid, Sinai Utara, Mesir, saat salat Jumat pekan silam yang menewaskan lebih dari 300 orang. Kedua, penggulingan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, yang telah berkuasa selama 37 tahun.

Mugabe ialah lulusan sekolah guru, menjadi pahlawan yang memerdekakan bangsanya, tapi kemudian bertumbuh menjadi diktator loba dan kejam yang menghancurkan negerinya. Meski sama-sama di Afrika, kedua negara (Mesir dan Zimbabwe) itu, terentang jarak ribuan km. Mesir terletak di Afrika Utara, sedangkan Zimbabwe berada di Afrika Selatan.

Kekerasan di Mesir bisa jadi masih merupakan bagian ekses kekuasaan diktator Hosni Mubarak yang terguling pada 2011 setelah berkuasa tiga dasawarsa. Sementara perebutan kekuasaan di Zimbabwe karena Robert Mugabe, kini 93 tahun, melakukan penentangan dengan segala cara.

Setiap ada cerita pejuang di Afrika lalu menjadi diktator, teringatlah tulisan Daniel Etounga-Manguelle, intelektual Kamerun, dalam buku Kebangkitan Peran Budaya yang dieditori Lawrence E Harirrison dan Samuel P Huntington (2002). Dalam tulisan berjudul Perlukah Afrika Sebuah Program Penyesuaian Budaya?, Manguelle menjelaskan betapa mitos kekuasaan amat lekat dengan kekuatan supranatural dan dipercaya rakyat Afrika, juga 'para bapak bangsa' di Afrika.

"Pilihlah orang Afrika yang mana saja, beri dia sedikit kekuasaan, dan dia mungkin sekali akan menjadi sombong, arogan, tidak toleran, dan bangga akan hak istimewanya. Karena selalu berjaga-jaga akan posisinya dan cemas akan kompetisinya (jelas bukan seorang dewa pilihan), dia akan bertindak kejam sampai dekrit sial menunjuk penggantinya," tulis Manguelle.

Itulah narasi dari testimoni sang penulis, akan tabiat para pemimpin di Benua Afrika. Mugabe kini menjadi contoh paling aktual seperti ditulis Manguelle. Ia memang bukan satu-satunya pemimpin yang berkuasa lama di Afrika. Beberapa nama, seperti Teodoro Obiang Nguema Mbasogo (Presiden Guinea Kathulistiwa, berkuasa 38 tahun), Paul Biya (Presiden Kamerun, berkuasa 35 tahun), dan Yoweri Museveni (Presiden Uganda, berkuasa 31 tahun).

Kisah Mugabe ialah cerita kepahlawanan penuh pujaan di awal ia berkuasa. Ia mirip Nelson Mandela di awal cerita. Keduanya tokoh dari Afrika bagian Selatan; sama-sama mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Fort Hare, Afrika Selatan. Keduanya berjuang membebaskan negerinya dari kekuasaan kulit putih yang menindas. Mugabe dipenjara 11 tahun, Mandela diterungku Aphartheid 27 tahun.

Namun, Mandela hanya satu periode (1994-1999) menjadi presiden negerinya; dan begitu banyak yang ia lakukan. Salah satunya rekonsiliasi bangsa yang diliputi dendam masa silam. Mandela bertumbuh menjadi pemimpin kelas dunia. Seluruh kata dan lakunya menginspirasi dunia. Mandela wafat pada 2013 di usia 95 tahun dengan keharuman namanya.

Sementara Mugabe, 93 tahun, dipaksa mundur karena negeri itu hancur. Ia hidup mewah di tengah rakyatnya yang 80% miskin. Padahal, rakyat Zimbabwe mengingat pidatonya yang indah di depan warga kulit putih yang baru saja dikalahkan sehari menjelang kemerdekaan. Mugabe meminta kulit Putih dan kulit Hitam melupakan dendam masa silam.

Ia menyerukan tak ada musuh, meski di masa lalu bangsa itu harus saling mengalahkan. Ia menyatakan semua bersaudara. Tak ada kebencian antara yang putih dan yang hitam, yang ada saling mencintai sebagai satu bangsa. Ia meminta bangsanya menghancurkan rasialisme, tribalisme, dan primordialisme, agar ekonomi tumbuh dan bangsa Zimbabwe sejahtera.

Mugabe yang memimpin Front Patriotik Nasional Afrika Zimbabwe (ZANU-PF) pada 1974 membawa Zimbabwe merdeka penuh pada 18 April 1980. ZANU-PF menang Pemilu dan Mugabe menjadi Perdana Menteri hingga 1987; pada 1988 ia menjadi presiden yang tak tergantikan hingga partainya sendiri memaksanya turun.

Kekerasannya di Ndebele yang menewaskan 20 ribu orang (1982-1986), pengambilalihan tanah milik orang kulit putih (2000), sanksi keluar dari Negara Persemakmuran (2003), gagal bayar utang negara (2008), ialah deretan 'dosa' Mugabe. Sang pahlawan itu berubah menjadi kejam.

Ia secara terbuka akan melakukan penyingkiran terhadap oposisi dengan lebih kejam dari apa yang dilakukan Hitler. Ia tetap mengaku presiden, meski beberapa jam sebelumnya ZANU-PF memecatnya. Setelah negosiasi dengan alot, Mugabe resmi mengundurkan diri, kektika parlemen tengah bersidang pemakzulan dirinya dengan alasan: perbuatan jahat yang serius; kegagalan mematuhi atau mempertahankan konstitusi; kehendak untuk menghancurkan konstitusi; dan ketidakmampuan untuk bekerja baik karena keadaan fisik maupun mental.

Kini Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa yang pernah dipecat Mugabe pada 2015, resmi mengucap sumpah dan janji menjadi presiden Zimbabwe, Jumat pekan silam. Namun kita tahu, hal terberat justru muncul setelah berhasil menumbangkan diktator. Sebab, ketidakpuasan rakyat akan semakin tinggi dan kekuatan lama kerap menggerogoti sebelum kekuatan baru terkonsolodasi.

Di luar tuntutan rakyat, apa yang ditulis Engeuelle bisa berlaku bagi siapa saja, juga kepada Mnangagwa. Sebab, di Afrika, kata Manguelle, siapa pun harus terlahir dominan; jika tidak, sulit memiliki hak untuk berkuasa kecuali dengan kudeta. Itulah yang menjadi akhir cerita kekuasaan Mugabe.

Di Indonesia upaya menjadi dominan juga terjadi. Para pemimpin daerah yang berubah menjadi raja-raja kecil, politik transaksional, sesungguhnya upaya menjadi dominan di tangan politisi minus kompetensi. Ia mempertahankan posisi dengan segala cara keji; lupa setiap kekuasaan ada akhirnya.*



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima