Stunting

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
15/11/2017 05:31
Stunting
(Thinkstock)

PEKAN lalu program Economic Challenges membahas soal stunting. Di tengah gegap gempita pembangunan yang kita lakukan, ada satu persoalan yang luput dari perhatian kita. Ternyata satu dari tiga anak Indonesia berusia di bawah 5 tahun mengalami pertumbuhan otak dan badan yang jauh di bawah rata-rata yang seharusnya.

Hal itu disebabkan asupan makanan dan gizi pada saat di dalam kandungan dan ketika awal kelahir­an tidak mencukupi. Apalagi ketika anak beranjak besar, lingkungan sekitar tidak bersih, ketersediaan air bersih juga terbatas, serta sanitasi untuk mandi, cuci, kakus tidak bagus.

Sudah bertahun-tahun persoalan ini dihadapi, tetapi baru dua bulan lalu pemerintah akhirnya turun tangan untuk menangani langsung. Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin langsung penanganan persoalan yang harus ditangani lintas sektoral. Target yang ingin dicapai ialah bagaimana 9 juta anak Indonesia yang mengalami stunting ini tidak bertambah lagi.

Selanjutnya, pemerintah akan mengidentifikasi anak-anak yang mengalami stunting tersebut dan memberikan pelatihan khusus agar mereka kelak bisa menjadi manusia yang berguna. Kita hargai langkah pemerintah karena itulah tanggung jawab yang harus dijalankan. Negara harus melindungi mereka yang termarginalkan agar tidak hanya menjadi beban.

Bagaimanapun juga, anak-anak itu harus bisa menjadi mandiri dan bisa bermanfaat bagi diri serta keluarga mereka. Persoalan ini seharusnya membukakan mata kita agar tidak silau oleh globalisasi, kemajuan teknologi informasi, dan mo­dernisasi. Masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat dengan strata ekonomi dan sosial homogen.

Ada kesenjangan yang luar biasa di tengah kita. Masih begitu banyak saudara kita yang hidup dalam segala ke­terbatasan. Apabila kita ikut jalan ke daerah, baru kita bisa merasakan bahwa gambaran Indonesia bukan seperti yang kita lihat di sekitaran Sudirman-Thamrin yang gaya hidup masyarakatnya sudah begitu metropolitan.

Bulan lalu di Mojokerto, misalnya, kita bisa melihat bagaimana Menteri Sosial berinteraksi dengan peserta Program Keluarga Harapan. Ratusan ibu rumah tangga begitu bergembira menerima kartu transaksi bank untuk bantuan sosial yang mereka akan terima. Ketika ditanya apakah mereka tahu bagaimana cara menggunakan kartu transaksi, secara serentak mereka menjawab, “Mboten (tidak tahu).”

Ketika ditanya apakah mereka ingat ‘personal identification number’ dari kartu transaksi yang dipegang, jawaban mereka juga, ”Mboten.” Semua itu menunjukkan masih banyak pekerjaan besar yang harus kita selesaikan, terutama transformasi sosial yang membutuhkan kemauan dan upaya yang sangat kuat.

Dibutuhkan pekerjaan panjang untuk membuat kemampuan seluruh warga bangsa ini menjadi sama. Kalau potret di Jawa saja masih banyak yang seperti itu, kita bisa bayangkan mereka yang tinggal di bagian timur Indonesia. Kasus stunting paling banyak terjadi di wilayah sana, mulai Nusa Tenggara Timur hingga ke timur lagi.

Pendidikan vokasi harus benar-benar menjadi fokus dan kerja utama ke depan agar tidak ada masyarakat yang tidak memiliki keterampilan. Sekolah itu terutama harus ditempatkan di wilayah timur. Pendidikan vokasi jangan sekadar fokus kepada belajar-mengajar, tetapi juga benar-benar memberikan keahlian khusus kepada anak didik.

Pendidikan vokasi dan penciptaan keahlian khusus ini tentunya harus sejalan dengan industri yang memang akan dikembangkan. Tujuan akhir ialah menciptakan manusia-manusia yang produktif. Kita harus membuat seluruh warga bangsa ini agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal sehingga mereka dapat memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara ini.

Kita perlu ahli-ahli sosiologi untuk terlibat lebih aktif dalam pembangunan negara ini. Tidak cukup hanya ahli teknik dan ekonomi karena kita tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan. Yang jauh lebih penting ialah bagaimana membangun manusia Indonesia yang produktif. Sekarang ini kita merasakan kehilangan identitas manusia Indonesia itu.

Kita tidak tahu apa pemikiran manusia Indonesia itu. Tidak cukup banyak kajian tentang manusia Indonesia. Yang lebih banyak kita lihat ialah perilaku orang-orang yang selfish, tidak lagi memedulikan norma dan etika, serta tidak malu menabrak nilai-nilai yang ada pada bangsa ini.

Negara ini bisa runtuh apabila tidak lagi berpegangan pada nilai-nilai bangsa. Apalagi kalau kita lupa tempat sebenarnya kita sedang berdiri. Kita tidak peduli masih begitu banyak warga bangsa ini yang belum bisa mengadaptasi perubahan dan kemajuan yang sedang terjadi di dunia ini.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.