Kurva U

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
11/11/2017 05:02
Kurva U
(ANTARA)

DERAP langkah pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah luar biasa.

Presiden Joko Widodo terus mendorong berbagai proyek untuk bisa diselesaikan.

Beberapa proyek yang sempat tersendat bahkan bisa dituntaskan.

Namun, semua usaha keras itu ternyata tidak cukup membuat perekonomian menggeliat kuat.

Laporan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal III sangat moderat, 5,06%. Semakin jauhlah harapan pemerintah, kita akan bisa tumbuh 5,2% pada tahun ini.

Apa yang menjadi penyebab kita masuk 'jebakan' pertumbuhan stagnan 5% dalam tiga tahun terakhir?

Berulang kali kita sampaikan di podium ini, belanja pemerintah bukan pendorong utama dari pertumbuhan ekonomi.

Kontribusi belanja pemerintah kepada pertumbuhan maksimal hanya 15%. Yang bisa lebih kuat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi ialah konsumsi rumah tangga.

Berulang kali juga kita sampaikan adanya persoalan pada konsumsi rumah tangga.

Namun, kita bukan mencari akar persoalan dan memberikan jalan keluar, melainkan lebih banyak mencari dalih.

Kita berdalih bahwa yang terjadi shifting economy-lah, disruption-lah.

Padahal, ada persoalan yang lebih mendasar dari itu semua.

Laporan tentang kondisi pasar di Indonesia yang dikeluarkan AC Nielsen menyebutkan daya beli masyarakat khususnya kelompok menengah bawah melemah.

Naiknya biaya hidup akibat naiknya pengeluaran biaya listrik, makanan, dan sekolah membuat kemampuan membeli barang konsumen yang cepat habis menurun tajam.

Apabila biasanya penjualan seperti tisu, pampers, dan minuman bisa tumbuh rata-rata 15%, tahun ini baru tumbuh 2,7%.

Bila ada alasan bahwa masyarakat berbelanja melalui daring, ternyata datanya tidak menunjukkan seperti itu.

Angka penjualan barang konsumsi di toko-toko ritel turun sampai Rp37 triliun, sedangkan penjualan melalui daring hanya naik Rp1,7 triliun.

Persoalan terbesar yang harus menjadi perhatian memang kelompok yang nyaris miskin.

Mereka tidak masuk ke Program Keluarga Harapan yang berhak mendapat bantuan nontunai Rp1,89 juta per tahun dan bantuan pangan nontunai Rp110 ribu per bulan.

Mereka mudah tergelincir masuk kelompok miskin kalau biaya hidup meningkat.

Turunnya daya beli terkonfirmasi oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang dikeluarkan BPS. Kita melihat adanya perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi 4,93%.

Kita tidak pernah akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi melewati 5% kalau konsumsi rumah tangga tidak bisa didorong sampai 6%.

Tantangan yang harus dijawab pemerintah ialah bagaimana meningkatkan daya beli kelompok nyaris miskin.

Ini tidak mudah karena karakteristik dari kelompok tersebut, keterampilan yang dimiliki, juga terbatas. Dibutuhkan program padat karya agar daya beli kelompok nyaris miskin ini bisa ditingkatkan.

Presiden sudah menekankan untuk memberi perhatian pada kegiatan padat karya.

Salah satunya mendorong dana desa sebagai alat untuk menyediakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun, dana Rp60 triliun yang tersedia tahun ini tidak cukup memadai untuk menyelesaikan semua persoalan.

Suka tidak suka kita masih membutuhkan industri manufaktur yang bisa menyerap tenaga besar seperti tekstil dan sepatu.

Sayang kita sering ingin melompat terlalu cepat. Kita menganggap industri itu sudah sunset, padahal kita belum pernah mempersiapkan angkatan kerja untuk naik kelas agar bisa terlibat dalam kegiatan industri yang lebih tinggi.

Baru sekarang kita ingin membenahi pendidikan vokasi agar keterampilan angkatan kerja bisa lebih tinggi.

Namun, semua itu membutuhkan proses dan tidak bisa tiba-tiba angkatan kerja lalu lebih terampil.

Pada masa transisi seperti sekarang, harus ada langkah antara yang bisa menyelesaikan persoalan penurunan daya beli karena kebutuhan konsumsi tidak bisa ditunda.

Sepanjang kita tidak mencoba memahami akar persoalan dan mencarikan langkah terobosan yang out of the box, kita tidak mungkin keluar dari perangkap pertumbuhan yang mendatar.

Kurva pertumbuhan ekonomi kita akan menyerupai huruf 'U' dan kita sedang berada dalam fase di dasarnya.

Langkah seperti sekarang yang sekadar mengejar penerimaan pajak jelas bukan langkah yang diharapkan.

Benar kita butuh penerimaan untuk mencegah pembengkakan defisit anggaran, tetapi dalam situasi seperti sekarang langkah itu justru akan semakin menekan angka pertumbuhan.

Apalagi, upaya peningkatan penerimaan pajak masih menggunakan cara 'berburu di kebun binatang'.

Yang ada pengusaha makin takut berinvestasi dan kelompok menengah atas menahan belanja mereka.

Aneh kalau para pengelola bidang ekonomi kita kalah kreatif ketimbang pejabat di India, Tiongkok, Singapura, atau Vietnam yang mampu mendorong pertumbuhan tinggi di tengah kondisi global yang masih belum menentu.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima