Ekonomi bukan Angka

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
08/11/2017 05:31
Ekonomi bukan Angka
(thinkstock)

PRESIDEN Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie tidak pernah berubah prinsip. Dalam sesi Inspiring Knowledge Marketing Gathering Metro TV 2017 Kamis pekan lalu, ia menegaskan perlunya Indonesia membangun manusianya.

Manusia Indonesia haruslah beriman, bertakwa, berpengetahuan, dan berbudaya. Habibie mengajak kita semua tidak terlalu terpukau kepada prediksi ekonomi Indonesia.

Sering dikatakan, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050 mendatang. “Untuk apa kita mencapai itu kalau kita tidak mampu membuat manusia-manusia Indonesia lebih cerdas, lebih berpengetahuan, menguasai teknologi, dan memahami budaya Indonesia sendiri?” kata Habibie penuh semangat.

Presiden ketiga itu mengingatkan pesan yang dulu disampaikan Bung Karno. Negara kepulauan ini terbentang lebih panjang daripada New York sampai San Francisco di Amerika Serikat.

Lautan yang ada di tengah Indonesia janganlah dilihat sebagai pemisah satu pulau dengan pulau yang lain, tetapi justru harus dilihat sebagai bagian yang mempersatukannya.

Oleh karena itu, Habibie ingat betul apa yang dulu dikatakan Bung Karno agar anak-anak Indonesia menguasai udara dan lautan. Ia pun tergugah untuk mendalami ilmu aeronautika pada akhir 1940-an karena ingin menjadi bagian yang bisa menyatukan Indonesia melalui penguasaan udara.

Habibie menjelaskan ia bukanlah angkatan pertama yang dikirim sekolah oleh Bung Karno untuk menguasai bidang aeronautika. Ia angkatan keempat anak-anak Indonesia yang dikirim ke luar negeri setelah angkatan Surya Darma hingga Nurtanio.

Namun, itu tidak cukup untuk membuat Indonesia mampu membangun industri dirgantara yang kuat. Oleh karena itu, ketika ia diminta Presiden Soeharto kembali ke Indonesia, Habibie meminta satu syarat, yakni pemerintah Orde Baru harus mau membangun industri strategis nasional mulai industri penerbangan, industri kapal laut, industri rekayasa, hingga industri dasar.

Untuk bisa merealisasikan mimpi itu, kita harus melahirkan minimal 200 ribu insinyur yang ahli di bidang mereka. Mereka harus dikirim belajar keluar negeri agar menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan.

Sayang, krisis ekonomi melanda Indonesia. Dana Moneter Internasional melarang pemerintah mendanai industri strategis. Anak-anak Indonesia yang hebat itu kemudian diambil negara-negara lain untuk membangun industri mereka.

Menurut Habibie, kita harus membangun kembali anak-anak Indonesia yang hebat. Mereka harus kita persiapkan untuk membawa Indonesia terbang tinggi. Kita harus menjadi bangsa yang unggul melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tidak hanya cukup dibekali dengan pengetahuan, keimanan dan ketakwaan anak-anak Indonesia itu juga harus ditingkatkan. Dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang peduli kepada bangsa dan tidak melakukan tindakan tidak terpuji seperti korupsi.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan ialah menanamkan nilai budaya dari bangsa ini. Budaya Indonesia tidak mengenal namanya perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Budaya Indonesia tidak mengenal yang namanya diskriminasi. Keberagaman itu merupakan anugerah bagi bangsa Indonesia karena saling menguatkan. Indonesia harus dibangun di atas pilar budaya yang sudah mengakar pada bangsa ini.

Pesan yang disampaikan Habibie pantas menjadi renungan bersama karena kita sering alpa membangun manusia Indonesia. Kita begitu menggebu membangun tol, misalnya, tetapi lupa untuk mengedukasi bagaimana cara berkendara di tol yang seharusnya.

Akibatnya, kita lihat tol tidak ubahnya seperti arena balapan. Kendaraan besar pun menguasai jalanan. Tidak usah heran apabila jalan yang seharusnya bebas hambatan sering mengalami kemacetan berjam-jam.

Kita semua juga sering kagum dengan kemajuan sejak era Orde Baru yang membawa Indonesia menjadi negara industri baru. Gedung-gedung bertingkat menjadi wajah kota-kota besar. Namun, pendidikan 75% dari warga bangsa ini masih tingkat menengah pertama ke bawah.

Dengan penguasaan teknnologi dan ilmu pengetahuan yang rendah, tidak usah heran apabila kita tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

Kita baru bereaksi dan menggaungkan rasa nasionalisme ketika sumber daya alam itu mampu dieksplorasi orang asing dan menguntungkan mereka.
Saatnya bagi kita untuk membangun kepercayaan diri dari bangsa ini.

Kita mampu mengeksplorasi sumber daya alam yang ada bagi kesejahteraan bersama. Bukan seperti sekarang hanya dirasakan segelintir orang, sedangkan warga kebanyakan hidup dalam kemiskinan.

Kita belum terlambat untuk melakukan investasi kepada manusia Indonesia. Ini penting agar tidak menjadi manusia yang serakah dan memikirkan diri sendiri saja. Iman, takwa, dan ilmu pengetahuan yang bertumpu kepada budaya Indonesia itulah yang harus jadi tujuan. Baru dari sanalah kita membangun ekonomi yang berkeadilan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima