Raja Anak Muda

Djadjat Sudrajat Dewan Redaksi Media Group
07/11/2017 05:31
Raja Anak Muda
(AP Photo/Pavel Golovkin)

DRAMA politik tengah digelar di panggung terbuka Arab Saudi. Dunia tengah menanti, cerita seperti apakah yang akan terbangun setelah penguasa menangkap dan menahan 11 pangeran, beberapa mantan menteri, wakil menteri, dan pengusaha kelas kaya raya. Wajar jika mereka diterungku dengan tuduhan melakukan korupsi.

Inikah reformasi Arab Saudi atau upaya penguasa penyingkiran musuh-musuh politiknya? Pelakon utama yang tengah mengguncang Timur Tengah itu ialah Putra Mahkota Mohammed bin Salman, anak pertama Raja Salman dari istri ketiganya, Fahda binti Falah bin Sultan al-Hithalayn.

Ia menggantikan Putra Mahkota Mohammed bin Naif pada 21 Juni lalu. Pada medio September, penguasa juga menangkapi puluhan ulama yang dicap pembangkang, termasuk imam terkemuka Salman al-Odah dan Awad al-Qarni yang mempunyai 14 juta pengikut di akun Twitter.

Drama penahanan itu dilakukan hanya beberapa saat setelah Mohammed ditunjuk sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi negerinya. Karier politik Putra Mahkota Arab Saudi kelahiran 31 Agustus 1985 itu memang moncer. Ia pernah menjabat Gubernur Riyadh dan menjadikan ia memiliki jaringan internasional yang luas.

Ia juga menjadi penasihat khusus Raja Salman. Sarjana hukum dari Universitas Raja Saud itu pernah memimpin institusi pengadilan pada 2012. Ketika ayahnya diangkat menjadi raja pada 2015, ia ditunjuk sebagai menteri pertahanan. Jadilah ia menteri pertahanan termuda di seluruh dunia.

Yang dinilai bakal memberi perlawanan ialah dua figur berpengaruh yang ditahan. Pertama, Pangeran Alwaleed bin Talal, pengusaha terkaya dunia yang menurut Forbes menempati urutan ke-45 dengan kekayaan sekitar Rp240 triliun, ia dituduh melakukan pencucian uang. Kedua, Pangeran Mitep bin Abdullah, Komandan pasukan elite Garda Nasional, ia dituduh melakukan korupsi dalam transaksi jual beli senjata.

Ada kabar dari Visi 2030 itu Alwaleed ingin jatah proyek lebih besar lagi. Setelah melihat kiprah putra mahkota yang reformatif itu, segera terngiang pidatonya pada 24 Oktober di depan para investor asing dan para diplomat di Riyadh, bahwa Arab Saudi akan kembali kepada Islam moderat. Ia tidak akan memberi tempat sedikit pun terhadap pandangan ekstrem yang akan merusak negerinya.

Hari itu juga ia berjanji akan membereskan sisa-sisa ekstremisme dan radikalisme. "Kami kembali ke kami yang sebelumnya, sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi, dan orang-orang dari seluruh dunia. Kami ingin hidup yang normal. Sebuah kehidupan dengan agama yang diwujudkan menjadi toleransi, menjadi tradisi keramahan kami," tambahnya seraya menegaskan selama 30 tahun negerinya telah menyia-nyiakan kesempatan.

Sebelumnya ia telah mengumumkan investasi sebesar US$500 miliar, atau sekitar Rp6.783 triliun untuk membangun satu kota dan kawasan bisnis baru, yang disebut sebagai NEOM. Kawasan seluas seluas 26.500 km2 terletak di pesisir Laut Merah di sebelah barat laut Arab Saudi, dekat Mesir dan Yordania. Megaproyek yang dirancang sebagai pusat hiburan itu bakal menjadi magnet baru perekonomian di Saudi.

Inilah jalan moderasi sang pangeran Mohammed. Apa yang tengah digerakkan putra mahkota berusia 32 tahun itu mematrikan harapan di kalangan anak muda negerinya, tetapi mencemaskan bagi sebagian golongan tua. Ada kekhawatiran jika ia tak cakap menanganinya, serangan balik bisa saja terjadi. Namun, jika ia cakap memimpin, Arab Saudi bakal berwajah baru.

Agaknya ia telah menghitung potensi dukungan. Fakta demografi menunjukkan 70% dari jumlah penduduk Saudi 32,28 juta jiwa berusia di bawah 30 tahun. Wajar pula jika di negerinya ia disebut 'Raja Anak Muda'. Dalam konteks unjuk gigi dan uji nyali, secara politik bisa dipahami show of force sang penerus takhta Kerajaan Arab Saudi yang disebut juga sebagai 'Mr Everything'.

Ini juga sebuah cara untuk mengukur 'siapa lawan' dan 'siapa kawan'. Itu penting ia lakukan, justru ketika kesehatan sang ayah, kini berusia 81 tahun, dikabarkan kian memburuk. Namun, bingkai besar kenapa ia melakukan semua itu ialah Visi 2030 dan Rencana Transformasi Nasional. Setelah harga minyak mentah terjun bebas, Saudi ingin melepaskan ketergantungan produksi minyak. Ia ingin menarik investasi asing besar-besaran.

Ia membuka babak baru bagi masa depan Saudi, masa depan yang ramah pada dunia. Selama kurang lebih 30 tahun ke depan Arab Saudi ingin membangun kejayaan baru Namun, Pangeran Mohammed juga disebut bertanggung jawab atas memanasnya hubungan dengan Iran; perang di Suriah untuk menggulingkan diktator Bashar al-Assad yang didukung Iran. Isolasi terhadap Qatar juga bagian dari strategi Mohammed untuk menekan tetangganya yang dikenal mendukung Ikhwanul Muslimin.

Sang pangeran juga terlibat perang di Yaman. Agresivitas yang dinilai menghabiskan anggaran, sementara sudah mulai meminjam pada IMF. Siapa pun bebas dan bisa membuat orakel atau nujum tentang Arab Saudi, tapi sejarah baru mulai digoreskan di sana oleh Putra Mahkota. Apakah yang tengah terjadi karena semata gelora muda sang pangeran atau memang visi dan aksi yang terukur, kita menunggu dengan harapan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima