ABS

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Indonesia
04/11/2017 05:31
ABS
(AFP/Isaac LAWRENCE)

AWAL Mei lalu, dalam kunjungan ke Hong Kong, Presiden Joko Widodo sempat bertemu konglomerat negeri itu, Li Ka-shing.

Seperti biasa Presiden mengundang pemilik CK Hutchinson Holdings Limited itu untuk berinvestasi di Indonesia.

Hutchinson dikenal sebagai operator pelabuhan besar di dunia yang mengelola 50 pelabuhan di 25 negara.

Li menyampaikan, Hutchinson sudah sejak 1999 berinvestasi di Indonesia.

Selain pengelolaan terminal peti kemas di Tanjung Priok, ada beberapa investasi infrastruktur dan telekomunikasi yang sudah dilakukan.

Setidaknya sudah US$7 miliar investasi ditanamkan Hutchinson di sini dan masih ada rencana investasi US$3 miliar yang akan dilakukan.

Hanya, Li menyampaikan harapan yang disampaikan Presiden sering berbeda dengan kenyataannya di lapangan.

Sepanjang 18 tahun mengoperasikan terminal peti kemas di Tanjung Priok, banyak gangguan yang harus diterima Hutchinson.

Bahkan, sekarang ini muncul desakan untuk mengusir Hutchinson dari Tanjung Priok.

Ilustrasi itu sengaja kita angkat untuk menunjukkan bahwa keinginan mengundang investor menanamkan modal di Indonesia tidak sejalan dengan praktiknya.

Sikap nasionalisme sempit dan bahkan xenofobia akhirnya membuat orang ragu untuk berinvestasi di Indonesia.

Padahal pengalaman Hutchinson, begitu banyak karyawan yang dikirim ke luar negeri untuk belajar menjadi operator pelabuhan peti kemas yang baik.

Mereka ingin agar Indonesia tidak kalah jika dibandingkan dengan Singapura, Tiongkok, Hong Kong, Korea Selatan, dan Jepang yang begitu efisien dalam mengoperasikan pelabuhan.

Remunerasi karyawan Hutchinson di Indonesia pun sudah diberikan yang terbaik.

Pengawai paling rendah gajinya mencapai Rp34 juta per bulan.

Seorang manajer bisa menerima gaji sampai Rp120 juta per bulan.

Pertanyaannya, apakah semua yang terjadi di lapangan disampaikan kepada Presiden?

Ataukah hanya hal-hal baik yang dilaporkan, sedangkan kekurangan disembunyikan di belakang?

Sungguh kita khawatir apabila sikap 'asal bapak senang' masih kuat ada pada kita.

Kasihan apabila Presiden hanya mendapatkan informasi yang baik-baik.

Akibatnya, Presiden bisa keliru dalam menyampaikan pesan dan ketika berbicara dengan pihak luar, Presiden menjadi kehilangan kredibilitas.

Presiden itu harus kita jaga wibawa dan kredibilitasnya karena ia simbol negara.

Pernyataan Presiden harus tepat karena akan menjadi acuan rakyat. Bahkan, peran pemimpin untuk mengajak dan menggerakkan rakyat dilakukan melalui ucapan.

Banyak hal yang masih harus kita kerjakan untuk membangun negara ini. Salah satu yang harus dijaga ialah kepercayaan.

Apalagi kita sangat membutuhkan datangnya investasi, baik dari dalam maupun luar negeri untuk membuka lapangan pekerjaan dan pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dalam dialog tentang prospek ekonomi 2018 yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia terungkap besarnya minat untuk menanamkan modal di Indonesia.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan, dalam tiga tahun terakhir ini ada rencana investasi lebih dari Rp8.000 triliun.

Sayangnya, realisasi dari rencana tersebut hanya sekitar 25%.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menjadi pembicara kunci mengingatkan kita untuk jangan sampai seperti Venezuela.

Nasionalisme yang berlebihan melahirkan sikap antiasing.

Nasionalisasi yang dilakukan Presiden Hugo Chavez pada awalnya tampak heroik, tetapi kini untuk memenuhi kebutuhan hidup saja mereka kesulitan.

Wapres mengingatkan sulitnya mengembalikan kepercayaan, termasuk dari para investor.

Begitu mereka menganggap Indonesia tidak menerapkan praktik bisnis yang benar, mereka tidak akan pernah mau membawa modalnya ke sini.

Untuk itulah, Wapres meminta kita tidak mudah melakukan nasionalisasi perusahaan asing atas nama divestasi.

Untuk meningkatkan produktivitas tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi juga harus cerdas.

Penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi penting agar kita tidak takut menghadapi persaingan.

Sekarang kita mendapatkan momentum baik untuk menarik investasi masuk ke Indonesia.

Indeks kemudahan berusaha di Indonesia, menurut Bank Dunia, berada di peringkat 72.

Ini meningkat 19 posisi dari setahun sebelumnya.

Pertanyaan sekarang, bagaimana menjadikan perbaikan peringkat itu tecermin dalam peningkatan investasi yang sesungguhnya.

Di sini dibutuhkan perubahan mentalitas dari kita semua.

Bahkan, bangsa Tiongkok yang komunis pun berani menerapkannya bahwa 'tidak usah terlalu peduli kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima