Menunggu 'Orang Baik'

Djadjat Sudrajat Dewan Redaksi Media Group
03/11/2017 05:31
Menunggu 'Orang Baik'
(thinkstock)

AMANAH itu sesuatu yang diberikan, dipercayakan. Ia bukan diminta, terlebih lagi direbut dengan lancung. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), salah satu arti ‘amanah’ ialah “sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain”. Itu sebabnya, mereka yang menyelewengkan apa yang dititipkan kerap disebut ‘tak amanah’.

Tak bisa dipercaya. Lalu, bagaimana jika kita mendengar komentar seorang yang telah ‘bertempur habis-habisan’ kemungkinan dengan cara culas dalam sebuah perhelatan politik--lalu ia menang dan dengan senyum mengembang bilang, “Jabatan ini amanah. Akan saya pertanggungjawabkan dunia dan akhirat.” Amanah dari siapakah? Dari pemilihnya atau dari ‘pemilik modal’?

“Orang culas, yang kemenangannya hasil merampok suara dan bilang ‘jabatannya itu amanah’, sekurangnya ia dua kali berbohong sejak ia bicara,” kata seorang pendakwah dalam sebuah ceramahnya di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebab, pertama amanah itu diberikan kepada orang yang bisa dipercaya. Kedua, ia sesungguhnya tidak diberikan amanah oleh pemilihnya, tetapi mengklaimnya.

Saya tercenung. Ia mengutip fisikawan jempolan Yahudi, Albert Einstein. “Barang siapa yang ceroboh akan kebenaran dalam hal-hal kecil, maka ia tak bisa dipercaya menangani hal-hal penting.” Saya sepakat. Suara kebajikan dari mana pun datangnya ia suara Tuhan yang ditiupkan lewat makhluknya!

Dalam urusan politik, saya masih terngiang kata-kata Anies Baswedan. "Orang jahat bisa berkuasa karena orang baik diam dan mendiamkan, Jangan menjadi orang yang hanya menonton, karena itu berarti Anda membiarkan orang jahat menang." Dalam konteks itulah Anies maju konvensi calon presiden Partai Demokrat pada 2013.

Tentu dalam konteks “mengalahkan orang jahat” pula ia menjadi relawan Joko Widodo-Jusuf Kalla, calon presiden-wakil presiden “orang baik”, yang berhadapan dengan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa. Kata-kata Anies bertuah. Ia pun diganjar kursi menteri pendidikan dan kebudayaan dalam Kabinet Kerja.

Namun, Juli tahun lalu mantan rektor Universitas Paramadina itu dicopot. Ia merespons dengan ringan. "Ya, namanya amanat. Amanat itu diberikan, dijalankan. Ditarik, ya dilepaskan. Saya menempatkan diri seperti Senopati. Raja memberikan perintah berangkat ke medan laga, di gelanggang pendidikan. Itu laga yang ditugaskan ke saya.

Ketika Senopati ditarik, ya Senopati harus siap. Siap dikirim dan siap ditarik. Enggak tanya lagi." Doktor politik lulusan Northern Illinois University, AS, itu, kemudian maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dan mengalahkan pasangan Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Syaiful Hidayat.

Saya kira Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno mau dipinang Partai Gerindra dan PKS untuk maju Pilkada, juga karena ia tak mau menjadi ‘penonton’ yang berarti “membiarkan ‘orang jahat’ menang”. Publik Jakarta menunggu duet intelektual-saudagar sebagai ‘orang baik’ itu.

Anies bukan mantan menteri pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ali Sadikin, ketika dilantik Bung Karno sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 28 April 1966, tepat satu bulan mengakhiri jabatan sebagai menteri koordinator maritim/menteri perhubungan laut Kabinet Dwikora. Usia Ali Sadikin waktu itu 39 tahun, kini Anies dan Sandi sama-sama 48 tahun.

Ali mau ‘turun gunung’ karena ditunjuk langsung Presiden Soekarno dan demi Jakarta yang waktu itu yang teramat kumuh. Di tangan jenderal marinir ini, Jakarta menjadi metropolitan modern. Wajar jika jejak Anies diikuti. Mantan Menteri Sumber Daya Mineral dan Energi Sudirman Said dan mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Djafar, keduanya menteri Jokowi yang terkena reshuffle bersama Anies, akan mencoba peruntungan pada Pilkada serentak 27 Juni 2018.

Mereka akan maju sebagai calon Gubernur Jawa Tengah. Jika tak ada aral, Pilgub Jateng sedikitnya akan dikuti tiga calon, yakni petahana Gandjar Pranowo, Sudirman Said, dan Marwan Djafar (PKB). Seru! Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal di era SBY, Lukman Eddy (PKB), juga akan maju sebagai calon Gubernur Riau di Pilkada tahun depan.

Bisa jadi akan ada lagi pensiunan menteri atau pejabat tinggi lain, yang berminat ‘turun gunung’ dalam pilkada. Jangankan mantan, menteri aktif saja seperti Khofifah Indar Parawansa (PKB), juga akan maju Pilgub Jawa Timur. Menteri Sosial ini nanti akan berhadapan dengan Saifullah Yusuf (juga PKB) yang kini Wakil Gubernur Jawa Timur. Saifullah juga mantan menteri pembangunan daerah tertinggal era SBY.

Mantan menteri ‘turun gunung’ memang bukan barang baru di era reformasi. Mantan menteri kehutanan era Gus Dur, Nur Mahmudi Ismail (PKS), orang pertama yang maju pilkada. Bukan kursi gubernur yang ia incar, melainkan Wali Kota Depok. Ia berhasil menjabat dua periode. Menteri pertanian era SBY, Suswono (juga dari PKS) juga maju dalam Pilkada serentak 15 Februari 2017 di Brebes, Jawa Tengah. Sayang ia gagal menjadi bupati.

Saya berupaya terus mengingat kata-kata Anies, bahwa ia maju pilkada, juga mestinya mereka yang maju Pilkada serentak 2018 dengan 171 pemilihan, mestinya sebuah upaya untuk menghindari “Orang jahat bisa berkuasa karena orang baik diam dan mendiamkan”. Dengan fakta lebih dari 350 orang kepala daerah terlibat korupsi, mestinya pilkada tahun depan sebuah upaya habis-habisan untuk tak ‘membiarkan orang jahat menang.’ Pertanyaannya, siapa ‘orang baik’ dan siapa ‘orang jahat’? Bukankah politik telah membaurkannya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima