Melompat Tinggi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
01/11/2017 05:31
Melompat Tinggi
(DOK BRI)

ANGGARAN Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 pekan lalu diterima Dewan Perwakilan Rakyat. Banyak yang melihat perselingkuhan yang dilakukan pemerintah dan DPR untuk mengesahkan APBN itu. Indikatornya ialah diberikannya anggaran lebih dari Rp600 miliar untuk pembangunan gedung baru DPR.

Kelemahan yang masih kuat pada diri kita ialah ketidakmampuan untuk menetapkan skala prioritas secara benar. Berulang kali disampaikan, termasuk oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, pembangunan gedung baru DPR belumlah mendesak untuk dilakukan sekarang. Anggaran negara sebesar Rp2.220 triliun lebih baik diprioritaskan untuk pembangunan yang memberikan efek pengganda atau multiplier effect terlebih dahulu.

Anggaran negara Rp2.220 triliun bukanlah anggaran yang besar. Kita dipaksa berhemat karena kemampuan penerimaan negara juga terbatas. Rasio pajak kita masih terpaku pada angka 11,5%. Dengan penerimaan pajak sebesar Rp1.609 triliun, terlalu besar pinjaman yang harus diambil kalau kita memaksakan anggaran di atas itu.

Padahal, DPR membatasi utang pemerintah tidak boleh melebihi 3% dari produk domestik bruto. Kalau kita lihat kehidupan rakyat, masih banyak yang harus ditanggung negara. Kelompok masyarakat miskin yang ikut Program Keluarga Harapan baru mencakup 6 juta keluarga.

Tahun depan jumlahnya baru akan ditingkatkan menjadi 10 juta keluarga dan itu pun baru mencakup sekitar 15% dari keluarga miskin yang harus ditanggung negara. Sungguh ironis ketika masih banyak warga bangsa yang harus kita pikirkan kehidupan mereka, para wakil rakyat menuntut kantor yang lebih bagus.

Padahal, tanggung jawab wakil rakyat untuk terlebih dahulu menciptakan kesejahteraan umum bagi rakyatnya di bawah. Tahun depan kita berharap pertumbuhan ekonomi bisa dipacu menjadi 5,4%. Angka pertumbuhan yang kita harapkan itu tidak bisa mengandalkan APBN. Kontribusi APBN kepada pertumbuhan hanya sekitar 15%.

Sisanya, kita harapkan bisa dikontribusikan investasi swasta, konsumsi rumah tangga, dan peningkatan ekspor. Apa artinya? APBN itu bukan jawaban untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kita tidak bisa menjadikan APBN satu-satunya jawaban untuk mencapai kemakmuran.

Oleh karena itu, kita jangan juga memaksa APBN dipergunakan untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Belum waktunya bagi kita untuk menghambur-hamburkan anggaran. Lebih baik APBN yang terbatas itu dipakai untuk membangun infrastruktur yang bisa menggerakkan perekonomian lebih besar.

Infrastruktur perlu didahulukan dibangun di daerah sentra produksi baik pertanian maupun industri agar produknya bisa dibawa ke pasar dengan biaya lebih efisien. Apabila biaya logistik bisa lebih efisien, pengusaha akan semakin terpacu untuk meningkatkan investasinya. Apalagi jika perizinan bisa lebih disederhanakan, ekonomi biaya tinggi bisa ditekan, urusan lahan bisa lebih dipermudah, arah pembangunan bisa diperjelas, dan tidak bertabrakan.

Dari investasi swasta itu, kita bisa berharap terbukanya lapangan yang lebih besar. Sekarang kita mendengar era disruption yang menghancurkan tatanan yang ada dan menciptakan sesuatu yang baru. Pengusaha Anthony Salim pernah menyampaikan disruption itu lebih banyak terjadi pada sistem perdagangan yang mengandalkan sistem daring.

Namun, kebutuhan masyarakatnya sendiri tidak pernah berubah. Perdagangan daring tetap membutuhkan produk baik itu produk pertanian maupun industri untuk menopang bisnis mereka. Atas dasar itu, kita tidak boleh lupa untuk tetap membangun pertanian dan industri manufaktur. Jangan sampai kita lengah dan akhirnya produk yang dibutuhkan perdagangan daring berasal dari impor.

Selain pembangunan infrastruktur dan industri, yang tidak boleh kita lupakan ialah memperhatikan kelompok masyarakat yang termarginalisasi. Kita tidak bisa menutup mata bahwa masih ada 40% warga bangsa ini yang sangat rentan. Mereka hidup miskin dan tidak mampu membiayai diri ketika jatuh sakit.

Kita memang sudah memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang memberikan jaminan kesehatan kepada kelompok itu. Akan tetapi, modal yang dimiliki BPJS masih terbatas. Tidak usah heran masih sering muncul kasus warga yang tidak terlayani dengan baik. Belum lagi ketika kita berbicara soal jaminan untuk memberikan kehidupan yang layak dan pendidikan yang bisa mengentaskan mereka dari kemiskinan.

Seperti sudah disampaikan, kemampuan negara untuk memberikan santunan bagi Program Keluarga Harapan masih sangat terbatas. Setiap keluarga tiap tahun hanya mendapatkan santunan sebesar Rp1,89 juta. Untung kita masih bisa menambahkan bantuan pangan nontunai sebesar Rp110 ribu setiap bulan, ditambah kartu Indonesia pintar untuk anak-anak dari keluarga miskin.

Pemberian santunan ini bukan hanya dimaksudkan agar mereka bisa hidup, melainkan juga diharapkan memperbaiki daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga kita harapkan kuat karena kontribusinya kepada pertumbuhan ekonomi sangat signifikan. Kalau pertumbuhan ekonomi kita berkutat di angka 5%, itu disebabkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga selama tiga tahun terakhir berada pada kisaran tersebut.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima