Mahatahu

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/10/2017 05:31
Mahatahu
(ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

PRESIDEN Joko Widodo tidak bisa menutupi kegeramannya terhadap banyaknya peraturan yang menghambat. Apalagi sekitar 42 ribu peraturan mulai undang-undang hingga peraturan di tingkat kabupaten banyak yang tumpang tindih sehingga saling menyandera di lapangan.

Apa yang disampaikan Presiden pada acara Rembuk Nasional 2017 di Jakarta memang bukan mengada-ada. Kasus itu begitu nyata terjadi dan menyulitkan pengusaha, masyarakat, dan pemerintah sendiri. Salah satu contohnya disampaikan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil. Petani tebu tercekik oleh peraturan yang mengimpit.

Gula produksi petani hanya boleh dijual ke Badan Urusan Logistik. Kalau Bulog tidak mau membeli produk mereka, petani harus mendapatkan sertifikat nasional Indonesia yang prosesnya sulit dan tidak murah untuk bisa menjual ke pasar. Kalau mereka tidak mengikuti aturan itu, ancamannya penjara.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati mengkhawatirkan pendekatan ancaman yang dilakukan negara terhadap warganya. Rancangan Undang-Undang Penerimaan Negara yang sudah masuk DPR, misalnya, penuh juga dengan ancaman penjara bagi masyarakat yang keliru mengisi surat pemberitahuan pajak sekalipun.

Kita tidak sedang membangun pemerintah kolonial yang menindas rakyatnya. Negara ini dibangun untuk tujuan membangun kesejahteraan bersama dengan semangat gotong royong. Apalagi fakta yang dihadapi sekarang ini, data jumlah pekerja formal di semua sektor menunjukkan penurunan.

Negara harus mendorong kegiatan ekonomi agar masyarakat mempunyai pekerjaan formal. Untuk itu yang perlu dilakukan ialah membuat peraturan yang jelas dan pasti, bukan malah membuat peraturan yang menakutkan. Mengapa negeri ini bisa mengalami inflasi peraturan?

Pertama, para pejabat kita selalu menempatkan diri sebagai penguasa. Yang membuat mereka itu kelihatan berkuasa ialah ketika bisa mengatur orang lain. Kedua, karena pemahamannya power is privilege, sering kali pejabat kita itu ingin dihormati. Mereka lupa akan peran sebagai pelayan masyarakat.

Tidak usah heran apabila pemeo yang kemudian berlaku ialah ‘Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?’ Ketiga, pejabat kita selalu menempatkan diri sebagai pihak yang paling tahu persoalan. Rakyat dianggap sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa dan harus ikut apa yang diputuskan pejabat.

Tidak usah heran kalau ada ungkapan ‘Sabdo pandito ratu’ karena pejabat menganggap dirinya mahatahu. Karena ia merasa mahatahu, banyak peraturan yang dibuat tanpa melalui konsultasi dengan pemangku kepentingan. Bahkan sering peraturan yang dikeluarkan satu kementerian tidak dikomunikasikan dengan kementerian yang lain.

Itulah yang menyebabkan banyak peraturan tumpang tindih dan yang lebih memprihatinkan saling meniadakan. Salah satu contoh kasus ialah peraturan menteri pertanian tentang impor susu. Kita tahu Indonesia bukan negara produsen susu. Tidak salah juga kalau pemerintah ingin melakukan swasembada susu.

Akan tetapi, aneh jika peraturan yang dikeluarkan mewajibkan industri pengolah susu harus menyediakan kredit ternak atau kebutuhan peternak sapi perah apabila ingin mendapatkan izin impor susu. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia memprotes aturan tersebut karena tidak masuk akal.

Tugas untuk memberikan kredit kepada peternak merupakan tanggung jawab pemerintah, bukan swasta. Kalau mau memperoleh dana untuk pemberdayaan peternak sapi perah, pemerintah bisa mengenakan bea masuk impor yang lebih tinggi. Hasil dari penerimaan bea masuk itulah yang dipergunakan pemerintah untuk membantu peternak sapi perah.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi dan perdagangan akhirnya disandera kebijakan pemerintah sendiri. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengakui terlalu banyaknya aturan dan ketidakpastian peraturan itulah yang menyebabkan arus investasi tidak seperti yang diharapkan.

Sekarang kita tinggal bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang kita harapkan ke depan? Semua meyakini tidak ada jalan lain untuk mencapai pertumbuhan yang lebih berkualitas dan memberikan kesejahteraan bagi banyak orang kecuali dengan mendorong pertumbuhan industri, termasuk di dalamnya industri ekonomi digital.

Mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengingatkan, dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa, Indonesia sangat potensial untuk membangun industri yang kukuh. Indonesia juga mempunyai kemampuan untuk membangun industri yang kuat itu. Yang dibutuhkan tinggal kemauan dan konsistensi serta harmonisasi kebijakan agar selaras dengan keinginan kita itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.