Diundang lalu Dilarang

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
24/10/2017 05:31
Diundang lalu Dilarang
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

SABTU pekan silam waktu Amerika Serikat, lima mantan presiden Amerika berkumpul di Texas A&M University, Austin, dalam tajuk One America Appeal. Para negarawan itu seia sekata menggalang dana bagi para korban topan yang memorak-porandakan negerinya. Jimmy Carter, Bill Clinton, George HW Bush (Bush Senior), George W Bush, dan Barack Obama terlihat ceria dalam kebersamaan.

Mereka, kecuali Bush Senior yang terkena parkinson dan duduk di kursi roda, semuanya menyampaikan sambutan singkat. "Kami semua di panggung malam ini tak bisa lebih berbangga atas respons rakyat Amerika Serikat. Ketika melihat tetangga, teman-teman, dan orang asing membutuhkan bantuan, rakyat Amerika bergerak," kata Obama.

"Hari ini rakyat AS tanpa memandang ras, agama, atau partai politik lebih mulia dari masalah kita," lanjut Clinton. Presiden Donald Trump yang ketika kampanye kerap menyerang Obama, saat itu memuji para mantan presiden AS sebagai para pelayan terbaik rakyat Amerika. "Upaya ini mengingatkan kita bahwa kita satu bangsa di bawah Tuhan.

Semua dipersatukan nilai-nilai dan pengabdian satu sama lain," kata Trump yang kerap dituduh mengidap 'Islamphobia'. Mereka tengah merekatkan tenun kebangsaan justru dalam penderitaan. (Jujur kebersamaan para mantan presiden AS membuat kita iri). Namun, apakah karena kondisi dalam negeri yang tengah berduka, Sabtu pekan silam waktu Indonesia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ditolak masuk Amerika? Rasanya mustahil.

Apa karena aktivitas Gatot sebagai pembesar TNI yang belakangan dinilai 'berpolitik' dan lebih condong ke kelompok tertentu yang kerap melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Joko Widodo? Ini juga, apa pula urusan negara itu? Panglima TNI diundang Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durforf Jr.

Gatot diminta menghadiri Chiefs of Defence Conference on Country Violent Extremist Organizations di Washington DC, 23-24 Oktober. Panglima TNI pergi atas seizin Presiden Joko Widodo. Namun, pihak US Custom and Border Protection melarangnya. Lalu, bagaimana pejabat tinggi TNI yang diundang sebuah acara pada saat bersamaan juga dilarang masuk?

Kita tahu pihak yang mengundang dan yang melarang ialah lembaga berbeda. Namun, bukankah keduanya dari Amerika? Karena itu, larangan tersebut tetap serupa letusan pistol di tengah konser musik klasik. Sangat mengagetkan. Terlebih pemberitahuan red notice sore itu justru dilakukan pihak maskapai Emirates yang akan membawa Gatot ke Amerika Serikat.

Yang aneh, pemberitahuan itu dilakukan setelah Jenderal Gatot, istri, dan rombongan berada di bandara dan telah check-in pula. Artinya, beberapa saat lagi mereka akan mengudara. Sungguh aneh! Bukankah Indonesia juga tak masuk tujuh negara muslim yang oleh Presiden Trump dilarang masuk Amerika Serikat?

Banyak pihak segera paham, tak mungkin juga tak ada alasan yang mendasarinya. Hanya, dalam ranah diplomasi, kadang memang tak semuanya jelas. Spekulasi publik tentu bisa bermacam-macam sebab menduga-duga memang wilayah yang luas tak bertepi. Apakah karena Gatot getol mengajak masyarakat untuk menonton film pemberontakan G-30-S/PKI, yang dalam peristiwa itu, seperti terungkap dalam dokumen rahasia, AS punya andil pertumpahan darah di Indonesia?

Lagi-lagi ini hanya spekulasi. Sebelumnya, beberapa kali Gatot pergi ke 'Negeri Paman Sam', terakhir Februari 2016. Ini artinya Gatot bukan jenderal yang terlarang masuk AS. Beberapa jenderal di awal reformasi memang dilarang masuk negeri itu dengan alasan melanggar HAM, khususnya pascajajak pendapat Timor Leste.

Sebuah tuduhan yang oleh para jenderal dinilai mengada-ada karena ada jenderal yang dilarang masuk AS, padahal tak pernah bertugas di Timor Leste. Lagi pula awal reformasi yang dilanjutkan jajak pendapat Timor Timur kini Timor Leste situasinya memang serba tak terduga.

TNI yang berpuluh tahun menjadi bagian dari kekuasaan harus mengubah dirinya secara cepat. Letjen TNI (Purn) Syafri Syamsuddin dalam sebuah perbicangan mengatakan TNI di masa awal reformasi seperti masuk awan cumulonimbus yang sangat mengerikan bagi para penerbang.

Lagi-lagi, Jenderal Gatot jauh dari persoalan serupa itu. Mungkinkah dalam waktu setahun ini ia mendapat catatan buruk di mata AS? Apa pula urusan AS menilai jenderal kita? Wakil Duta Besar AS, Erin Elizabeth McKee, telah pula meminta maaf atas insiden itu. "Kami sangat menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan (dalam) insiden ini dan kami mohon maaf," kata McKee kepada wartawan.

Tak hanya itu, Menteri Pertahanan AS, James Mattis, juga menyampaikan hal serupa kepada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, tapi lagi-lagi, keduanya tak menjelaskan kenapa Jenderal Gatot dilarang masuk AS, meski beberapa jam kemudian dibolehkan kembali. Maka, protes keras kepada AS pun harus segera dilakukan.

Kita sudah terlalu letih berspekulasi yang ujung-ujungnya membuat kita kian terbelah sebab kita tahu Jenderal Gatot memang dekat dengan kelompok yang selama ini kritis terhadap Presiden Joko Widodo. Namun, meskipun saya tak selalu sependapat dengan Jenderal Gatot, terutama kecenderungan ia 'berpolitik', apa pun AS mesti lekas menjelaskan kenapa Jenderal Gatot sempat dilarang terbang ke AS?

Penjelasan AS sangat penting agar tidak menjadi sumber spekulasi baru di Indonesia, yang pada gilirannya memakan energi tak sedikit sebab goreng-menggoreng isu memang tengah menjadi kegemaran bangsa ini sekarang. Sebaiknya pula Jenderal Gatot, jangan pula mengeluarkan jawaban yang sering ia lontarkan saat menjawab persoalan yang menjadi kontroversi, "Emang gue pikirin." Sebab terkesan meremehkan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima