Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi sebuah bangsa, tiga tahun merupakan perjalanan yang sangat pendek. Apalagi kita tahu membangun bangsa dan negara seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa boleh jadi merupakan pekerjaan yang tidak pernah akan berakhir.
Terlalu berlebihan apabila kita berharap pada tiga tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla seluruh persoalan bisa diselesaikan. Yang kita harapkan dari para pemimpin negara ialah meletakkan dasar yang kukuh bagi perjalanan panjang bangsa ini ke depan.
Dasar yang kukuh itu bukan sekadar ketersediaan infrastruktur, melainkan juga pendidikan yang berkualitas, kohesi sosial yang baik, sistem politik yang memperkukuh persatuan, dan sistem hukum yang menegakkan keadilan.
Inti dari semua itu, kita berharap hadirnya sosok pemimpin yang bisa menjaga values baik dari bangsa ini. Nilai-nilai tentang bagaimana mau peduli kepada sesama, nilai-nilai untuk bersikap jujur, nilai-nilai untuk mau berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara.
Belum tercapainya kesejahteraan umum seperti yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ialah karena melunturnya nilai-nilai kita sebagai bangsa. Sikap yang lebih kuat menonjol ialah sikap egois dan mementingkan diri sendiri.
Prinsip yang lebih mencuat ialah ‘me... me... me... more... more... more... saya... saya... saya... lagi... lagi... lagi...’. Tidak salah apabila tokoh pengusaha seperti Theodore Permadi Rachmat mengajak kita untuk membangun kembali nilai-nilai baik dari bangsa ini.
Paling tidak kita mulai dari tiap-tiap kita untuk mau menanamkan sikap less for self, more for others, enough for everybody. Kita ingin mengulangi pesan yang disampaikan Profesor Emeritus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Dorodjatun Kuntjoro-jakti tentang tantangan ke depan yang akan kita hadapi, yakni saat kita memasuki 2050 ketika jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 300 juta jiwa.
Tantangan dari bangsa ini ialah banyaknya warga yang akan tua sebelum kaya. Konsekuensinya mereka akan kesulitan untuk bisa menjalani hidup yang berkualitas. Ketika jatuh sakit, mereka tidak akan mampu membiayai pengobatan dirinya.
Sesuai dengan perintah konstitusi, negara harus hadir untuk menjamin dan melindungi kehidupan segenap warga. Pertanyaannya, dari mana negara mendapatkan modal untuk melindungi kehidupan seluruh warga itu?
Bagaimana negara mengompensasi longterm liabilities dengan longterm assets? Tugas pemerintah sekarang dan yang akan datang ialah membuat negara ini memiliki banyak aset produktif. Semua aset itu tidak harus dikuasai dan dikelola negara.
Swasta bisa dilibatkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Namun, aset-aset itu harus bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kita harus jujur mengatakan, selama 72 tahun kita merdeka tidak banyak aset yang kita kembangkan sendiri dari nol.
Aset-aset besar yang dimiliki negara hampir semua berasal dari hasil nasionalisasi. Ladang minyak di Riau kita ambil alih dari Caltex Pacific. Inalum kita dapatkan dari Jepang. Blok gas Mahakam diambil alih dari Total.
Sekarang kita sedang berjuang mengambil tambang Grasberg dari Freeport McMoran. Pekerjaan yang tidak kalah penting dilakukan ialah bagaimana membuat putra-putra Indonesia bisa benar-benar hebat.
Jepang, Korea Selatan, Tiongkok memulai dengan cara ATM amati, tiru, modifikasi dan akhirnya mereka bisa membuat karya besar dan memproduksi karya itu sebagai produk dunia.
Mereka memiliki aset-aset yang memang dibangun dari awal oleh putra-putra bangsanya. Itulah yang juga harus kita bisa lakukan, seperti ketika Bung Karno membangun Semen Gresik dan Krakatau Steel.
Tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK jangan hanya dipakai untuk melihat sebuah keberhasilan atau kegagalan. Kita harus melihatnya sebagai bagian dari proses untuk membuat kita menjadi bangsa dan negara yang hebat.
Kita tidak boleh cepat berpuas diri karena masih banyak pekerjaan besar yang harus kita selesaikan. Tingkat kepuasan dan kepercayaan masyarakat yang tinggi merupakan modal bagi kita untuk menapak lebih maju lagi.
Kita harus melihat dengan horizon yang lebih jauh ke depan karena tidak pernah ada yang berjalan linear. Perjalanan ke depan belum tentu lebih mudah karena banyak terjal yang harus dilewati.
Satu yang tidak boleh dilupakan ialah teruslah membangun komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kesejahteraan yang ingin kita capai tidak boleh hanya dirasakan segelintir orang.
Seluruh rakyat harus merasakan kemajuan itu dalam kehidupan mereka. Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah mengingatkan, usaha dan keberanian tidaklah cukup tanpa disertai penjelasan akan arah dan tujuan.
Pencapaian yang sudah bisa diraih dan perjalanan panjang yang akan kita sama-sama lalui harus selalu disampaikan kepada kepada seluruh rakyat. Itulah sebenarnya tugas dari pemimpin.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved