Bahasa, Maaf

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
20/10/2017 05:31
Bahasa, Maaf
(MI/Susanto)

BAHASA memang bersifat mana suka (arbitrer), tapi ia bagian dari kerapian pikiran sang penuturnya. Benarlah kata penyair Samuel Johnson, bahasa adalah pakaian bagi pikiran. Pikiran yang rusuh berkecenderungan mengeluarkan bahasa yang gaduh. Pikiran yang menyembunyikan ‘sesuatu yang ambigu’ akan memakai bahasa yang tak sepenuhnya eksplisit.

Biar ada ruang untuk berdebat di medan makna. Pidato Anies Baswedan pada pelantikan sebagai Gubernur DKI Jakarta, Senin (16/10), yang menggunakan kata ‘pribumi’ dan mengundang kontroversi dinilai menyimpan ‘pesan golong­an’. Ada pikiran yang tak tegak lurus dalam memberi pesan pada publik, khususnya warga Jakarta.

Itu dinilai berpotensi menambah luka baru dari luka lama yang belum sepenuhnya sembuh dari pilkada Jakarta. “Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme.

Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, Itikse atellor, ayam se ngeremme.” Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.

Sekilas memang terasa pidato itu penuh kemuliaan. Namun, ada konteks yang alih-alih menyatukan, sebaliknya justru membelah. Semula saya berpikir Anies menyadari kekeliruannya dalam menggunakan istilah (pribumi) menuai kegaduhan, saling mem-bully, dari yang bersetuju dan sebaliknya.

Dari perspektif historis, menurut sejarawan JJ Rizal, ini memprihatinkan. Ada pejabat yang tidak paham sejarah dan repotnya lagi, makin dia (Anies) menjelaskan makin orang tahu ia tidak mengerti sejarah. “Hal itu artinya menderita busung lapar sejarah,” kata JJ Rizal. ‘Pribumi’ dan ‘nonpribumi’ memang terminologi yang menyimpan luka.

Wajarlah reformasi yang menumbangkan Orde Baru mengoreksinya. Presiden BJ Habibie yang menggantikan Presiden Soeharto menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Nonpribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan.

Sebuah inpres yang amat terpuji dalam konteks menjaga kebangsaan. Saya berprasangka baik, Anies belum memahami aturan itu. Saya tetap menyimpan keyakinan, Anies akan meminta maaf kemudian. Di sana ada spirit pengelompokan, yang ‘pribumi’ sebagai ‘pemilik sah Republik’ dan ‘nonpribumi’ (meski tak terkatakan) ialah ‘menumpang’; dan ini tak baik bagi Republik.

Berpuluh tahun dikotomi ini merasuki kita. Yang tak sehat, nonpri seolah hanya dialamatkan hanya untuk etnik Tionghoa. Ada steriotipe yang sengaja dihidupkan Orde Baru, yang meracuni kita. Jika saja Anies mengatakan kesenjangan ekonomi di Indonesia tentu juga Jakarta seperti hasil penelitian Oxfam Internasional, tentu persoalan akan berbeda.

Kesenjangan ekonomi memang bom waktu yang amat serius. Sayang Anies memilih terminologi yang sensitif dan secara aturan dan hukum telah direvisi. Termasuk dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 6, tidak lagi mencantumkan syarat ‘orang Indonesia asli’ untuk calon presiden dan calon wakil presiden.

Diubah menjadi ‘Calon presiden dan calon wakil presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri’. Karena itu, saya membayangkan Anies yang cerdas dan santun dan sebagai tokoh intelektual yang menjadi inspirasi dalam ‘merawat tenun kebangsaan’, seperti judul bukunya, akan menulis permintaan maaf seperti ini.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, sebagai manusia tempatnya alpa, saya mohon dibukakan pintu maaf atas kata ‘pribumi’ yang saya ucapkan dalam pidato saya pada 16 Oktober yang lalu. Sungguh tak ada niat sama sekali untuk menambah luka. Mari seluruh warga Jakarta bergandengan tangan, bersama-sama membangun Jakarta untuk lebih baik.

Mari tenun kebangsaan ini kita kuatkan lagi. Cukup sudah energi kita tertumpah untuk pilkada tempo hari yang amat membelah. Modal kita yang paling berharga adalah jalan bersama menuju pulau harapan. Mari, saudara, mari hentikan perdebatan yang bisa kian melukai ini.”

Menurut hemat saya, hanya permintaan maaf yang bisa menurunkan tensi bahkan saya berasumsi akan menuai apresiasi di awal Anies-Sandi menjalankan mandat warga Jakarta. Kata maaf sebuah kesadaran bahwa manusia memang tempatnya alpa. Kata maaf di awal Anies memimpin sama sekali bukan hal buruk, justru menunjukkan kebesaran jiwa.

Maaf juga membuktikan ia patuh pada aturan dan hukum. Sebaliknya, mereka yang bersemangat melaporkan Anies ke polisi karena ucapan pribumi sebaiknya dihentikan. Akan kian panjang perseteruan ini. Kita semua, warga Jakarta, yang menuai kerugian. Saya sepakat dengan pakar hukum pidana Indriyanto Seno Adji, meski dari sisi etika pidato Anies tak pantas diucapkan, tidak ada pelanggaran pidana di situ.

Mas Anies, maaf itu keren. Kecuali Anda memang punya ‘agenda’ lain yang bukan untuk menyejahterakan warga Jakarta? Terlalu sayang Jakarta untuk tidak kita cintai bersama.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima