Jakarta Kota Kita

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/10/2017 05:31
Jakarta Kota Kita
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

PRESIDEN Joko Widodo Senin lalu melantik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno di Istana Negara. Pimpinan baru Jakarta mengemban tugas pembangunan ibu kota negara untuk lima tahun ke depan. Semua warga menunggu bagaimana Anies dan Sandi melengkapi kemajuan yang sudah dicapai gubernur-gubernur sebelumnya.

Pembangunan kota dan juga negara tidak bisa selalu dimulai dari titik nol. Pergantian pemimpin bukan berarti memulai lagi pembangunan dari awal. Pemimpin baru harus melanjutkan dan melengkapi hasil yang sudah dicapai pemimpin sebelumnya. Mengapa?

Karena masa kerja pemimpin di era demokrasi hanya dibatasi lima tahun. Paling lama seorang pemimpin pemerintahan di Indonesia hanya bisa menjabat selama 10 tahun. Selama masa itu tidaklah mungkin seorang pemimpin menyelesaikan semua persoalan kota. Sejak zaman Bang Ali, Jakarta sudah menetapkan dirinya sebagai kota metropolitan.

Apa artinya? Metropolitan tidak sekadar dilihat dari luasan kotanya. Yang tidak kalah pentingnya ialah kualitas dari warga yang tinggal di dalam kota tersebut. Warga metropolis haruslah berpikiran terbuka, modern, memiliki cita rasa budaya yang tinggi, serta kecanggihan dalam mengembangkan ide.

Kritik kepada Jakarta sering disebut sebagai kampung yang besar. Transformasi sosial dari warganya berjalan begitu lambat. Akibatnya yang lebih sering muncul ialah perbedaan, bahkan tidak jarang kita melihat tawuran massal. Bentrokan antarwarga bahkan sampai meminta jatuh korban.

Jakarta tidak bisa lagi dibangun seperti kota-kota lain di Indonesia. Seharusnya Jakarta difokuskan menjadi pusat keuangan dan jasa, di samping kota pemerintahan. Dengan jumlah penduduk mendekati 10 juta jiwa, tidak ada ruang bagi Jakarta untuk menjadi kota industri apalagi pertanian.

Dengan arah besar itulah kemudian kita membangun manusianya. Kita harus menyiapkan warga untuk bisa menjadi bagian dari pusat keuangan dan jasa itu. Ada keterampilan khusus yang harus dimiliki warga agar bisa mengambil manfaat yang positif. Kita bisa melihat transformasi yang dilakukan Shanghai, Singapura, Seoul, atau Kuala Lumpur.

Saat Jakarta sudah mencanangkan sebagai kota metropolitan, pada 1990 Shanghai masih merupakan kampung besar. Namun, dalam seperempat abad mereka berubah menjadi kota modern yang tidak kalah jika dibandingkan dengan kota-kota besar dunia lainnya. Yang luar biasa, transformasi menyentuh juga warganya.

Warga Shanghai yang dulu suka meludah di mana-mana, sekarang sudah tidak ada lagi. Warga kotanya telah menjadi warga maju dengan gaya pakaian yang modern, pikiran terbuka, berpengetahuan, dan sarat dengan imajinasi besar. Pemerintah kota membangun semua kebutuhan warganya.

Sungai Huangpu yang dulu kotor seperti Sungai Ciliwung disulap menjadi salah satu ikon kota. Semua rumah tangga harus mengolah air buangannya dan tidak bisa langsung membuang sesuka hatinya ke sungai. Gubernur Anies sudah mengidentifikasi empat persoalan besar yang menjadi perhatian warga Jakarta, yaitu kemacetan, perumahan, sampah, dan banjir.

Integrasi moda transportasi merupakan jawaban untuk memecahkan soal kemacetan Kota Jakarta. Kalau pemerintah provinsi bisa membuat satu kartu untuk seluruh moda transportasi, warga pasti akan mau beralih ke angkutan massal. Apalagi jika kualitasnya lebih baik dan pelayanan bisa sampai tengah malam.

Semua kota besar dunia memberikan subsidi transportasi kepada warganya. Warga kota bisa mempunyai kartu langganan yang harganya terjangkau dan itu berbeda dengan biaya transportasi yang harus dibayarkan pendatang. Model seperti itu tidak perlu didesain baru, cukup dengan mengadopsi apa yang sudah dilakukan kota-kota besar dunia.

Perumahan warga saatnya untuk ditata. Di samping subsidi biaya uang muka rumah murah yang akan diberikan pemerintah provinsi kepada warga, Jakarta harus didorong untuk tumbuh ke atas. Tidak mungkin terus dikembangkan landed house karena daya dukung wilayahnya sudah terbatas. Dengan ruang hijau yang diperluas, secara bersamaan kita menyelesaikan persoalan banjir.

Untuk masalah sampah, Jakarta tidak perlu malu untuk belajar ke Surabaya. Mereka mampu mengelola kota dengan lebih bersih. Bahkan sampai ke kawasan Tanjung Perak pun mampu dibuat hijau dan resik. Bahkan sampah kota bisa diubah menjadi energi listrik yang mencapai 4 megawatt.

Satu yang harus menjadi kesadaran Anies dan Sandi, mereka tidak mungkin bisa membangun kota sendirian. Mereka harus mampu merangkul seluruh warga untuk membangun kota secara bersama-sama. Apalagi di tengah sikap saling tidak percaya dan tidak saling menghormati yang begitu kuat di Jakarta sekarang ini.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.