ISU poros maritim dunia memang belum menjadi 'demam'. Namun, tak bisa kita mungkiri, berbagai kalangan kian ramai membincangkannya. Belum pernah urusan bahari, laut, maritim dibincangkan seramai kini. Ini tentu berita baik.
Buku tentang maritim juga mulai ramai diterbitkan, antara lain Kodrat Maritim Nusantara (Letkol Laut (P) Salim), Strategi Maritim pada Perang Laut Nusantara (Laksamana Muda Herry Setianegara), Poros Maritim (Bernhard Limbong), Poros Maritim dan Ekonomi Biru (SH Sarundajang). Kita berharap ke depan akan lebih banyak lagi buku ihwal laut ditulis. Laut dan samudra semoga tak lagi dipunggungi!
Keramaian itu membuktikan sebagai isu poros maritim dunia relatif menggoda. Di kalangan Angkatan Laut yang bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan dua pertiga wilayah lautan kita, misalnya, mulai tumbuh semangat baru. Sriwijaya dan Majapahit yang pernah digdaya di lautan 'dihadirkan' kembali sebagai penguat ispirasi. Budaya kontinental yang individualistik mulai dipertanyakan, budaya bahari yang penuh kebersamaan kembali digali.
Seminar bertema Sistem konektivitas maritim sebagai landasan strategis mewujudkan poros maritim dunia yang digelar Persatuan Purnawiran Angkatan Laut, di Jakarta (16/6), juga bagian dari mengingatkan pemerintahan Jokowi agar poros maritim tak sekadar isu.
Budayawan Radhar Panca Dahana yang bicara sejarah peradaban kontinental dan peradaban bahari menjelaskan para pelaut kita sejak ribuan tahun sebelum Masehi telah mengarungi samudra dengan panduan bintang. Sebelum bangsa lain melakukannya.
Budaya bahari ditandai oleh samudra: garis horizon yang lepas. Ini mengandung arti kesetaraan, kebebasan, kosmopolitan keterbukaan, interkultural, multikultural sebagaimana yang ada pada nilai-nilai utama yang ada di bandar-bandar seluruh Nusantara. Itu dulu, sebelum dihancurkan oleh penjajahan yang represif dan eksploitatif. Dan bergantilah budaya peradaban kontinental yang disimbolkan dengan ketinggian gunung, yang terbatas dan hierarkis.
Kembali ke budaya peradaban bahari, kata Radhar, ialah keharusan. Ia sesungguhnya kembali ke miliknya sendiri yang telah ribuan tahun hilang. Namun, ia perlu jihad akbar menaklukkan diri.
Akan tetapi, yang pincang tentang poros maritim dunia ialah tak adanya kerangka acuan terperinci. Eddy Prasetyono, salah seorang penggagas poros maritim, juga menyatakan keheranannya. Ia telah menanyakan soal cetak biru itu pada Kementerian Pertahanan, tapi belum ada jawaban yang memuaskan. Karena itu, seminar juga menawarkan rumusan strategi yang berjangkau jauh dengan mengacu konektivitas global.
Salah satu syarat negara maritim, kata penulis buku Influence of Sea Power upon History 1660-1783, Alfred Thayer Mahan, ialah punya angkatan laut yang kuat. Pertanyaan kita, model negara maritim seperti apakah yang kita kehendaki?
Saya kira, Jokowi harus secepatnya menugasikan para menko agar secepatnya membuat cetak biru poros maritim dunia. Tanpa cetak biru, poros maritim hanya akan jadi gagasan besar yang rapuh dan sporadis, serta pasti tak terukur secara finansial.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima