Mana Cetak Biru?

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
19/6/2015 00:00
Mana Cetak Biru?
(Antara)
ISU poros maritim dunia memang belum menjadi 'demam'. Namun, tak bisa kita mungkiri, berbagai kalangan kian ramai membincangkannya. Belum pernah urusan bahari, laut, maritim dibincangkan seramai kini. Ini tentu berita baik.

Buku tentang maritim juga mulai ramai diterbitkan, antara lain Kodrat Maritim Nusantara (Letkol Laut (P) Salim), Strategi Maritim pada Perang Laut Nusantara (Laksamana Muda Herry Setianegara), Poros Maritim (Bernhard Limbong), Poros Maritim dan Ekonomi Biru (SH Sarundajang). Kita berharap ke depan akan lebih banyak lagi buku ihwal laut ditulis. Laut dan samudra semoga tak lagi dipunggungi!

Keramaian itu membuktikan sebagai isu poros maritim dunia relatif menggoda. Di kalangan Angkatan Laut yang bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan dua pertiga wilayah lautan kita, misalnya, mulai tumbuh semangat baru. Sriwijaya dan Majapahit yang pernah digdaya di lautan 'dihadirkan' kembali sebagai penguat ispirasi. Budaya kontinental yang individualistik mulai dipertanyakan, budaya bahari yang penuh kebersamaan kembali digali.

Seminar bertema Sistem konektivitas maritim sebagai landasan strategis mewujudkan poros maritim dunia yang digelar Persatuan Purnawiran Angkatan Laut, di Jakarta (16/6), juga bagian dari mengingatkan pemerintahan Jokowi agar poros maritim tak sekadar isu.

Budayawan Radhar Panca Dahana yang bicara sejarah peradaban kontinental dan peradaban bahari menjelaskan para pelaut kita sejak ribuan tahun sebelum Masehi telah mengarungi samudra dengan panduan bintang. Sebelum bangsa lain melakukannya.

Budaya bahari ditandai oleh samudra: garis horizon yang lepas. Ini mengandung arti kesetaraan, kebebasan, kosmopolitan keterbukaan, interkultural, multikultural sebagaimana yang ada pada nilai-nilai utama yang ada di bandar-bandar seluruh Nusantara. Itu dulu, sebelum dihancurkan oleh penjajahan yang represif dan eksploitatif. Dan bergantilah budaya peradaban kontinental yang disimbolkan dengan ketinggian gunung, yang terbatas dan hierarkis.

Kembali ke budaya peradaban bahari, kata Radhar, ialah keharusan. Ia sesungguhnya kembali ke miliknya sendiri yang telah ribuan tahun hilang. Namun, ia perlu jihad akbar menaklukkan diri.

Akan tetapi, yang pincang tentang poros maritim dunia ialah tak adanya kerangka acuan terperinci. Eddy Prasetyono, salah seorang penggagas poros maritim, juga menyatakan keheranannya. Ia telah menanyakan soal cetak biru itu pada Kementerian Pertahanan, tapi belum ada jawaban yang memuaskan. Karena itu, seminar juga menawarkan rumusan strategi yang berjangkau jauh dengan mengacu konektivitas global.

Salah satu syarat negara maritim, kata penulis buku Influence of Sea Power upon History 1660-1783, Alfred Thayer Mahan, ialah punya angkatan laut yang kuat. Pertanyaan kita, model negara maritim seperti apakah yang kita kehendaki?

Saya kira, Jokowi harus secepatnya menugasikan para menko agar secepatnya membuat cetak biru poros maritim dunia. Tanpa cetak biru, poros maritim hanya akan jadi gagasan besar yang rapuh dan sporadis, serta pasti tak terukur secara finansial.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.