Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI itu tembok prasangka yang menjadi belenggu hidup bersama dirobohkan. Hari itu kehendak baik dihidupkan dan syak wasangka dihilangkan. Hari itu, di Yogyakarta, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meresmikan penggunaan nama Jalan Siliwangi dan Jalan Pajajaran di ruas-ruas jalan di jalur lingkar yang mengelilingi Kota Keraton itu. Sesuatu yang dulu musykil terjadi.
Seluruhnya ada enam nama jalan yang diresmikan di Yogyakarta, Rabu (3/10). Selain Jalan Siliwangi dan Jalan Pajajaran, ada Jalan Brawijaya dan Majapahit, serta Jalan Ahmad Yani dan Jalan Prof Dr Wirjono Projodikoro. Penamaan enam nama jalan itu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No 116/KEP/2017 tertanggal 24 Agustus 2017. Pertimbangan penamaan jalan demi membangkitkan semangat persatuan bangsa.
Sultan Hamengku Buwono X, sang Gubernur Yogyakarta, menuturkan pemilihan nama-nama jalan itu memiliki maksud simbolis yang berkaitan dengan memori kolektif masyarakat di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Menurut Ngarsa Dalem, peresmian nama-nama jalan itu di Simpang Empat Jombor, Sleman, merupakan simbol rekonsiliasi kultural. Pemulihan hubungan kebudayaan dua suku besar penghuni Pulau Jawa.
Nama-nama agung Sunda yang selama berabad-abad tabu di tanah Jawa kini ada di Yogyakarta. Begitu juga nama-nama yang merupakan representasi Jawa yang terhalang oleh jalan sempit memandang sejarah, seperti Majapahit dan Hayam Wuruk, bakal ada di tanah Sunda. Karena itu, kita berharap Jawa dan Sunda, puak besar secara jumlah itu, besar pula jiwanya. Besarlah kearifannya.
"Kita dipenuhi rasa dendam maupun kebencian yang akhirnya dalam perjalanan bangsa ini menuntut untuk melupakan sejarah masa lalu. Kesalahan di masa lalu perlu dimaafkan. Bagaimanapun, bangsa ini menatap ke depan tak perlu mengungkit masalah yang lalu. Mungkin dengan rekonsiliasi kultural seperti ini menjadi bagian melupakan sesuatu sebagai sejarah yang tak perlu diulang," jelas Sultan di sela-sela peresmian.
Selain Ahmad Heryawan, tokoh Sunda yang hadir antara lain Ridwan Kamil dan Popong Djundjunan atau Ceu Popong. Meskipun ada enam nama jalan baru, yang mempunyai arti rekonsiliasi paling tinggi memang Jalan Pajajaran dan Jalan Siliwangi. Selama beratus-ratus tahun ada ganjalan sejarah yang 'tidak membolehkan' nama-nama besar di Sunda ada di tanah Jawa, juga sebaliknya.
Sekadar membuka lipatan sejarah, cerita itu bermula dari Perang Bubat pada 1357, abad ke-14. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit (yang merepresentasikan suku Jawa) dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat (yang merepresentasikan suku Sunda).
Cerita bermula ketika Raja Hayam Wuruk hendak memperistri putri Sunda, Dyah Pitaloka. Maksudnya untuk merekatkan persaudaraan antara Majapahit dan Sunda. Rombongan calon mempelai wanita diiringi para pembesar Sunda pun sampai di Majapahit. Namun, Gajah Mada tak menghendaki pernikahan agung begitu saja berlangsung.
Ia berkehendak putri Dyah Pitaloka yang jelita dipersembahkan raja Sunda kepada Majapahit. Tentu keinginan itu ditolak para pembesar Sunda. Penolakan itulah yang menjadi alasan pasukan Gajah Mada menyerang orang-orang Sunda di Majapahit. Korban besar pun tak terhindarkan, terutama dari pihak Sunda.
Tragedi itulah yang dikisahkan dalam Kitab Pararaton dan Kidung Ahadana, tapi tidak dalam Kakawin Nagarakartagama. Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II (1990), Prapanca tak menuliskan dalam kakawinnya karena perang itu dianggap sebagai kegagalan politik Gajah Mada menaklukkan Kerajaan Sunda.
Telah 650 tahun lebih peristiwa itu terjadi. Era raja-raja telah berakhir ketika Indonesia berdiri sebagai Republik. Kita telah menjadi satu entitas bangsa. Luka masa silam bisa saja terus dipelihara, tetapi pasti akan menggerus masa depan. Karena itu, pantaslah kita mengapresiasi Sultan Hamengku Buwono X dan Ahmad Heryawan, tentu juga tokoh-tokoh lain dari kedua pihak, yang punya kearifan memutus rantai panjang kecurigaan dan kebencian, demi merekatkan persaudaraan.
Kita mafhum, muskillah bangsa dengan kekayaan etnik seperti kita steril dari gesekan, benturan, perseteruan, dan prasangka. Namun, ada banyak juga yang hubungan baik masa silam yang hingga kini terus dipelihara dan menjadi kebajikan nasional. Salah satu contoh perdamaian Aceh pada 2005.
Ia terjadi, salah satunya, karena memanfaatkan hubungan baik masa silam. Bahwa orang-orang Aceh punya hubungan baik dengan orang-orang Bugis. Karena itu, dalam proses perundingan perdamaian Aceh yang dimotori Wakil Presiden Jusuf Kalla, banyak dilibatkan orang Bugis. Ternyata berhasil.
Kita berharap rekonsiliasi Jawa-Sunda mengilhami kita untuk membuang jauh prasangka dan stereotip yang disematkan kepada pihak lain. Akhirnya, mari kita ucapkan, "Enyahlah prasangka dan kebencian yang menjadi belenggu kebersamaan dan kemajuan. Selamat datang jiwa-jiwa yang terus meneguhkan persaudaraan."
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved