Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI ini, 5 Oktober, tanggal kelahiran TNI. Pada tanggal itulah, 72 tahun lalu, Badan Keamanan Rakyat (BKR) diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Setelah itu berkali-kali berganti nama, kiranya nama Tentara Nasional Indonesia nama yang final. 'Apalah artinya sebuah nama' tidak berlaku di situ.
Nama itu final justru dalam makna substansial, di bawah supremasi sipil. TNI kembali kepada dirinya yang sejati, yaitu tentara pejuang, tentara rakyat, tentara profesional, yang steril dari politik praktis karena politik TNI adalah politik negara. Pernyataan itu kiranya perlu digarisbawahi kembali sebagai kado ulang tahun TNI, di tengah gairah Panglima TNI Gatot Nurmantyo berpolitik praktis, sampai-sampai harian ini menurunkan kepala berita agar sang jenderal pensiun dini.
Terus terang, Jenderal Gatot tidak terdengar mengunjungi asrama prajurit. Ia tidak terdengar memeriksa sampai sejauh mana profesionalisme militer prajurit berkembang di bawah kepemimpinannya. Sampai di mana kemahiran teknis-militer meningkat setelah merosot, dalam bahasa Jenderal Kiki Syahnakri, “Akibat terlalu lamanya TNI berada dalam kolam politik praktis.”
Yang terdengar ialah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkunjung dari kampus ke kampus, dari pesantren ke pesantren. Yang terdengar Panglima membaca sajak di acara sebuah partai politik. Sesungguhnya dan senyatanya ia berjalan kebablasan meninggalkan profesionalisme TNI.
Izinkan saya mengutip pandangan Jenderal Soemitro perihal kepemimpinan. Dalam rangka merayakan 70 tahun Jenderal TB Simatupang, ia menulis Ciri-Ciri Kepemimpinan Bangsa dalam Masa Transisi. Ada 16 ciri, tiga di antaranya 'ambisi', 'etika', serta 'tidak menggeser tanggung jawab dan mengorbankan bawahan'.
Katanya, orang-orang yang muncul perlu memiliki ambisi. Mereka harus berkemampuan memecahkan masalah di bidang masing-masing dan mendemonstrasikan watak dan karakter yang kuat. Mereka tidak boleh saling mendiskreditkan, saling ngrasani, apalagi saling 'menakuti'.
Dalam hal etika, menurut Jenderal Soemitro, kader pemimpin harus peka terhadap apa yang salah dan apa yang benar. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Akhirnya, membina budaya 'mengerti malu', mengerti 'menahan diri', dan lain-lain sifat pengendalian diri. Ia menilai rendah dan pengecut jika seorang pemimpin biasa menggeser tanggung jawab bila melakukan kesalahan.
Katanya, mulai tingkat jabatan tertentu hendaknya dibina kebiasaan untuk mengajukan permohonan berhenti apabila melakukan kesalahan yang prinsipiel sebagai bagian dari budaya bangsa. Tanggung jawab pemimpin bukan hanya untuk keberhasilan saja, melainkan justru lebih berani menampilkan diri bila terjadi kegagalan.
Semua pikiran Jenderal Soemitro itu disampaikan 27 tahun lalu, tetapi tetap relevan. Terlebih karena sang jenderal konsisten. Contohnya, ia mengundurkan diri dari jabatan Wakil Panglima ABRI dan Pangkopkamtib setelah pecahnya Peristiwa Malari.
Old soldiers never die.
Selain menimba pikiran-pikiran besar para jenderal senior yang tidak pernah 'mati', kiranya kado terbaik pada ulang tahun TNI hari ini ialah juga memeriksa agenda yang diperintahkan undang-undang, tetapi belum diselesaikan. Ia menjadi 'pending matter', yang bisa diartikan sebagai ketidakberanian negara memutus perkara.
Perkara itu mengenai kedudukan TNI yang menurut UU TNI, ‘pada masa yang akan datang institusi TNI berada dalam Departemen Pertahanan’. UU itu sedikit hari lagi berumur 13 tahun (diundangkan 16 Oktober 2004), tetapi tetap tidak jelas kapan yang dimaksud dengan frasa 'pada masa yang akan datang'.
Sejujurnya, ada 'kerisauan' TNI berada di bawah Departemen/Kementerian Pertahanan. Sampai kapan 'kerisauan' itu layak dipertimbangkan, terlebih ketika menhan tentara, bukan sipil. Faktanya hingga saat ini negara memilih berpura-pura tidak tahu. Negara menggantungnya begitu saja, tidak menjawab entah sampai kapan. Saya pikir hal itu bukan kado yang manis buat ulang tahun TNI.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved