Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
WALI Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo memberlakukan ketentuan unik, yaitu melarang tamunya membawa tas ketika bertemu dengannya. Larangan itu berlaku di kantor ataupun di rumah. Di pintu masuk menuju ruang wali kota, di kompleks Balai Kota Surakarta, disediakan loker untuk tamu menyimpan tas.
Ketentuan tamu dilarang membawa tas itu semula hanya untuk wali kota, lalu diterapkan juga untuk wakil wali kota dan sekda. Wali Kota Rudy, demikian ia dipanggil, tak berhenti sampai di situ. Ia kemudian memperluas 'moral' itu hingga ke tingkat kelurahan. Kepada lurah dan camat, ia berpesan agar berhati-hati menerima tamu.
"Tasnya suruh ditinggal saja." Pemicu lahirnya larangan membawa tas itu ialah KPK menangkap tangan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Wali Kota Surakarta mengatakan ia tidak takut karena tidak korupsi. Dalam bahasanya sendiri, "Tapi antisipasi diri dari jebakan orang lain itu perlu." Karena itu, ia tidak ambil pusing jika dinilai berlebihan.
Hemat saya, larangan tamu membawa tas itu justru pertanda Wali Kota Rudy rendah hati. Sebuah bentuk pengakuan bahwa manusia bukan malaikat yang suci selamanya. Karena itu, orang perlu mencegah diri dari godaan, perlu mengantisipasi diri dari jebakan orang lain. Apakah orang bersih bisa dijebak? Kiranya batu sandungan hanya untuk orang bersih.
Penjebak memanipulasi kalimat bijak, 'Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima'. Lagi pula, untuk apa menjebak orang kotor? Mereka tidak perlu dijebak. Koruptor merasa dirinya 'terlatih' menyiasati sandungan. Di situ ada tinggi hati, jemawanya kekuasaan. Lupa perihal 'sepandai-pandai tupai melompat...', akhirnya tersandung batu cadas OTT KPK.
Pertanyaannya, dari manakah kekuasaan dengan rendah hati datang? Saya mengira barangkali sumbernya pengertian yang mendalam bahwa orang tidak tahu apa yang terjadi 'besok'. Tidak terkecuali orang berkuasa seperti kepala daerah. Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, misalnya, hari itu masih ber-WA ria dengan seorang teman, seniman terkenal, sebelum ia ditangkap KPK.
Karena orang tidak tahu apa yang terjadi 'besok', antara lain berupa tamu membawa setumpukan uang valas di dalam tasnya, Wali Kota Surakarta Rudy memutuskan tamunya dilarang membawa tas saat bertemu dengannya. Pertama, bukankah menyuap dengan uang tunai telah menjadi modus untuk menghindarkan diri dari tertangkapnya aliran dana oleh PPATK? Padahal, uang tunai itulah bukti keras bagi KPK dalam OTT.
Kedua, yang lebih substansial, saya pikir Wali Kota itu bukan saja menghindari diri dari jebakan, tetapi yang lebih dalam, selaku orang yang berkuasa ia tidak ingin menguji diri sendiri. Ia tidak ingin berkata kepada penyuap, "Ujilah aku, orang suci ini, wali kota yang berintegritas ini." Ia justru memproklamasikan kepada publik, "Aku manusia biasa, yang bisa dijebak. Jangan bawa tas ketemu aku, wali kota."
Secara sempit, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo sedang menjaga dirinya sendiri. Secara luas, dapat dimaknai ia melaksanakan pencegahan korupsi, yang merupakan salah satu tugas pokok KPK. Sebuah tugas besar yang 'tenggelam' oleh operasi penindakan, di tengah kenyataan bahwa pencegahan korupsi belum menjadi kesadaran kolektif.
Korupsi ialah memperlakukan kepunyaan negara sebagai miliknya sendiri. Orang berusaha memaksimumkan kesejahteraannya sendiri. Kira-kira, orang boleh 'menyantapnya' tanpa memeriksa keberatan-keberatan hati nurani. Wali Kota Surakarta menunjukkan bahwa upaya memeriksa keberatan-keberatan hati nurani itu dapat diekspresikan dalam perkara 'kecil', yaitu melarang tamu ketemu dirinya membawa tas.
Tidak muluk-muluk. Anggaran negara untuk pencegahan korupsi itu cukup seharga membeli loker saja.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved