In Memoriam Pak Sabar

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
26/9/2017 05:31
In Memoriam Pak Sabar
(thinkstock)

IA bukan siapa-siapa dalam hierarki orang berkuasa. Ia juga jauh dari posisi orang ternama. Namun, sosok ini amatlah penting. Tanpanya warga bisa senewen dan lingkungan jadi terganggu.

Ia Pak Sabar, pengangkut sampah yang berdedikasi dan punya harga diri. Baru-baru ini, saya mendengar kabar dari beberapa warga Pak Sabar telah tiada. Tak ada yang tahu apa penyakitnya, kapan persis meninggalnya, sebab memang tak ada yang tahu di mana tempat tinggalnya.

Warga tempat kami bermukim, dulu, di Bojong Gede, Cibinong, Jawa Barat, hanya mengatakan Pak Sabar telah berpulang. Kabar duka yang biasa saja. Bulan ini ketika Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mewacanakan operasi tangkap tangan bagi warga yang membuang sampah sembarangan, saya teringat Pak Sabar.

Sosok yang setiap hari menghela gerobak sampah hingga kerap napasnya terengah-engah berkeliling dari rumah ke rumah. Usianya sekitar 55 tahun, tapi ia tak pernah berpantang bekerja walau panas dan hujan datang.

Pak Sabar selalu berkaus lengan panjang, memakai masker, bertopi, dan bersepatu bot karet. Ia selalu membawa sebotol susu sapi murni ukuran 600 mililiter yang digelantungkan di bagian luar gerobak.

Ia penting minum susu untuk menjaga kesehatannya. Saya lupa bertanya dari mana fulus untuk membeli susu sapi murni. Suatu hari saya melihat Pak Sabar tidak sabar lagi. Ia berseteru mulut sengit dengan seorang warga yang melempar sampah dari teras rumahnya ke arah bak penampungan sampah yang tengah diangkut isinya.

Cara warga membuang sampah seperti itu, kata Pak Sabar, sangat menghina dirinya. "Ini orang terhormat tapi tak bisa menjaga kehormatannya. Saya ini hidup bersama sampah setiap hari, tapi jangan Bapak memperlakukan saya seperti sampah," kata Pak Sabar dengan suara tinggi kepada seorang warga yang membuang sampah sembarangan itu. Saya yang tak jauh dari mereka berdua mendengar dengan jelas percekcokan itu.

Yang membuang sampah tak merasa bersalah. Saya baru tahu, Pak Sabar ternyata punya batas kesabaran, sosok yang punya prinsip. Ia akan menegur siapa saja yang tak memisahkan sampah organik dan nonorganik.

Pak Sabar pernah bilang, warga kompleks, orang-orang berpendidikan, tapi membuang sampah yang benar saja banyak yang tidak tahu. "Katanya, kebersihan sebagian dari iman!" kata Pak Sabar menyindir.

Pak Sabar tak jauh dari ribuan tukang sampah di negeri ini. Sama seperti Imam Syafii, tukang sampah di kawasan Guntur, Jakarta Pusat, yang aktivitasnya pernah ditayangkan stasiun berita BBC pada Januari 2012.

BBC waktu itu menayangkan hasil studi banding, petugas kebersihan asal London, Wilbur Ramirez, Inggris, ke Jakarta, berjudul Toughest Place to be a Binman (Tempat Paling Sulit Menjadi Tukang Sampah).

Ramirez takjub dengan 'Tukang Sampah' di Indonesia, Imam Sjafii yang bekerja seorang diri, berjalan kaki, memungut sampah dari tempat-tempat berlumpur; Ia bekerja dengan peralatan terbatas, kerja keras, tapi bergaji kecil, tanpa tersentuh jaminan kesehatan.

Potret buram pengelolaan sampah di Jakarta pun terlihat dunia. Tentu ini bagai bumi dan langit dengan Ramirez yang membersihkan sampah dengan peralatan modern. Padahal, ketika Bang Ali dipilih Bung Karno menjadi Gubernur DKI Jakarta, salah satu tugas penting ialah membersihkan Jakarta dari sampah.

"Apa lagi ndoro dan ndoro ayu sudah tahu, tidak boleh membuang sampah semau-maunya di pinggir jalan, tapi ndoro dan ndoro ayu toh menaruh sampah di pinggir jalan. Nah, itu perlu dihadapi orang yang sedikit keras, yang sedikit koppig," kata Bung Karno kepada Ali.

Namun, hingga kini sampah di Jakarta belum jua menemukan solusi terbaik. Percakapan kita tentang sampah ialah percakapan tentang keluh kesah. Indonesia darurat sampah.

Hasil riset Jenna R Jambeck (publikasi di www.sciencemag.org 12 Februari 2015) yang diunduh dari laman www.iswa.org pada 20 Januari 2016 menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, setiap hari sekitar 7.000 ton sampah dibuang ke sungai Ciliwung, dan yang bisa diangkut hanya 75%, 25% dibiarkan mencemari sungai dan laut.

Saya setuju, usulan pengelolaan sampah menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan kerja lurah/kepala desa dan juga camat. Lurah/kepala desa dan camat yang berhasil, artinya mereka telah mampu mengatasi sampah di wilayahnya.

Terlebih lurah dan camat di Jakarta yang telah menerima gaji cukup besar. Setiap melihat sampah di mana-mana, saya teringat Pak Sabar. Tukang sampah yang berdedikasi dan amat mencintai bumi. Saya kira ia orang yang mulia.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.