Dua Orang Terkenal

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
25/9/2017 05:31
Dua Orang Terkenal
(Thinkstock)

Dua orang terkenal 'bertarung' di Twitter perihal operasi tangkap tangan (OTT) yang menjadi modus operandi KPK dalam menangkap koruptor. Orang terkenal itu ialah Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR, dan Mahfud MD, pakar hukum tata negara yang telah mengenyam berbagai kedudukan di Republik ini.

Kedua orang terkenal itu dalam posisi bertentangan perihal OTT yang dilakukan KPK. Dengan argumentasi masing-masing, izinkan saya memadatkannya. Fahri menilai OTT itu 'tidak sah', sedangkan Mahfud menilainya 'sah'. Pendapat 'sah' atau 'tidak sah' itu kiranya semata mempertegas sikap masing-masing yang telah diketahui publik.

Fahri berada di dalam tubuh dan jiwa Pansus Hak Angket KPK, sedangkan Mahfud berada di dalam tubuh dan jiwa Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara yang menilai pembentukan pansus itu cacat hukum. Akan tetapi, pencarian dan pembuktian kebenaran dalam perkara OTT itu sepatutnya tidak berada di sisi kedua orang terkenal itu.

Terlebih melalui Twitter. Kata peribahasa yang pernah dikutip Aristoteles, 'Jabatan dan kehormatan adalah sama persis bagi orang yang baik dan yang jahat'. Bukan filsuf kalau lebih panjang lidah daripada pikiran, lebih panjang mulut daripada kearifan. Pandanglah kedua orang terkenal itu sebagai orang baik, tetapi urusan tetaplah sama bahwa pencarian dan pembuktian benar tidaknya penggunaan OTT itu bukan pada klaim mereka berdua.

Kebenaran patut diandaikan tidak berada di pihak mana pun yang tengah 'bersengketa'. Pertanyaannya, siapa gerangan pemilik kata putus itu. Badan manakah yang punya kedaulatan penuh untuk menjenihkan perkara yang buram? Jawabnya barangkali berada di puncak penentu keadilan (Mahkamah Agung) atau di puncak takhta penjaga denyut konstitusi (Mahkamah Konstitusi).

Karena itu, harus ada yang berposisi legal untuk membawanya ke hadapan mahkamah. Tentu saja mahkamah yang mana pun itu harus punya keberanian moral, bahkan keteguhan eksistensial untuk menghadapi penghakiman persepsi publik. Harus diakui OTT membuat publik semakin dalam percaya kepada KPK.

Persepsi publik amat yakin bahwa apa yang dilakukan KPK dengan OTT itu sangat benar. Senyatanya publik lebih memercayai KPK ketimbang lembaga negara lainnya, tidak kecuali MA ataupun MK, karena 'oknum' mereka pernah ditangkap KPK. Persepsi publik itu jelas mengandung heroisme terhadap KPK.

Kiranya tidak tampak di mata publik kemungkinan adanya malapraktik dalam KPK melaksanakan OTT. Ketika hal itu misalnya terbukti benar, publik menolaknya dan menilainya sebagai upaya melemahkan KPK, dan karena itu sang pemutus perkara pun dihajar publik. Padahal seyogianya muncul keheranan, kenapa KPK kian agresif menggunakan OTT itu justru di tengah perseteruan dengan Panitia Khusus Hak Angket KPK.

Tidakkah itu ekspresi psikologis 'membangun kepercayaan melawan kecurigaan'? Sebaliknya, sama persis, kiranya serangan terhadap OTT khususnya, sepak terjang Pansus Hak Angket KPK umumnya, juga boleh dibaca sebagai ekspresi di tubuh DPR untuk mengelak dari cengkeraman kuku tajam OTT.

Semua itu sepertinya pertanda 'sakit'. Karena itu, tidak bijak dibahas berpanjang-panjang. Serahkan kepada sang pengadil sekalipun mereka tidak sehat benar. Baiklah kembali kepada kedua orang terkenal itu. Saya lagi dan lagi ingin mengikuti pandangan Karl Mannheim yang membagi elite ke dalam dua kelompok, yaitu elite integratif dan elite sublimatif yang berbeda secara fundamental.

Pemimpin politik tergolong elite integratif, yang mengintegrasikan sejumlah besar kehendak perseorangan. Kaum intelektual tergolong elite sublimatif, yang mengadakan sublimasi dalam perenungan dan pemikiran. Keduanya punya tugas kolektif untuk mengembangkan jalan keluar yang produktif secara sosial.

Twitter, sang media sosial, tidak bakal dapat dipakai untuk mengembangkan jalan keluar yang produktif secara sosial, terlebih menyangkut pikiran-pikiran besar mengenai kenegaraan. Terlalu pendeknya ujaran di platform itu kiranya juga mencerminkan terlalu pendeknya pikiran. Karena itu, 'adu pikiran' di situ kiranya lebih menunjukkan 'pendeknya pikiran'.

Jika elite integratif dan elite sublimatif sama-sama 'terlalu pendek', dan di dalam yang terlalu pendek itu ada pula yang merasa 'berpikir panjang dan mendalam', saya pun minta ampun karena tidak terhindarkan kembali kepada kesimpulan bahwa kedua tipe elite memang sedang 'sakit'.

Tulisan ini juga ekspresi orang 'sakit' bila merasa superior. Sumber penyakit itu ialah bila tiap orang merasa superior terhadap orang lain, bila elite yang satu superior terhadap elite lain, bahkan terhadap semua elite.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima