Repot Top Up

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Indonesia
23/9/2017 05:31
Repot Top Up
(AFP/ludovic MARIN)

PERKEMBANGAN teknologi berjalan begitu cepatnya. Tidak terkecuali dalam bidang keuangan.

Sekarang ini nyaris tidak perlu lagi orang membawa dompet dan uang tunai ketika bepergian.

Semua pembayaran bisa dilakukan secara virtual dengan menggunakan telepon pintar.

Kemajuan yang paling dirasakan terjadi di Tiongkok. Bahkan sistem pembayaran di pasar tradisional pun sudah dilakukan dengan cara virtual.

Pedagang di pasar cukup menyediakan matrix barcode atau QR yang ditempel di kiosnya.

Konsumen yang berbelanja di tempatnya cukup mengarahkan telepon pintarnya ke arah QR itu untuk membayar belanjaannya.

Alibaba sebagai salah satu penyedia sistem pembayaran di Tiongkok tidak berhenti melakukan inovasi.

Melalui Alipay, teknologi terbaru yang mereka perkenalkan ialah pembayaran melalui deteksi wajah.

Layanan yang dilakukan Alipay tidak berhenti hanya di Tiongkok.

Mereka melakukan berbagai kerja sama untuk membangun sistem pembayaran di 70 negara.

Banyaknya warga Tiongkok yang bepergian ke luar negeri membuat banyak tempat perbelanjaan mau mengembangkan kerja sama pembayaran dengan Alipay.

Yang luar biasa Alibaba tidak melihat layanan pembayaran sebagai bisnis utama untuk mendapatkan keuntungan.

Sistem pembayaran yang mereka kembangkan hanya menjadi bagian untuk menopang sistem perdagangan elektronik yang lebih dulu dibangun pemilik Alibaba, Jack Ma.

Jack Ma cerdas untuk melihat bahwa satu kesatuan sistem mulai pengadaan, penjualan, hingga pembayaran merupakan bisnis yang sesungguhnya.

Semakin banyak orang bisa diajak masuk ke sistem besarnya, semakin besar uang yang akan berputar dalam sistem pembayaran Alibaba.

Dari sanalah kemudian keuntungan bisa ia peroleh secara optimal.

Alibaba tidak pernah menarik biaya kepada nasabah yang mau memasukkan dananya ke Alipay.

Demikian pula ketika nasabah melakukan transaksi dengan Alipay.

Biaya baru dikenakan ketika nasabah mau memindahkan keluar dana yang ada di Alipay.

Sekarang ini diperkirakan, ada sekitar 100 juta warga Tiongkok yang menggunakan Alipay.

Kalau saja mereka memasukkan dana 100 yuan per hari di Alipay, ada 10 miliar yuan atau sekitar Rp20 triliun dana yang berputar di sistem pembayaran Alibaba itu.

Kita sering diajari, untuk menjadi besar, kita haruslah memiliki pikiran yang besar.

Tidak mungkin kita menjadi besar kalau yang dipikirkan hanya yang remeh-temeh.

Itulah yang selalu diingatkan agar kita 'think-big'.

Untuk bisa berpikir besar, hal yang dibutuhkan ialah cara berpikir out of the box.

Kita sungguh dibuat geleng-geleng kepala ketika bangsa lain sudah melangkah maju ke depan, kita masih bicara soal urusan biaya untuk isi ulang (top up) kartu pembayaran elektronik atau uang elektronik.

Bank Indonesia sampai harus repot untuk memikirkan berapa biaya yang pantas dikenakan kepada nasabah untuk setiap transaksi yang dilakukan.

Kalau perbankan kita berpikir besar, pasti mereka tidak melihat biaya isi ulang itu sebagai sumber pendapatan yang penting.

Penyediaan infrastruktur untuk isi ulang merupakan bagian dari pelayanan yang seharusnya diberikan perbankan kepada nasabah.

Bank seharusnya berlomba untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para nasabah.

Kalau nasabah itu puas dengan pelayanan sebuah bank, pasti mereka akan memercayakan pengelolaan dana yang dimiliki kepada bank tersebut.

Semakin banyak nasabah yang percaya kepada bank itu, semakin besar dana yang akan dikelola dan dari sanalah bank kemudian menikmati keuntungan.

Bukan sebaliknya belum memberikan layanan apa pun sudah meminta biaya kepada nasabah.

Pembayaran tol yang sudah 10 tahun sering lebih cepat yang manual daripada elektronik.

Bahwa bank harus menanamkan modal untuk infrastruktur, itu memang merupakan kewajiban yang melekat ketika bank ingin memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah.

Aneh kalau direksi perbankan yang hebat-hebat itu kalah cara berpikir dengan Jack Ma.

Seharusnya sistem pembayaran itu menjadi kekuatan perbankan, bukan menjadi keunggulan perusahaan seperti Alibaba.

Perbankan di Indonesia akan tergerus oleh perkembangan teknologi keuangan kalau cara berpikirnya masih ortodoks seperti sekarang.

Jangan lupa disruption terhadap lembaga keuangan sudah di depan mata. Orang tidak butuh lagi bank dan uang tunai karena semua bisa diselesaikan melalui cara virtual.

Keuntungan dari sistem pembayaran yang baru ini bisa lebih besar daripada keuntungan bank karena direksi bank sudah seperti 'raksasa yang tidak bisa menari'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima