IPB

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Indonesia
09/9/2017 05:31
IPB
(ANTARA/Arif Firmansyah)

PRESIDEN Joko Widodo diundang untuk menyampaikan pidato pada Dies Natalis Ke-54 Institut Pertanian Bogor.

Dalam pidatonya Presiden menyinggung soal banyaknya lulusan IPB yang menjadi direksi badan usaha milik negara.

Kepada rektor, Presiden juga menyampaikan harapan untuk menghasilkan sarjana yang sesuai dengan perubahan zaman seperti sarjana manajemen logistik pangan dan manajemen ritel pangan.

Kritikan Presiden itu harus diterima secara terbuka oleh sivitas akademika maupun alumni IPB.

Sebenarnya, tidak ada yang baru dengan kritikan itu karena sejak lama pandangan seperti itu disampaikan pimpinan nasional sebelumnya.

Kritikan itu secara tidak langsung sebenarnya kembali lagi kepada yang menyampaikannya.

Sejauh mana sebenarnya pemerintah menempatkan pertanian sebagai sektor yang penting dan memberikan perhatian penuh pada pembangunannya.

Sejauh ini, baru dua Presiden yang sungguh-sungguh memperhatikan pembangunan pertanian.

Pertama adalah Presiden Soekarno yang menanamkan prinsip berdikari.

Bung Karno tidak hanya meletakkan batu pertama pembangunan kampus IPB 1952, tetapi juga mengirim banyak dosen untuk memperdalam ilmu pertanian di Amerika Serikat.

Tidak hanya berhenti mempersiapkan sarjana-sarjana pertanian, Bung Karno juga membangun balai-balai penelitian pertanian yang kemudian menjadi tempat berkiprah para sarjana untuk menghasilkan penemuan baru yang lebih unggul.

Bahkan Bung Karno membangun pabrik pupuk PT Sriwijaya pada 1959 dan PT Petrokimia Gresik, kemudian mulai memperkenalkan mekanisasi pertanian, serta membagikan ternak kepada masyarakat sebagai sumber protein dan pupuk organik.

Presiden Soeharto melanjutkan dasar yang telah diletakkan Bung Karno dengan membangun sistem pertanian.

Sarjana-sarjana IPB ikut serta merumuskan konsep Bimbingan Masyarakat dan Intensifikasi Massal untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Bahkan Menteri Pertanian Thoyib Hadiwidjaja yang merangkap Rektor IPB mewajibkan mahasiswa IPB untuk menjalani kuliah kerja nyata agar memperkenalkan modernisasi kepada petani di desa-desa.

Hasil perjalanan panjang pembangunan pertanian membawa Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984.

Pada masa kejayaan pertanian, kita tidak hanya mampu mengirimkan beras ke Filipina, tetapi juga bisa mengekspor sapi dan ayam.

Pertanyaannya, apakah kita masih memberikan perhatian yang luar biasa kepada pertanian? Dengan biaya riset yang hanya Rp10 triliun per tahun, kita tidak merangsang para ahli untuk melakukan penemuan baru.

Riset pertanian pun tidak diberi porsi yang mencukupi untuk bisa menghasilkan karya besar.

Tidak usah heran apabila banyak ahli pertanian Indonesia--termasuk dari IPB--yang kemudian bekerja seperti di Malaysia.

Mereka pergi bukan karena tidak cinta kepada negara ini, melainkan karena keahlian yang dimiliki tidak terlalu dihargai di sini.

Ketidakpedulian kita kepada pertanian paling mudah bisa dilihat dari kehidupan para petani.

Kesejahteraan petani semakin menurun. Apalagi kebijakan harga eceran tertinggi yang diterapkan pemerintah sekarang semakin menekan kehidupan petani.

Ketika harga jual dipatok sedangkan biaya produksi dibiarkan mengikuti mekanisme pasar, jangan heran apabila dua tiga tahun ke depan tidak akan ada petani yang mau lagi menanam padi.

Pemerintah tidak merasa prihatin ketika banyak petani memilih menjual lahan terbatas yang mereka miliki untuk beralih profesi.

Pemerintah tutup mata terhadap alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran yang terjadi di Pulau Jawa.

Tidak usah heran apabila jumlah petani semakin berkurang dan nyaris tidak ada anak muda yang mau menggeluti pertanian.

Seharusnya kita kembali mengingat pidato yang disampaikan Presiden Soekarno ketika mendirikan IPB.

Pidatonya begitu menggugah dan membangkitkan kebanggaan untuk membangun pertanian.

Yang ia sampaikan ialah bagaimana sebagai bangsa kita bisa mandiri dan kebutuhan pangan tidak bergantung kepada bangsa lain.

Kata Bung Karno, "Pidato saya ini mengenai hidup matinya bangsa kita di kemudian hari."

Tidak ada bangsa di dunia yang tidak memperhatikan kehidupan petani dan pertanian.

Uni Eropa mengalokasikan 42% dari anggaran mereka untuk sektor pertanian.

Mereka sangat khawatir ketika 50% angkatan kerja keluar dari sektor pertanian.

Dengan menetapkan common agricultural policy, mereka sepakat memberi insentif kepada masyarakat UE yang mau bertahan di sektor pertanian.

Tidak tanggung-tanggung insentif yang diberikan. Setiap petani bisa mendapatkan bantuan sampai 300 ribu euro atau sekitar Rp4,5 miliar per tahun.

Dengan inilah petani semakin terpacu meningkatkan produksi karena itu akan semakin memperbesar penerimaan dan otomatis meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tugas negara ialah bagaimana memacu setiap warganya untuk meningkatkan produktivitas.

Agar produktivitas itu bisa ditingkatkan, negara harus mempersiapkan 'lapangan permainannya'.

Kalau hanya 37% sarjana bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang digeluti di bangku kuliah, berarti kita ada masalah dengan 'lapangan permainan'.

Di sinilah dibutuhkan visi dari pemimpin, Indonesia seperti apa sebenarnya yang hendak kita bangun ke depan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima