Rohingya dan Kita (2)

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
05/9/2017 05:31
Rohingya dan Kita (2)
(Ilustrasi--seno)

PALESTINA dan Israel ialah bangsa yang berbeda dalam segala hal, kecuali dalam soal daging babi. Begitu tulis Taufiqulhadi dalam buku Satu Kota Tiga Tuhan. Kedua bangsa itu sama-sama tidak makan daging binatang berkuku empat. Itu sebabnya saking ketatnya aturan makan daging babi, dua tahun lalu militer Israel menghukum seorang serdadu yang kedapatan memakan daging babi.

Memang, pada akhirnya hukuman dicabut karena sang prajurit Israel ternyata keturunan Amerika yang tak paham ihwal aturan memakan daging babi. Contoh di atas hendak mengatakan, meski jurang perbedaan itu menganga teramat lebar di antara dua bangsa, ada satu yang bisa bertemu.

Kerap pula kesamaan dalam satu hal menjadi titik berangkat untuk mencari titik temu beberapa hal. Sesungguhnya berbeda sekalipun apa hendak dikata, karena memang dua bangsa berbeda, yang berseteru nyaris abadi. Sementara itu kita satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa (begitu kata Sumpah Pemuda).

Namun, kepemilikan akal hal penting itu seperti ada yang sengaja memudarkan diri untuk berbeda dalam segala hal. Kata Ernest Renan, tentang puak yang bersatu karena senasib dan sependeritaan masa lampau dan mempunyai cita-cita yang sama tentang masa depan. 'Cita-cita yang sama', itu jelas termaktub dalam UUD 1945; masyarakat adil, makmur, dan bersatu.

Namun, kita dengan sengaja seperti tengah memecah diri sendiri. Dalam segala hal, seolah kita harus berbeda, untuk banyak hal yang sama. Apa saja? Soal Rohingya, soal Palestina, soal Timur Tengah umumnya; juga soal China. Bisa dikata mereka yang berkonflik, kita yang berseteru. Begitu juga setiap hubungan Palestina vs Israel memanas, kita yang saling mengeras.

Suriah versus sekutu Arab Saudi berberang, kita juga yang juga jadi pemberang. Alangkah pandirnya kita! Bagaimana tak pandir, menggelikan, dan memalukan, Raja Salman berkunjung ke Indonesia, kita rebutan siapa yang paling pantas 'bersalaman'. Ada tulisan yang beredar gencar di media sosial bahwa Raja Salman akan membantu Indonesia ratusan triliun rupiah.

Namun, begitu Arab Saudi berinvestasi jauh lebih besar di Tiongkok, tak ada yang menjelaskan dari mereka yang memviralkan seolah Arab Saudi jadi 'juru selamat' kita. Media sosial seolah menjadi 'dunia sekali pakai'; ketika kata-kata boleh disusun sekehendak hati, setelah itu ditinggalkan begitu rupa. Tak peduli banyak pihak terluka.

Dalam soal Rohingya yang teraniaya di tanah airnya sendiri oleh tentara Myanmar, sebagian dari kita jadi ’mendadak Rohingya’. Kita rebutan memberi tahu yang paling peduli Rohingya, dan kita saling memaki. Mereka yang kita kenal santun dan terpelajar seperti menanggalkan bagaimana seharusnya berkomunikasi. Berita dan gambar rekayasa bertebaran.

Yang mengherankan, Tifatul Sembiring, yang notabene menteri komunikasi dan informatika masa SBY, tak bisa menahan diri menyebarkan gambar hoaks tentang Rohingya. Tifatul kemudian minta maaf, tetapi makian kata-kata kasar yang tak pantas pada politiksu PKS ini tak bisa ditahan. Tak sedikit yang mengungkit lagi 'doa politik' Tifatul di DPR, 16 Agustus lalu.

Juga, banyak yang mendadak jadi 'penasihat' Presiden Jokowi untuk segera menekan Myanmar, sambil tak lupa memaki-maki. Ada yang memuji Erdogan, Presiden Turki, begitu tinggi, seraya tak lupa memaki-maki
presiden negeri sendiri. Jokowi dinilai lamban, Erdogan dinilai cekatan mendesak Sekjen PBB Antonio Guterres untuk menekan Myanmar.

Padahal, ketika konflik tahun lalu meledak, seperti banyak diberitakan, Indonesia termasuk yang merespons cepat dan aktif. Bersama 11 lembaga swadaya masyarakat dari NU, Muhammadiyah, dan Walubi, pemerintah Indonesia membantu warga Rakhine di sejumlah tempat pengungsian. Kini Presiden telah mengutus Menlu Retno Marsudi untuk melakukan diplomasi dengan para penguasa Myanmar, juga bertemu dengan Sekjen PBB Antonio Guterres.

Ketika kekerasan atas puak Rohingya terjadi pada 2016, saya menulis di kolom ini dengan judul 'Rohingya dan Kita' (Media Indonesia, 29/11/2016). Itu sebabnya, dalam judul kali ini saya hanya menambahkan (2). Memang ada kesinambungan. Tahun lalu saja PBB menyebut tak ada penderitaan paling memilukan bagi umat manusia selain warga Rohingya di Myanmar.

Rezim Apartheid, kata PBB, masih kalah bengis. Padahal, kekerasan sekarang jauh lebih mengerikan ketimbang tahun lalu; banyak desa dibakar, 400 orang tewas, 60 ribu mengungsi. Kekerasan yang oleh militer Myanmar dimaksudkan sebagai balasan atas serangan gerilyawan Rohingya ke pos-pos keamanan perbatasan di Rakhine, Myanmar Utara, yang menewaskan 32 orang, pada 25 Agustus silam.

Kita sepakat bahwa kekerasan di Rakhine harus dihentikan. Kita sepakat penderitaan puak Rohingya harus diringankan bebannya. Kita sepakat Indonesia harus berada di depan dalam urusan di Rakhine karena ikut memelihara ketertiban dunia memang janji konstitusi. Akan tetapi, Myanmar ialah negeri berdaulat.

Terlebih kita sesama negara ASEAN, yang juga punya kedekatan historis, ketika negeri itu dipimpin Perdana Menteri U Nu. Cara diplomasi ialah cara terbaik daripada main gertak. Presiden Jokowi tak harus selalu dipuji. Dalam soal jebloknya hasil SEA Games yang baru usai, saya setuju Jokowi harus dikritik tajam.

Karena dua kali SEA Games di era Jokowi (2015 dan 2017), capaiannya kian buruk. Namun, untuk maki-maki segala urusan pada presidennya, yang hampir setiap hari, saya khawatir kelak kita harus belajar ekstra keras hanya untuk berkata-kata yang benar dan sederhana. Kita bisa belajar bersimpati bersama tanpa harus ‘inflasi’ makian. Jangan jadikan tragedi Rohingya justru membuat kita kian pandir.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima