SOS Olahraga

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/9/2017 05:31
SOS Olahraga
(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

WAKIL Presiden Jusuf Kalla kecewa dengan prestasi olahraga yang dicapai kontingen Indonesia di SEA Games Kuala Lumpur yang ditutup Rabu (30/8). Wapres tidak habis pikir bagaimana Indonesia yang begitu besar memiliki prestasi yang jauh di bawah dua negara kecil, Vietnam dan Singapura.

Sebenarnya, tidak ada yang mengejutkan dari kegagalan kontingen Indonesia di ajang SEA Games. Sebelum keberangkatan ke Kuala Lumpur, di kolom ini kita sudah mengatakan mustahil bagi Indonesia meraih prestasi tinggi. Keinginan Presiden Joko Widodo untuk menjadi juara umum hanya mimpi di siang bolong.

Mengapa? Karena persiapan atlet amburadul. Kita tidak mempersiapkan para atlet dengan baik. Bahkan sampai pesta olahraga berakhir, peraih medali emas tolak peluru putri Eki Febri Ekawati masih mengeluhkan uang akomodasi yang sudah delapan bulan belum dibayarkan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Menpora Imam Nahrawi meminta maaf dan akan segera mencari tahu penyebabnya. Namun, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan minta maaf. Ini menunjukkan kealpaan negara untuk mempersiapkan atlet agar bisa meraih prestasi tertinggi. Tidak salah apabila kondisi yang kita hadapi sekarang ini dikatakan darurat olahraga.

Pembinaan generasi muda ditangani orang-orang yang medioker. Mereka tidak paham esensi dari olahraga dan bagaimana olahraga itu seharusnya ditangani. Olahraga tidak mengenal namanya jalan pintas. Mereka yang lebih mau berkeringat, merekalah yang akan meraih hasil lebih tinggi. Proses menuju juara merupakan proses panjang dan melelahkan.

Latihan terus-meneruslah yang akan membawa ke kesempurnaan. Practice makes perfect. Prestasi Singapura bisa jauh lebih tinggi daripada kita karena olahraga diletakkan sebagai bagian dari budaya. Olahraga ditangani Kementerian Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda. Dengan menjadikan olahraga sebagai bagian dari kebudayaan, yang dituju bukan sekadar kemenangannya, melainkan juga pembangunan karakternya.

Ketika membangun Indonesia, hal yang pertama kali dilakukan Bung Karno ialah membangun jiwa para pemuda. Bahkan Presiden Pertama Republik Indonesia itu dengan lantang mengatakan, "Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Kita lihat bagaimana Bung Karno kemudian mengirimkan ribuan pemuda untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV 1962, putra-putra terbaik tidak hanya dilatih secara spartan, tetapi mereka juga dikirim berlatih ke luar negeri. Apa hasilnya? Indonesia tidak hanya sukses menjadi tuan rumah pesta olahraga bangsa Asia, tetapi juga menjadi peraih medali emas terbanyak kedua setelah Jepang.

Sekarang kita alpa untuk membangun karakter bangsa. Kita terjebak dalam pragmatisme ekonomi yang akut. Ukuran keberhasilan itu seakan-akan hanya uang. Tidak usah heran apabila kita lupa membangun fasilitas olahraga. Bahkan Gelora Bung Karno pun dikelompokkan sebagai badan layanan umum yang harus menghasilkan penerimaan untuk negara.

Cabang atletik yang menjadi penyumbang medali emas terbanyak di SEA Games harus membayar sewa stadion madya Rp5 miliar setiap tahun. Padahal, tidak ada pemasukan apa pun dari penyelenggaraan pertandingan atletik. Ketua Umum PB PASI Bob Hasan harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri minimal Rp2 miliar per bulan guna membiayai pemusatan latihan nasional.

Sekarang ketika Gelora Bung Karno sedang direnovasi untuk persiapan Asian Games 2018, para atlet atletik diminta keluar dari stadion madya. Pertanyaannya, apakah pemerintah memikirkan ke mana mereka harus pindah berlatih? Apakah pemerintah memikirkan di mana selanjutnya para atlet harus tinggal?

Tidak ada sama sekali perhatian dari pemerintah. Semua itu dianggap tanggung jawab induk olahraga. Ketika terjadi kasus keterlambatan pembayaran biaya akomodasi seperti dialami Eki Febri, Menpora masih berdalih pembayaran harus sesuai dengan aturan penggunaan anggaran negara. Sebegitu repotnyakah aturan pengeluaran anggaran untuk sesuatu yang sudah jelas peruntukannya?

Apakah benar tugas pembiayaan pembinaan atlet yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara dibebankan kepada ketua umum cabang olahraga? Tidak terbayangkan apabila negara ini tidak memiliki orang seperti Bob Hasan (atletik), Anindya Bakrie (renang), atau Titiek Soeharto (panahan) yang mau mengeluarkan dana untuk pembinaan olahraga.

Dengan anggaran negara yang hanya 0,08% untuk pembinaan olahraga, kita tidak perlu heran apabila prestasi olahraga Indonesia mencapai titik nadir seperti sekarang ini. Lalu, bagaimana kita pantas berharap ketika menjadi tuan rumah Asian Games tahun depan para atlet kita bisa berjaya?

Dengan waktu tidak sampai tahun tersisa, hanya keajaiban yang bisa mengubahnya. Namun, kalau cara pengelolaan negara sekadar memotong-motong anggaran, kita pantas bersiap bukan hanya akan gagal meraih prestasi besar. Kita pun tidak akan mampu menjadi penyelenggara yang baik. Semoga itu tidak pernah terjadi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima