MALAYSIA dan Indonesia adalah sejarah yang terluka. Malaysia terpersepsi sebagai saudara muda, murid, tetangga, bahasa lama, dan sikap jemawa.
Ia negeri yang dulu pernah kita pandang dengan mata sebelah, tapi dua dekade terakhir ini kita harus menatap dengan dua mata terbuka. Malaysia tak lagi berada di 'ruang belakang kita' seperti amsal yang pernah kita buat.
Entahlah Malaysia mempersepsikan kita. Sebagai negeri besar yang tak berdaya? Mungkin saja. Terlebih sejak memenangi sengketa pulau kecil Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional pada 21 Desember 2001, Malaysia seperti kian jemawa.
Blok Ambalat pun hendak ia caplok. Namun, jutaan tenaga kerja kita di kebun-kebun sawit dan rumah tangga Malaysia, juga perbedaan mencolok di perbatasan, membuat kita kerap tak bisa banyak bicara.
Karena itu, setiap kali muncul masalah dengan Malaysia soal psikologislah yang mengemuka. Memori lama 'Ganyang Malaysia' di masa Bung Karno jadi hidup kembali. Lihat saja ketika dua negara itu bertemu dalam laga olahraga, misalnya badminton atau sepak bola, kita boleh kalah oleh siapa saja asal tidak oleh Malaysia!
Juga soal Proton milik Malaysia yang kini riuh dibincangkan. Terlebih penandatanganan nota kesepahaman antara PT Adiperkasa Citra Lestari milik Hendropriyono dan Proton Holdings Bhd yang dipimpin Mahathir Mohamad di Malaysia disaksikan Presiden Jokowi, pekan silam.
Orang ramai berbincang ini tanda-tanda Proton yang tengah lesu di negeri sendiri bakal dilempar ke Indonesia jadi mobil nasional.
"Kenapa Proton dari Malaysia? Kenapa bukan Esemka yang dulu digadang-gadang Jokowi?" Orang ramai bertanya dengan kesal. "Kalau belajar sawit pada Malaysia masih masuk akal, tapi belajar otomotif, itu mengigau," kata ekonom Didik J Rachbini.
Terlebih, nota kesepahaman Proton diteken ketika kemarahan kita belum reda atas iklan alat pembersih Neato Robotics di Malaysia, Corvan Technology, yang menghina, Fire Your Indonesian Maid NOW! (Pecat Pembantu Indonesia Sekarang). Meski ini iklan swasta, kebijakan Malaysia secara keseluruhan sesungguhnya 'satu tarikan napas' belaka.
Buat saya, setelah Sipadan dan Ligitan lepas, saya tak lagi seemosional dulu. Ketika klaim demi klaim dilakukan atas batik, angklung, keris, badik, rendang, lagu-lagu, naskah-naskah kuno, dan beberapa tarian; saya jadi kasihan.
Malaysia kini sesungguhnya mulai kehilangan identitas kulturalnya. Bukankah kata John Naisbitt, dalam era global, negara-negara cenderung kian menunjukkan dirinya yang lokal? Lokalitas itulah miliknya yang paling berharga!
Sadar pula saya akan negeri sendiri yang kaya budaya, tapi kurang pandai merawat. Karena itu, setiap Malaysia berupaya 'mengganggu' kita, termasuk ketika merendahkan dengan sebutan 'Indon' yang membuat sejarawan Taufik Abdullah marah besar, juga iklan alat pembersih yang banal itu, saya bilang, "Terima kasih, Malaysia." Bukankah sejak klaim-klaiman itu rasa memiliki kita akan produk budaya mulai tumbuh?
Malaysia yang mendapat hadiah kemerdekaan dari Inggris pada 1957 memang belajar banyak dari kita: sastra, musik, pendidikan, pertanian, dan politik.
Itu dahulu! Kini lewat Proton, proyek Mahathir yang diluncurkan pada 1985 yang kini tengah lesu di negerinya, Malaysia akan 'mengajari' Indonesia soal otomotif? Jika benar, entahlah apakah saya masih bisa bilang, "Terima kasih, Malaysia."
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima