Proton Malaysia?

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
10/2/2015 00:00
Proton Malaysia?
()
MALAYSIA dan Indonesia adalah sejarah yang terluka. Malaysia terpersepsi sebagai saudara muda, murid, tetangga, bahasa lama, dan sikap jemawa.

Ia negeri yang dulu pernah kita pandang dengan mata sebelah, tapi dua dekade terakhir ini kita harus menatap dengan dua mata terbuka. Malaysia tak lagi berada di 'ruang belakang kita' seperti amsal yang pernah kita buat.

Entahlah Malaysia mempersepsikan kita. Sebagai negeri besar yang tak berdaya? Mungkin saja. Terlebih sejak memenangi sengketa pulau kecil Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional pada 21 Desember 2001, Malaysia seperti kian jemawa.

Blok Ambalat pun hendak ia caplok. Namun, jutaan tenaga kerja kita di kebun-kebun sawit dan rumah tangga Malaysia, juga perbedaan mencolok di perbatasan, membuat kita kerap tak bisa banyak bicara.

Karena itu, setiap kali muncul masalah dengan Malaysia soal psikologislah yang mengemuka. Memori lama 'Ganyang Malaysia' di masa Bung Karno jadi hidup kembali. Lihat saja ketika dua negara itu bertemu dalam laga olahraga, misalnya badminton atau sepak bola, kita boleh kalah oleh siapa saja asal tidak oleh Malaysia!

Juga soal Proton milik Malaysia yang kini riuh dibincangkan. Terlebih penandatanganan nota kesepahaman antara PT Adiperkasa Citra Lestari milik Hendropriyono dan Proton Holdings Bhd yang dipimpin Mahathir Mohamad di Malaysia disaksikan Presiden Jokowi, pekan silam.

Orang ramai berbincang ini tanda-tanda Proton yang tengah lesu di negeri sendiri bakal dilempar ke Indonesia jadi mobil nasional.

"Kenapa Proton dari Malaysia? Kenapa bukan Esemka yang dulu digadang-gadang Jokowi?" Orang ramai bertanya dengan kesal. "Kalau belajar sawit pada Malaysia masih masuk akal, tapi belajar otomotif, itu mengigau," kata ekonom Didik J Rachbini.

Terlebih, nota kesepahaman Proton diteken ketika kemarahan kita belum reda atas iklan alat pembersih Neato Robotics di Malaysia, Corvan Technology, yang menghina, Fire Your Indonesian Maid NOW! (Pecat Pembantu Indonesia Sekarang). Meski ini iklan swasta, kebijakan Malaysia secara keseluruhan sesungguhnya 'satu tarikan napas' belaka.

Buat saya, setelah Sipadan dan Ligitan lepas, saya tak lagi seemosional dulu. Ketika klaim demi klaim dilakukan atas batik, angklung, keris, badik, rendang, lagu-lagu, naskah-naskah kuno, dan beberapa tarian; saya jadi kasihan.

Malaysia kini sesungguhnya mulai kehilangan identitas kulturalnya. Bukankah kata John Naisbitt, dalam era global, negara-negara cenderung kian menunjukkan dirinya yang lokal? Lokalitas itulah miliknya yang paling berharga!

Sadar pula saya akan negeri sendiri yang kaya budaya, tapi kurang pandai merawat. Karena itu, setiap Malaysia berupaya 'mengganggu' kita, termasuk ketika merendahkan dengan sebutan 'Indon' yang membuat sejarawan Taufik Abdullah marah besar, juga iklan alat pembersih yang banal itu, saya bilang, "Terima kasih, Malaysia." Bukankah sejak klaim-klaiman itu rasa memiliki kita akan produk budaya mulai tumbuh?

Malaysia yang mendapat hadiah kemerdekaan dari Inggris pada 1957 memang belajar banyak dari kita: sastra, musik, pendidikan, pertanian, dan politik.

Itu dahulu! Kini lewat Proton, proyek Mahathir yang diluncurkan pada 1985 yang kini tengah lesu di negerinya, Malaysia akan 'mengajari' Indonesia soal otomotif? Jika benar, entahlah apakah saya masih bisa bilang, "Terima kasih, Malaysia."


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima