Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH lembaga think tank menilai para pemimpin negara anggota G20 tidak ambisius untuk mengakhiri ketergantungan pada energi fosil.
Senior policy advisor International Institute for Sustainable Development (IISD) Shruti Sharma mengatakan, sejak deklarasi kesepakatan bersama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada November 2022 sampai deklarasi KTT G20 di India pada bulan ini, kelompok negara tersebut tidak serius berkomitmen beralih ke energi baru terbarukan.
Menrutnya, selama 15 tahun terakhir, pemimpin G20 terus mengulang komitmen untuk reformasi subsidi fosil, tetapi dianggap gagal menghasilkan kemajuan terkait transparansi, jadwal, dan komitmen mengurangi subsidi energi fosil.
Baca juga : Lula Jamin Keamanan Putin, Tidak akan Ditangkap Jika Hadiri Pertemuan G20 di Brasil
Dalam data IISD, lembaga think tank asal Kanada itu mencatat, anggaran publik untuk penggunaan energi fosil negara G20 tembus US$ 1,4 triliun di 2022.
“Ketiadaan batas waktu yang jelas untuk mengakhiri subsidi bahan bakar fosil, mengurangi akuntabilitas dan keseriusan negara G20 untuk mewujudkan komitmen mengakhiri dukungan energi fosil," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (12/9).
Baca juga : Jokowi Bertemu PM Belanda Mark Rutte Bahas Teknologi Rendah Karbon
Presidensi G20 India menghasilkan sejumlah kesepakatan antara lain sepakat untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan global sebanyak tiga kali lipat menjadi 11.000 gigawatt (GW) di 2030 guna membatasi pemanasan global hingga 1,5°C.
Kemudian, memfasilitasi pendanaan rendah biaya untuk mendorong teknologi bersih dan berkelanjutan, serta mengurangi penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara sesuai kondisi masing-masing negara. Diperkirakan pembiayaan semua kebutuhan itu mencapai US$4 triliun di 2030.
Policy and Campaigns 350.org, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan internasional yang menangani krisis iklim juga berpandangan kesepakatan G20 di India tidak cukup untuk mengakhiri ketergantungan pada energi fosil tanpa ada realisasi pendanaan dari negara maju.
"Negara-negara kaya harus bertanggung jawab dan menyediakan pendanaan untuk mencapai komitmen peningkatan energi terbarukan hingga tiga kali lipat di 2030," ungkap associate director of Policy and Campaigns 350.org Andreas Sieber.
"Namun, G20 juga gagal menyebutkan apapun terkait pengakhiran fosil, bahkan batu bara. Ini sinyal buruk bagi dunia," tambahnya.
Direktur Asia Selatan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Vibhuti Garg menuturkan, meski kesepakatan KTT G20 di India itu menyatakan perlu meningkatkan energi baru terbarukan hingga tiga kali lipat, tapi hal itu dianggap hanya sebatas wacana tanpa ada komitmen serius dari negara-negara kelompok tersebut.
"Mereka hanya bakal memfasilitasi dan bukan komitmen untuk mencapai target tersebut," tudingnya. (Z-5)
Indonesia tancap gas dalam mendorong transisi menuju energi hijau dengan menjadikan teknologi HVDC dan pengembangan PLTS berkapasitas 100 GW sebagai pilar utama.
Penemuan lithium dalam mineral pirit (emas palsu) pada batuan serpih kuno bisa merevolusi industri baterai kendaraan listrik dan energi bersih.
Penerapan biodiesel B40 telah menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada tahun 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025, atau berkurang 3,3 juta kiloliter.
Arief mencontohkan keberhasilan pengelolaan sampah menjadi listrik di TPA Benowo, Surabaya. Sekitar 1.600–1.800 ton sampah per hari mampu menghasilkan listrik hingga 12 megawatt.
Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) atau Indonesian Geothermal Association (Inaga) berupaya mengakselerasi pemanfaatan energi panas bumi melalui penyelenggaraan The 12th IIGCE 2026.
Mereka berencana membangun pabrik produksi Dimetil Eter (DME) dengan kapasitas tahunan 10.000 ton.
Pengamat energi Elrika Hamdi menilai kinerja positif PGEO menunjukkan industri energi panas bumi di Indonesia semakin mendapat tempat dalam bauran energi nasional.
Pengembangan PLTS dapat difokuskan pada optimalisasi potensi yang telah ada, termasuk PLTS terapung di waduk-waduk strategis serta peningkatan kapasitas pembangkit yang telah beroperasi.
PLN EPI mendorong pengembangan gasifikasi biomassa sebagai solusi percepatan program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik interkoneksi.
Di Kalsel potensi EBT diperkirakan mencapai 3.270 mega watt yang berasal dari energi tenaga surya, bayu, air, biogas serta biomassa.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan menyampaikan alokasi program mandatori B40 pada 2026 ditetapkan sebesar 15,646 juta kiloliter.
Fokus utamanya adalah penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt, di mana 75% di antaranya ditargetkan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved