Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Rabu (13/1) secara resmi menambah dua guru besar di bidang ilmu psikologi. Prof Dr Achmad Syahid M.Ag dikukuhkan sebagai Guru Besar Pemikiran Islam, dan Prof Bambang Suryadi Phd sebagai guru besar bidang ilmu psikologi dan konseling.
Pada acara pengukuhan yang diselenggarakan di Auditorium Prof. Harun Nasution itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr Amany Burhanuddin Umar Lubis menyampaikan bahwa pengukuhan dua guru besar di bidang psikologi ini diharapkan dapat memberi khazanah keilmuan dan menambah optimisme tentang perkembangan pemikiran dan psikologi Islam.
Baca juga: Sekjen MUI: Kita Sudah Divaksinasi Sejak Kecil, tak Perlu Khawatir
Menurut Amany, kajian psikologi Islam terbuka luas untuk dikaji dan hasilnya akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Banyak tokoh muslim masa lalu yang menguasai banyak disiplin ilmu pengetahuan (polymath) yang berjasa di zamannya. Kiprah mereka di berbagai bidang keilmuan seperti Ibn Sina, Ibn Rush hasilnya dapat dirasakan di masyarakat hingga saat ini di bidang filsafat, matematika, kesehatan, dan lainnya," katanya.
Ke depan, harap Rektor Amany, akan bermunculan ilmuwan-ilmuwan polymath di Indonesia. "Adapun psikologi Islam diperlukan untuk melengkapi ketidakmampuan ilmu psikologi umum yang jarang menaruh akhlak dalam kajiannya," ujarnya.
Prof. Achmad Syahid dalam orasi ilmiah yang ditulisnya berjudul Manusia-Manusia Polymath menjelaskan bahwa dalam 50 tahun terakhir, istilah polymath digunakan dalam ratusan karya ilmiah. Jika dipetakan, istilah polymath untuk menyebut para raksasa ilmu pengetahuan yang lahir dalam empat arus sungai besar khazanah tradisi pemikiran.
Yakni, peradaban Yunani-Latin (Greeco-Roman civilization) peradaban Yahudi-Kristen (Yudeo-Christian civilization), peradaban Arab-Islam (Arabo Islamic civilization) dan khazanah peradaban Hindu-Budha. Keempat sungai besar peradaban itu kemudian mengalir bersama-sama ke peradaban Eropa Barat modern.
Di dalam khazanah tradisi pemikiran Arab-Islam, dijelaskan Achmad Syahid, tidak mengenal dikotomi konsep ilmu. Ia bermakna satu dan memiliki hakikat yang satu pula. Demikian juga tradisi khazanah pemikiran Yunani-Latin dan Yahudi-Kristen. Tidak mengenal batas-batas antara ilmu pengetahuan dan agama.
Asal dan tujuan puncaknya tunggal dari dan menuju Allah SWT. Hal itulah simbol manusia polymath di dalam khazanah intelektual Inggris; eruditus dalam khazanah Yunani-Latin, dan polyglot dalam khazanah Perancis.
Hanya saja, imbuhnya, sejak revolusi industri 1760 hingga 1970an dibangun penjara bagi pemikiran manusia yang bernama 'dikotomi' dan 'spesialisasi'. Antara 1850-2000 muncul era disebut the Age of Territoriality. Hal tersebut, ungkap Achmad Syahid, sejatinya bertentangan dengan karakteristik manusia, mahkluk canggih yang memiliki bakat bawaan bersifat many sided potential.
Sekadar menyebut nama al Kindi, al Razi, al Farabi, Ibn Khaldun, al Tabari, al Suyuti dan lain-lain menguasai puluhan ilmu sekaligus secara mendalam. Demikian juga al-allamah dalam ranah budaya Arab, Afrika Utara, Persia, Turki, Urdu hingga Melayu-Indonesia. Nama Gus Dur dan Cak Nur (Nurcholis Madjid), menurut Achmad Syahid, adalah seorang polymath alam al alamah. Termasuk para kyai di pesantren, para pendeta, uskup.
Mereka sebagai sumber pencerah pikiran umat. Karena berada di dalam puncak piramida masyarakat, mereka pusat informasi, sumber inspirasi, penggugah imajinasi, sekaligus penyerap aspirasi umat.
Dalam orasinya, Achmad Syahid menyebut manusia polymath tumbuh dalam institusi yang merawat diskursus seperti universitas, pesantren, madrasah. Institusi seperti itu dapat memecah berbagai kebuntuan sekaligus melunakkan isu-isu keras, sensitif, dan memicu sektarianisme, radikalisme, terorisme, otoritarianisme. Institusi seperti itu bisa memajukan moderasi dan kerukunan antarsesama umat manusia.(H-3)
Ia menjelaskan, upaya memperkuat kepercayaan publik dilakukan melalui peningkatan sistem pengawasan internal, penguatan kontrol terhadap hakim konstitusi.
Di tingkat nasional, Unika Atma Jaya menempati peringkat #4 PTS terbaik se-Indonesia dan peringkat #22 dari seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia.
President University mengukuhkan tiga Guru Besar baru: Prof. Anton Wachidin, Prof. Erwin Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar untuk perkuat riset nasional.
Kolaborasi antara lembaga peradilan dan perguruan tinggi dinilai semakin penting dalam memperkuat pemahaman konstitusi di Indonesia.
Bagi mahasiswa internasional, memilih kampus tidak hanya soal kualitas akademik, tetapi juga kenyamanan tempat tinggal dan jaminan keamanan.
Institut Teknologi Bandung (ITB) menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Prasetiya Mulya dalam penyelenggaraan Program Sarjana-Magister Terintegrasi (PSMT).
BINUS University mengukuhkan Prof. Rindang Widuri sebagai Guru Besar. Ia memperkenalkan konsep Audit 5.0 yang memadukan kecerdasan buatan dan nurani manusia.
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/Al) dan meningkatnya tekanan isu lingkungan kini mulai mengubah wajah dunia teknik sipil.
Universitas Mercu Buana (UMB) mengukuhkan dua Guru Besar perempuan tepat di Hari Kartini, simbol emansipasi dan kepemimpinan intelektual perempuan.
Universitas Pelita Harapan (UPH) mengukuhkan lima guru besar baru untuk memperkuat kontribusi akademik dalam menjawab tantangan strategis nasional.
Prof. Tanty Oktavia memaparkan pentingnya kolaborasi Human-AI dalam orasi ilmiahnya di BINUS University. Fokus pada sistem cerdas yang berorientasi manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved