Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT media sosial (medsos) Rulli Nasrullah memandang penting mewaspadai disinformasi (penyesatan informasi) di medsos untuk memprovokasi massa.
Disinformasi tersebut, kata dosen Magister Ilmu Komunikasi di IISIP Jakarta itu, dilakukan dengan cara memotong-motong berita atau fakta yang ada, kemudian ditambahi narasi tertentu untuk diarahkan kepada tujuan tertentu. "Untuk itu, masyarakat harus bijak dan tidak terburu-buru menelan informasi yang ada," kata Rulli dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/11).
Rulli melanjutkan, "Saya pikir memang perlu kebijaksanaan yang luar biasa untuk menyikapi realitas yang ada di medsos. Karena biasanya yang memprovokasi itu sering memotong-motong realitas yang ada, jadi tidak secara utuh informasi itu disampaikan."
Salah satu disinformasi yang kini sedang ramai ialah pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang Islam dan terorisme memunculkan gelombang kecaman yang luas di medsos. Bahkan, di negara-negera Islam, termasuk Indonesia, pernyataan itu memicu untuk memboikot produk Prancis dan berbagai provokasi lainnya.
Salah satu hal penting dalam menggunakan media sosial ialah emosi yang terkendali. Pasalnya, emosi merupakan salah satu hal yang dimainkan para provokator dan menjadi penyebab berkembangnya hoaks, radikalisme, dan terorisme di medsos.
Ketika melihat sebuah foto atau sebuah pernyataan, lanjut dia, jangan buru-buru langsung ditafsirkan. "Kita tunggu dahulu, ditanyakan dahulu kepada orang yang lebih ahli sehingga kita bisa melihat konten itu sebenarnya maksudnya seperti apa. Saya melihat ini yang dimainkan oleh pihak-pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab untuk memainkan isu-isu seperti itu," kata Rulli mengingatkan kepada pengguna medsos.
Baca juga: KLHK Catat Penurunan Hotspot Awal November Dibandingkan Tahun Lalu
Pengalamannya selama menjadi tim literasi digital di Kemenkominfo dan Kemendikbud, Rulli dan timnya telah banyak melakukan promosi dan diseminasi informasi. Akan tetapi, pada akhirnya itu semua kembali kepada kedewasaan masing-masing pengguna medsos.
Menurut dia, yang terkena hoaks dari disinformasi tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga seorang berpendidikan tinggi seperti profesor.
"Hal itu menjadi persoalan karena memang kembali kepada si penggunanya itu sendiri," katanya.
Di sisi lain, lanjut Rulli, media massa juga harus berperan dalam melawan informasi sesat.
Media sebagai pilar keempat demokrasi, kata dia, selain bertugas mengungkapkan kebenaran, juga harus menekan agar disinformasi, hoaks, dan berita yang misleading itu tidak sampai tersebar lebih jauh.
Selain itu, peran tokoh masyarakat juga penting untuk melawan hoaks dan provokasi di medsos. Para tokoh masyarakat harus memperhatikan apa-apa saja yang bisa dia publikasikan, apa-apa saja yang bisa dia sampaikan, agar jangan sampai memicu gerakan-gerakan destruktif lebih lanjut yang berhubungan dengan hoaks maupun radikalisme tersebut.
"Dalam teori komunikasi juga, public figure, tokoh masyarakat sering kali menjadi seseorang yang dekat dengan masyarakat itu sendiri sehingga semua pernyataannya kerap lebih dipercaya oleh masyarakat jika dibandingkan dengan informasi yang disebarkan oleh media," pungkasnya. (OL-15)
Psikolog Sani B. Hermawan mendukung PP Tunas (PP No 17 Tahun 2025) sebagai langkah darurat melindungi anak di bawah 16 tahun dari kejahatan digital.
PAPDI mengungkapkan misinformasi di media sosial menyebabkan cakupan vaksinasi campak 2025 turun drastis, menjauh dari target WHO 95%.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved