Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Sejumlah ilmuwan telah meneliti dampak menghabiskan waktu sendiri alias me time. Sebagian mengatakan menghabiskan terlalu banyak waktu sendiri dikaitkan dengan efek negatif, seperti kesepian dan tekanan emosional. Namun, penelitian lain mengaitkan menghabiskan waktu sendirian dengan hasil positif, seperti berkurangnya kemarahan, kecemasan, dan kesedihan.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari University at Buffalo (UB), secara unik mengevaluasi bagaimana menghabiskan waktu sendiri berhubungan dengan bagaimana perasaan orang tentang interaksi dengan orang lain pada hari yang sama, dan apakah kaitan ini bergantung pada alasan seseorang mencari kesendirian sejak awal.
"Kami menemukan bahwa orang yang mencari kesendirian karena takut atau tidak menyukai keadaan lingkungan sosialnya atau pengalaman interaksi sosial, akan mengalami kecemasan yang meningkat ketika berinteraksi dengan orang lain pada hari-hari ketika mereka mendapat lebih banyak waktu sendiri dari biasanya,” ujar Hope White, mahasiswa pascasarjana jurusan psikologi UB dan penulis pertama studi tersebut, seperti dikutip dari situs kesehatan Neuroscience, Sabtu (10/12).
“Kami pikir hal itu karena orang-orang seperti itu tidak menggunakan waktu menyendiri mereka dengan tujuan untuk pemulihan. Sebaliknya, mereka mungkin menghabiskan waktu sendiri untuk merenung," lanjutnya.
Penelitian yang diterbitkan di International Journal of Behavioral Development ini memberikan pengetahuan baru tentang potensi risiko dan manfaat kesendirian selama masa dewasa awal, sebuah tahap kritis dalam perjalanan hidup yang didefinisikan sebagai bagian dari kebebasan baru untuk menentukan bagaimana dan dengan siapa seseorang menghabiskan waktunya.
Studi ini melibatkan sampel yang beragam dari 411 orang dewasa muda berusia antara 18-26 tahun. Peserta menyelesaikan laporan harian di ponsel cerdas mereka tentang jumlah waktu yang mereka habiskan sendirian dan bagaimana perasaan mereka setelahnya ketika berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut memungkinkan tim untuk memeriksa perubahan waktu yang dihabiskan sendiri, sehingga mereka dapat menentukan dampak peningkatan waktu dalam kesendirian pada interaksi sosial.
"Menghabiskan waktu sendirian adalah hal yang umum sepanjang hidup, namun kita masih belum sepenuhnya memahami kapan, mengapa, dan untuk siapa hal itu dilakukan. Dengan mengetahui hal tersebut kita dapat mengetahui risiko dan manfaatnya,” kata Julie Bowker, Ph.D, profesor psikologi di UB College of Arts dan Sains, dan salah satu rekan penulis makalah. (M-3)
Keterlambatan bicara merupakan masalah yang dihadapi banyak anak usia dini di sekitar kita, namun sebagian besar orang tua tidak menyadarinya.
Hingdranata Nikolay menjadi orang pertama di Indonesia yang dilisensikan oleh Dr.Richard Bandler dan The Society of NLP untuk menjalankan program NLP berlisensi di Indonesia.
Kondisi dunia semakin cepat berubah, sehingga anak-anak akan menghadapi masa depan yang semakin menantang.
Negara harus hadir melindungi kesehatan masyarakat Indonesia tanpa kecuali, termasuk anak, melalui penerbitan regulasi yang berpihak pada kesehatan masyarakat.
Perubahan lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat dinilai menjadi faktor utama pemicu titik balik tersebut.
Dari sudut pandang evolusioner, katanya, berkedip adalah bagian dari respons melarikan diri atau melawan terhadap ancaman yang tampak.
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved