"INI soal kerja keras. Anda tidak tinggal di Liverpool karena cuacanya, tapi karena klub sepak bolanya," ujar arsitek Liverpool Juergen Klopp soal kemenangan 6-1 timnya atas Southampton pada perempat final Piala Liga Inggris di St Mary's Stadium, kemarin. Seperti biasa, juru takti asal Jerman itu memang selalu merendah saat ditanya soal keberhasilan timnya. Padahal, sejak ditukangi Klopp, permainan the Reds terus berkembang pesat. Sebelum the Saint, dua klub papan atas Inggris, Chelsea dan Manchester City, juga pernah menjadi korban keganasan gegenpressing yang diusung Klopp.
Kedua tim dipermalukan di depan pendukung mereka dengan skor 1-3 dan 1-4. Namun, sekali lagi mantan arsitek Borussia Dortmund itu tidak mau jemawa. Ia bahkan menolak membahas kemungkinan the Kop masuk final pada 28 Februari mendatang. "Pertama-tama kami harus bisa melewati Stoke (City). Saya pernah beberapa kali merasakan final. Itu tidak pernah mudah karena Stoke juga ingin maju (ke final) dan mereka pasti akan mengerahkan segala upaya. Itu juga masih, yaitu Januari. Jadi, kita harus sedikit bersabar," kata Klopp lagi. Alih-alih membahas peluang timnya ke final, Klopp lebih suka menyoroti penampilan dua pemainnya, Divock Origi, 20, dan Daniel Sturridge.
Menurut arsitek 48 tahun itu Origi masih harus lebih banyak belajar lagi, sedangkan untuk Sturidge, ia mengaku kini sudah lebih mengenalnya. "Itu penampilan yang bagus dari Origi, tapi dia masih muda dan harus banyak belajar lagi. Ia harus sabar," ujar Klopp. "Saya juga katakan kepada Sturidge selepas laga. Sekarang saya tahu mengapa orang-orang membicarakan dia. Saya tahu bagaimana hebatnya dia dua musim lalu. Masalahnya saya tidak tahu berapa lama dia bermain. Dia juga tidak melakukan pramusim yang sempurna," lanjutnya. Dalam duel di St Mary's Stadium tersebut, Origi mencetak hattrick, yakni pada menit 45, 68, dan 86.
Sementara itu, Sturridge menyumbang dua gol pada menit 25 dan 29. Satu gol Liverpool lainnya dicetak Jordon Ibe (73'). Satu-satunya gol balasan tuan rumah dicetak Sadio Mane (1') Sesuai dengan hasil undian, si Merah akan menghadapi Stoke City dua kali, yakni pada 4 dan 25 Januari tahun depan. Dalam laga lainnya, Everton akan menantang Manchester City.
Akui lengah Di sisi lain, arsitek Southampton Ronald Koeman mengakui timnya lengah setelah memimpin lebih dulu lewat gol cepat Mane. Itu sebabnya dia akan mengevaluasi taktik mereka sebelum menghadapi tim papan bawah Aston Villa di Liga Primer, akhir pekan ini. "Tentu saja itu bukan harus kami harapkan. Kami memulai laga dengan baik, tapi setelah itu kami membuat kesalahan. Dengan kualitas permainan seperti Liverpool, Anda akan dihukum jika membuat kesalahan," ujar Koeman dikutip Sky Sports.
"Kami tahu kami bisa bermain baik. Terbukti kami bisa membuat peluang dan mencetak gol. Persoalannya lebih pada keseimbangan tim antara menyerang dan bertahan. Ini tanggung jawab saya," tukasnya. Koeman dan para fan Southampton memang layak kecewa dengan kekalahan itu. Pasalnya, itu menjadi kekalahan kandang terbesar mereka sejak Maret 1959.