PANGERAN Ali bin Al Hussein dari Yordania secara resmi mengumumkan maju untuk menjadi calon Presiden FIFA menggantikan posisi Sepp Blatter saat pemilihan Presiden FIFA pada 26 Februari 2016.
Peluang Pangeran Ali besar karena Blatter dan Presiden UEFA Michel Platini kini sedang dalam masa skors oleh Komite Etik FIFA selama 90 hari.
"Krisis FIFA kali ini merupakan kesempatan untuk perubahan positif," kata Pangeran Ali dalam pernyataannya.
"Banyak ide-ide bagus telah berkembang terkait kondisi FIFA saat ini. Masa depan yang lebih baik hanya akan hadir jika ide-ide diwujudkan dalam tindakan dan itu hanya akan terjadi jika FIFA memiliki kepemimpinan yang tepat."
Khusus bagi Blatter dan Platini, meski skors ini bersifat sementara, tindakan itu nyaris memberikan sinyal berakhirnya rezim Blatter dan Platini di Eropa.
Komite Etik FIFA juga menskors taipan asal Korea Selatan Chung Mong-joon yang juga kandidat Presiden FIFA.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke juga telah diminta mundur dari jabatannya terkait skandal tiket.
Platini dan Chung mengaku mereka merupakan korban dari kampanye yang datang dari FIFA untuk menggagalkan upaya mereka menjadi Presiden FIFA.
"Pada dasarnya, skors itu merupakan upaya merusak reputasi saya dan FIFA juga telah melanggar peraturan-peraturannya sendiri," jelas Platini.
Legenda sepak bola Prancis itu kini sedang dalam penyelidikan terkait gelontoran dana senilai US$2 juta yang diterima dari Blatter pada 2011 untuk pekerjaan konsultasi beberapa tahun sebelumnya.
Meski dihantam badai, Platini tetap akan mendaftarkan berkas-berkas resminya untuk menjadi kandidat Presiden FIFA pada Kamis.
Sementara itu, di saat pertemuan olahraga di London, Chung mengatakan ia juga menjadi korban kampanye Blatter yang disebutnya seorang munafik dan penipu.
"Saya yakin bahwa keburukan akan memasuki cahaya dan kebaikan akan berjaya," ucap Chung.