Ketika Senja Menghampiri Pesepak Bola

Satria Sakti Utama
08/10/2016 12:30
Ketika Senja Menghampiri Pesepak Bola
(AFP/PIERRE-PHILIPPE MARCOU/ANTHONY DEVLIN)

TIDAK ada yang abadi di dunia ini. Begitu pun karier seseorang. Layaknya roda yang berputar, mereka kadang berada di atas dan tidak jarang pula di bawah.

Begitu pun kisah yang kini menghampiri Wayne Rooney. Setelah sempat menikmati masa-masa keemasan, mantan pemain Everton itu kini harus menghadapi kenyataan kariernya dipenuhi ketidakpastian, baik di Manchester United maupun timnas Inggris.

Mulai tersisih dari tim utama ketika usia emas belum terlewati merupakan mimpi buruk bagi setiap pesepak bola profesional. Namun, itulah konsekuensi. Dengan performa yang mulai menurun, Wazza--sapaan Rooney--mestinya sadar bahwa senja kala mulai menghampiri dirinya.

Itu memang terlalu cepat. Wajar pula penyerang 30 tahun itu pun tengah dihinggapi dilema meskipun ia tidak mengakui itu. Penyebabnya, sudah banyak contoh bintang-bintang besar yang kemudian tiba-tiba lenyap dari peredaran sebelum memasuki masa pensiun. Sebut saja Michael Owen, Joe Cole, dan Robinho.

Semula mereka digadang-gadang bakal menjadi bintang besar saat muda. Sejumlah nama legenda sepak bola pun kerap dibanding-bandingkan dengan mereka. Namun, takdir ternyata berbicara lain. Mereka sudah layu ketika belum benar-benar merekah.

Sebagai negara yang mengklaim diri sebagai asal mula sepak bola dan memiliki kompetisi mentereng, Inggris kerap menghasilkan sejumlah wonder kid.

Terlepas dari kegagalan tim 'Tiga Singa' mencetak prestasi selepas menjuarai Piala Dunia 1966, faktanya banyak pemain muda lahir dari 'Negeri Ratu Elizabeth' itu. Hanya, ironisnya, seperti setali tiga uang dengan prestasi tim nasional Inggris, banyak bintang muda sudah rontok sebelum berkembang.

Diserang cedera
Salah satu pemain muda itu ialah Michael Owen. Mantan pemain Liverpool, Real Madrid, dan Manchester United itu merupakan talenta muda yang paling bersinar yang dimiliki timnas Inggris pada akhir 1990-an. Ketika usianya baru menginjak 18 tahun, Owen bahkan menjadi dipuji setelah mampu mencetak gol indah di babak 16 besar Piala Dunia 1998 ketika melawan Argentina.

Tanda-tanda kebintangan putra Terry Owen itu memang sudah mulai tampak sejak ia berusia 17 tahun setelah mendapatkan tempat di tim utama Liverpool. Nama Owen semakin mencuat ketika mencetak gol ke-100 untuk the Reds--julukan Liverpool--saat usianya baru berusia 21 tahun.

Penghargaan pemain terbaik Eropa pun diraihnya pada 2001. Owen pun tercatat sebagai pemain Inggris pertama yang menyabet titel tersebut sejak Kevin Keegan pada 1979 silam.

Namun, takdir ternyata berkata lain. Kemampuan Owen dalam menjebol gawang dan kelincahan yang selama ini menjadi andalannya menurun drastis akibat cedera hamstring dan ligamen yang terus menggerogotinya. Puncaknya ialah ketika ia memutuskan hijrah ke Real Madrid pada 2004 silam.

Di klub raksasa Spanyol itu, Owen lebih banyak menghangatkan kursi cadangan. Tidak mengherankan jika dia hanya mencetak 16 gol dari 45 penampilannya. Lantaran tidak puas dengan permainan Owen, Madrid pun menjualnya.

Namun, performa Owen ternyata tidak juga membaik seusai ia memutuskan kembali ke Inggris untuk bergabung dengan Newcastle United, Manchester United, dan akhirnya menutup karier di Stoke City pada 2013 di usia 33 tahun. Sepanjang kariernya Owen mencetak 222 gol yang 158 di antaranya dibuat saat ia membela Liverpool ketika usianya baru 24 tahun.

Akan tetapi, catatan menterengnya di Liverpool diklaim menjadi bumerang bagi Owen. "Ini opini pribadi, saya menjadi rentan cedera karena terlalu banyak bermain dalam usia muda. Itu menjadi tanggung jawab manajer untuk mengistirahatkan para pemain muda, sekaligus memberikan peluang terbaik untuk karier yang panjang dan bebas cedera," ujar Owen pada akhir 2012.

"Ketika tampil pertama kali untuk Liverpool, saya siap secara mental. Saya langsung bermain bagus dan meraih sepatu emas Liga Primer di dua musim pertama saya. Lalu, pada malam yang dingin di Elland Road (kandang Leeds United) Maret 1999, badan saya membuat saya membayar karena terlalu sering memaksakan diri," imbuhnya.

Sebelum Owen, Liverpool memiliki talenta besar lain, yakni Robbie Fowler. Fan Liverpool bahkan menjulukinya sebagai 'Tuhan' karena kemampuannya yang di atas rata-rata. Pada saat berusia 22 tahun, Fowler tercatat telah mencetak 116 gol dalam 188 pertandingan untuk Liverpool sebelum cedera lutut memaksanya absen di Piala Dunia 1998.

Setelah itu, ia tidak pernah kembali menemukan permainan terbaiknya meski tetap beberapa kali masuk timnas Inggris setelah keluar dari Anfield. Meski sempat kembali bergabung dengan Liverpool pada 2006, ia hanya bertahan selama satu musim sebelum menutup kariernya di Liga Australia selama dua musim.

Dari ibu kota London, Joe Cole mulai mencuri perhatian sejak ia memulai debut profesionalnya bersama West Ham United. Selama lima musim bersama the Hammers, ia mencatat 150 penampilan dan rutin menjadi pilihan pertama sejak berusia 18 tahun.

Gelontoran dana melimpah dari Chelsea pada 2003 membuat Cole akhirnya merapat ke Stamford Bridge. Kariernya pun sempat meroket bersama Chelsea hingga cedera lutut mengganggu performanya pada 2008. Ia sempat dijual secara gratis ke Liverpool demi mengembalikan kondisi fisik. Namun, tubuhnya tidak mampu lagi mengikuti ritme tinggi Liga Primer Inggris.

Setelah sempat bermain ke tim kasta ketiga Coventry City, kini pemain 34 tahun itu menghabiskan sisa karier di klub tidak terkenal, Tampa Bay Rowdies, di Liga Sepak Bola Amerika Utara.

Selain nama-nama itu, masih banyak lagi para pemain yang sudah layu sebelum waktunya. Sebut saja Kieron Dyer dan Jermaine Jenas. Lagi-lagi cedera menjadi pengganjal untuk menorehkan tinta emas.

Dari luar Inggris, pemain yang memiliki karier terbilang singkat ialah Fernando Torres. Karier pemain asal Spanyol itu hampir saja tamat di 'Tanah Ratu Elizabeth'.

Torres mulai mencuat ketika menorehkan 91 gol untuk Atletico Madrid. Kariernya semakin moncer saat ia bergabung dengan Liverpool dan mencetak 81 gol dalam 142 laga.

Namun, peruntungan Torres berubah saat ia tergoda pindah ke Chelsea. Kini ia mencoba bangkit bersama tim masa kecilnya, Atletico Madrid.

Mutiara Leeds
Kembali ke Inggris, pecinta sepak bola mungkin tidak akan lupa dengan bakat para pemain Leeds United pada 1990-an, seperti Alan Smith dan Harry Kewell. Berkat bintang-bintang muda itu, Leeds sempat mendapat julukan the Young Guns.

Smith menarik perhatian banyak pihak setelah mampu mencetak gol di laga debutnya saat mengalahkan Liverpool 3-1 di Anfield pada November 1998.

Kariernya pun meroket dan ia diplot sebagai penyerang utama di bawah pelatih David O'Leary. Namun, krisis keuangan pada 2004 membuat Leeds terpaksa menjual seluruh bintang mereka, termasuk Smith yang memilih bergabung dengan Manchester United.

Di Old Trafford, harapan pesepak bola yang kini berusia 35 tahun itu ternyata pupus. Smith pun hijrah ke Newcastle United pada 2007 dan tidak pernah sekali pun mencetak gol selama empat tahun masa kariernya. (Berbagai sumber/R-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya