Rasionalitas dalam Sepak Bola

Adiyanto Wartawan Media Indonesia
16/6/2016 03:10
Rasionalitas dalam Sepak Bola
(AFP PHOTO / ANNE-CHRISTINE POUJOULAT)

SEPERTI pergelaran-pergelaran sebelumnya, turnamen Piala Eropa menjadi arena taruhan kecil-kecilan di kompleks tempat tinggal saya. Tiap orang punya tim favorit dengan alasan dan pertimbangan tertentu. Seorang kawan yang menjagokan Prancis, misalnya, berkilah skuat tim 'Ayam Jantan' tahun ini cukup kuat. Alasan itu tentu masuk akal. Sederet pemain yang berkiprah di klub-klub tenar Eropa memang masuk daftar skuat asuhan Didier Deschamps. Sebut misalnya Patrice Evra dan Paul Pogba (Juventus), Olivier Giroud (Arsenal), atau bomber haus gol Antoine Griezmann (Atletico Madrid).

Belum lagi faktor tuan rumah membuat Prancis memang layak difavoritkan menjadi kampiun tahun ini. Pertimbangan yang kurang lebih sama juga menjadi alasan bagi mereka yang menjagokan Belgia. Tim tetangga Belanda itu juga dihuni pemain-pemain berkualitas. Di barisan gelandang, misalnya, ada Eden Hazard (Chelsea), Kevin De Bruyne (Manchester City), Marouane Fellani (Manchester United), atau pemain berdarah Indonesia, Radja Nainggolan (AS Roma). Dalam sepak bola modern yang mengusung attacking football, peran barisan gelandang memang amat vital dalam menjalankan alur serangan.

Saya sendiri, yang biasanya memfavoritkan Inggris, tahun ini menyandarkan harapan pada Polandia. Bukan karena pertimbangan warna bendera yang hampir mirip dengan Indonesia, melainkan lebih pada kalkulasi rasio. Berdasarkan statistik yang saya googling, tim inilah yang paling agresif dalam mencetak gol. Selama kualifikasi, Robert Lewandowski dkk melesakkan 33 gol, tertinggi di antara 23 kontestan lainnya. Meski dalam laga perdana di Grup C, Minggu (12/6), mereka hanya menang 1-0 atas Irlandia Utara, secara statistik tim berkostum putih merah itu mendominasi permainan dengan penguasaan bola mencapai 60% dan akurasi umpan berkisar 88%.

Kalaupun cuma gol semata wayang yang tercipta dari kaki Arkadiusz Milik di laga tersebut, anggaplah itu luck (keberuntungan) bagi kiper Irlandia Utara, Michael McGovern, sehingga tidak sering memungut bola dari sarangnya. Ya, seperti halnya hidup, selain rasionalitas, dalam permainan sepak bola faktor keberuntungan kadang hadir di stadion. Sebagian dari Anda mungkin ingat bagaimana Dewi Fortuna hadir di Stadion Lisboa, milik klub Benfica, kala Yunani digempur hampir sepanjang laga oleh pemain-pemain Portugal pada final Piala Eropa 2004.

"Sepak bola memang tak sepenuhnya rasional," begitu kerap kali diutarakan juru taktik Arsenal, Arsene Wenger. Kembali ke soal tim favorit, yang agak mengejutkan bagi saya ialah tahun ini teman-teman tidak ada yang menjagokan Spanyol, sang juara bertahan. Pertimbangan mereka lagi-lagi masuk akal, skuat 'Matador' di Piala Eropa kali ini tidak setangguh empat atau lima tahun lalu.

Nah, bagaimana dengan tim favorit Anda? Tiap orang tentu punya pilihan, terserah saja mau pilih yang mana. Bebas saja. Toh, ini hanya hiburan dan tontonan. Kalau sampai ada yang melarang atau men-sweeping karena Anda mendukung tim Rusia yang (katanya) komunis, misalnya, itu baru namanya tak rasional. (R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya