Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PRANCIS dalam imajinasi saya, dulu, ialah hulu dan hilir yang padu. Ia 'mata air' sekaligus muara yang tak jauh. Prancis tempat bertemunya rupa-rupa manusia dan pikiran. Di sini yang akademik dan yang eksentrik, yang nasionalis dan fatalis, yang kanan dan yang kiri, yang agnostik dan yang beriman, bisa saling bertemu. Tanpa harus berseteru. Prancis penjajah yang banyak membangun koloni masa silam agaknya mampu menutup jejak perseteruannya dengan banyak bangsa, dengan prasetianya yang simpatik: Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Keadilan, Persaudaraan). Prancis kolonialis yang kemudian membangun citra tak brutal. Karena itu, sosok seperti Deng Xiaoping, Ho Chi Minh, Ayatollah Khomeni, dan Kim Jong-un punya nostalgia sendiri-sendiri tentang Prancis yang pernah mereka tinggali.
Prancis juga sastra dan sepak bola. Sastrawan Albert Camus, pemenang Nobel Sastra 1957, pernah menjadi penjaga gawang tim junior Racing Universitaire d'Algers (1928-1930). Jika saja fisiknya tak bertuberkulosis, mungkin karier bolanya bisa moncer. Namun, meski tak lama, ia merasa berutang pada sepak bola. "Jika bicara moral dan tanggung jawab, saya berutang kepada sepak bola," kata Camus. Pujian pada bola yang kerap dikutip para komentator. Pantaslah filsuf Jackues Derrida pernah bermimpi menjadi pemain bola profesional. Teori 'dekonstruksi' yang masyhur itu, kabarnya juga terinspirasi dari sepak bola. "Di bawah mistar, semuanya jadi tak berarti," katanya. Tanpa sepak bola, kata sastrawan Norwegia, Hendrick Ibsen, dunia jadi tak asyik.
Meskipun, seperti ditulis wartawan Raphael Gaftarnik, semua elite politik Prancis memandang rendah penggemar sepak bola. Bahkan, ketika Les Blues baru saja memegang trofi Piala Dunia 1998. Artinya, dua kali juara Piala Eropa (1984 dan 2000), tak mampu membuka mata para elite politik di negeri itu. Mereka hanya pura-pura mencintai bola. Akan tetapi, Piala Eropa 2016 yang digelar di 10 kota di Prancis tak mungkin ada tanpa dukungan politik. Di tengah bayang-bayang teror yang mematikan, pemerintah Prancis tetap menggelar olahraga terpopuler sejagat itu. "Kami tidak boleh takut. Segalanya siap untuk menjamin event ini," kata Menteri Olahraga Prancis, Patrick Kanner. Teror harus dilawan dan diikrarkan. Kenapa demi permainan si kulit bundar bernama Piala Eropa yang diperebutkan 24 negara, segalanya dipertaruhkan?
Kenapa Prancis berani melawan segala risiko: mengerahkan lebih dari 100 ribu polisi, dihadang berbagai pemogokan tenaga kebersihan serta buruh transportasi, juga diancam teror mematikan? Bukankah aksi teroris November tahun lalu yang mematikan 137 manusia masih menjejakkan trauma? Jawaban normatifnya tentu karena tanggung jawab. Namun, benar kata Ibsen, karena 'dunia tak asyik jika tak ada sepak bola'. Bisa jadi, menonton sepak bola adalah sebuah dejavu. Ia menegangkan ketika menuju proses menuju pemenang (dan tentu harus ada pecundang), tetapi ia menyatukan dunia. Kini selama sebulan dalam Ramadan, rupa-rupa manusia seluruh dunia bakal bersatu di depan layar masing-ma-sing.
Kita mencari 'keasyikan' pada Piala Eropa 2016 di Prancis atau Copa America Centenario di Orlando, Amerika Serikat. Sepak bola memang permainan itu-itu saja yang terus menjadi sihir yang tak pernah kehilangan pesona. Ia menggerakkan kegembiraan dan sensasi baru dalam setiap permainan. Islandia, negeri mini berpenduduk 330.000 jiwa yang pertama kali lolos Piala Eropa kali ini dengan menghem-paskan raksasa Belanda, ialah salah satu sensasi itu. Kita makin sensasi tersebut masih tersimpan di banyak permainan. Kita ingin menikmati bola dan terhibur. Seperti slogan perhelatan ini, Le foot comme on l'aime, sepak bola seperti yang kita suka. La France comme di l'aime, Prancis seperti yang kita inginkan. Mari kita inginkan dan nikmati. (R-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved