Teror Mengasyikkan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
10/6/2016 03:40
Teror Mengasyikkan
(AFP PHOTO / JONATHAN NACKSTRAND)

KEJUARAAN merebut Piala Eropa 2016 diselenggarakan mulai hari ini di Prancis, selama sebulan penuh, hingga 10 Juli. Pemerintah AS dan Inggris telah mengingatkan penggemar sepak bola perihal ancaman teror agar mereka waspada. Namun, siapa takut? Sepak bola merupakan teror itu sendiri. Jangankan pertandingan di level dunia, Persija bertemu Persib di Senayan saja memproduksi teror. Teror paling seru dan mengasyikkan terjadi apabila di lapangan hijau ada kekalahan atau kemenangan fantastis, yang sebelumnya tak terbayangkan. Denmark pernah mengejutkan sejarah, menjadi juara Eropa.

Apakah teror serupa terulang seperti Leicester City meneror klub elite papan atas di Liga Primer? Jawaban klise dan paling tidak bermutu ialah bola itu bundar. Siapa bilang gepeng? Ayak-ayak wae. Seorang pakar sepak bola berpandangan bahwa 'teror' pertama bakal terjadi di Grup C dalam pertandingan di hari pertama ini, di Kota Lyon. Terorisnya Polandia. Yang diteror Jerman. Kok bisa? Bisa sekali. Dalam babak kualifikasi, di Warsawa, Jerman ditekuk 0-2. Produktivitas Polandia meyakinkan untuk meneror gawang Jerman.

Di babak kualifikasi, Polandia mencetak lebih banyak gol daripada tim negara lain, yaitu 33 gol dalam 10 pertandingan. Penyerang Robert Lewandowski menyumbang 13 gol. Yang lebih menakutkan Die Mannschaft, Lewandoski tahu benar anatomi pertahanan Jerman. Buktinya, bersama klubnya Bayern Muenchen, ia telah menceploskan 41 gol. Apakah hari pertama ini hari kiamat bagi manajer Joachim Loew dan Manuel Neuer, salah satu kiper terbaik Eropa, bahkan dunia? Tidak. Jerman tetap diunggulkan menjadi juara grup. Sang teroris Polandia menempati peringkat ke-2. Jerman tetap diunggulkan menjadi juara Grup C, bahkan sampai ke final berhadapan dengan tuan rumah, Prancis.

Jika Jerman menang, terulanglah reputasi Spanyol, yaitu juara dunia sekaligus juara Eropa. Teroris lain yang perlu ditonton ialah Belgia di Grup E. Penggemar Liga Primer kiranya hafal penyerang Romelu Lukaku (Everton), serta dua pemain sayap Kevin de Bruyne (Manchester City) dan Eden Hazard (Chelsea). Lukaku mencetak gol terbanyak ke-4 (18 gol) dan mencetak 6 assist. Ia berniat pindah klub. Karena itu, ia mestinya tertantang untuk menunjukkan produktivitas menjebol gawang lawan agar klub besar terpincut. De Bruyne pemain yang meneror pasar. Wolfsburg membelinya dari Chelsea seharga 18 juta pound sterling. Padahal, dalam 2 tahun ia hanya 9 kali diturunkan bermain oleh Mourinho.

Pembelian itu dinilai terburuk. Selama 18 bulan di Bundesliga, De Bruyne memberikan 20 assist dan 13 gol. Manchester City membelinya dengan harga tiga kali lipat, 55 juta pound sterling. Hazard dapat bermain di sayap dan di tengah dengan teknik, kecepatan, dan kreativitas menggiurkan. Ia pernah diproyeksi bakal menggantikan Messi dan Ronaldo meraih Ballon d'Or. Ia masuk tim inti kala Chelsea meraih juara Liga Primer 2014/2015. Di awal musim, penampilannya memang buruk, tapi kemudian membaik menjelang akhir musim 2015/2016. Diperkirakan, Hazard pulih benar dalam Piala Eropa.

Teroris lainnya di Grup E ialah Zlatan Ibrahimovic. Dalam usia 34 tahun, ia kian menakutkan kiper lawan. Di Paris Saint-Germain, Ibra hanya perlu 137 pertandingan untuk mencetak 109 gol, melampaui rekor Pauleta yang butuh 211 pertandingan dalam 5 tahun. 'Sang teroris' asal Swedia itu termasuk yang bakal dibawa Mourinho ke Manchester United untuk meneror pelatih Manchester City, Pep Guardiola, yang demi Messi menganaktirikannya di Barcelona. Kiranya Piala Eropa ini menjadi yang terakhir bagi Ibra, sang superstar. Bakal lahir superstar baru, antara lain Paul Pogba, 23, di negerinya sendiri, Prancis, yang tidak kalah eksentrik. Nilai transfernya pun meneror pasar.
(R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya