Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TUJUH tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang manajer. Hal itu pun dirasakan arsitek Belgia, Marc Wilmots.
Itu sebabnya, setelah memimpin 'Setan Merah'--julukan Belgia--sejak 15 Mei 2012, arsitek berusia 47 tahun itu pun berencana menepi.
Ia ingin menjadikan putaran final Piala Eropa 2016 di Prancis sebagai panggung terakhirnya sebagai arsitek Diables Rouges.
Kesibukannya sebagai anggota senat dari Partai Mouvement Reformateur dalam dua tahun terakhir memang membuatnya tidak bisa lagi leluasa mengurusi sepak bola.
Ia pun dihadapkan dalam dua pilihan, politik atau sepak bola.
Pilihan memang sudah ditetapkan juru taktik kelahiran Dongelberg, Belgia, itu.
Untuk sementara waktu, ia sepertinya lebih condong menekuni dunia politik.
Meski begitu, ia tidak mau pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
Sebagai seorang atlet, ia pun bermimpi bisa menyimpan trofi di almari pribadinya.
Momen putaran final Piala Eropa 2016 sepertinya memang menjadi ajang yang tepat untuk meraih prestasi.
Karena itu, ia sangat berharap bisa mempersembahkan trofi untuk negaranya di ajang itu.
"Tentu saja saya ingin memberikan yang terbaik untuk negara saya. Ini kesempatan saya, mungkin yang terakhir," ujar Wilmots.
"Saya tidak pernah mengatakan akan tetap tinggal dengan tim nasional sampai 2018. Saya bisa saja mengaktifkan permohonan pengunduran diri saya kapan pun," ujar mantan gelandang Schalke 04 itu.
Sejak ditunjuk sebagai suksesor Roberto Di Matteo, Wilmots memang belum bisa memberikan gelar apa pun bagi negaranya.
Namun, dengan segenap potensi yang dimiliki skuatnya, sebuah trofi sepertinya bukan lagi sekadar impian.
Di bawah arahannya, Les Diables Rouges meraih peringkat kedua FIFA di bawah Argentina.
Bukan itu saja, mereka pun menjelma menjadi tim yang menakutkan.
Mereka bahkan digadang-gadang sebagai tim yang berpotensi mengangkat trofi Piala Eropa tahun ini.
Namun, hal itu tidaklah mudah karena lawan Les Diables Rouges di Grup E ialah tim kuat, seperti Italia, Swedia, dan Republik Irlandia.
"Tentu saja kami punya potensi (menjadi juara) itu. Tidak ada yang bisa menghentikan impian-impian kami," tegasnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved