Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BILA ditilik dari sejarah sebuah negara, Kroasia boleh jadi hanya negeri baru. Kroasia resmi menjadi sebuah negara seusai menyatakan lepas dari Yugoslavia pada 1991. Namun, dalam dunia sepak bola, Kroasia jelas tidak masuk kategori tim 'anak bawang'. Dengan bakat-bakat khas Eropa Timur, Kroasia sukses lima kali melaju ke putaran final Piala Eropa dalam enam pergelaran sejak merdeka, dua di antaranya mencapai babak perempat final. Tidak hanya sampai di situ, tujuh tahun setelah kelahirannya, skuat Vatreni julukan Kroasia mampu membuat kejutan dengan meraih posisi ketiga di Piala Dunia 1998. Striker mereka, Davor Suker, menyabet penghargaan sepatu emas. Bisa jadi kejutan yang mereka buat pada 1998 lalu itu kembali berulang pada pergelaran Piala Eropa 2016 saat ini. Maklum, Kroasia berhasil lolos ke final Piala Eropa kali ini dengan torehan statistik yang cukup baik. Tim ini hanya menelan sekali kekalahan dan duduk di peringkat dua babak kualifikasi.
Salah satu kekuatan skuat asuhan Ante Cacic ialah deretan nama superior di lini tengah. Punggawa Real Madrid, Luka Modric, dan kompatriotnya yang kini memperkuat tim rival, Ivan Rakitic, akan menjadi jantung sekaligus otak permainan tim. Kombinasi kedua pemain itu layaknya Xavi Hernandez dan Andres Iniesta di timnas Spanyol dahulu. Musim ini baik Modric maupun Rakitic menjadi bagian penting di level klub dan mereka sukses mempersebahkan gelar kepada tim. Rakitic mampu mengawinkan titel La Liga dan Copa del Rey bersama Barcelona. Sementara itu, Modric baru saja membantu Real Madrid meraih gelar Liga Champions. "Ini akan menjadi lawan yang sulit. Kroasia memiliki pemain-pemain luar biasa yang kini bermain di tim-tim terbaik di Eropa," tutur pelatih Spanyol, Vicente del Bosque, saat menanggapi salah satu pesaingnya di Grup D Piala Eropa 2016 itu.
Putusan berisiko
Pelatih Kroasia Ante Cacic mengambil keputusan berisiko setelah memilih tidak memasukkan nama bek andalan, Dejan Lovren, dalam skuat tahap akhir untuk Piala Eropa 2016, Juni mendatang. Keputusan tersebut diambil setelah Cacic dikabarkan meradang karena sikap Lovren yang naik pitam ketika tidak dimainkan dalam laga persahabatan melawan Hongaria yang berakhir imbang 1-1, Maret lalu. Bek Liverpool itu pun memilih menghentikan pemanasan setelah mengetahui dia tidak akan dimainkan. "Saya tidak menutup peluang Lovren. Dia harus sadar tim sebuah kesatuan," tutur Cacic.
(AFP/UEFA/Goal/Sat/R-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved