Jalan Reformasi PSSI masih Berduri

Satria Sakti Utama
10/4/2016 10:01
Jalan Reformasi PSSI masih Berduri
(Sumber: Tim MI/*/Grt/Grafis: Caksono)

Menpora Imam Nahrawi menegaskan jalan utama menyelamatkan sepak bola nasional hanya melalui Kongres Luar Biasa PSSI.

SURAT berkop Kementerian Pemuda dan Olahraga tertanggal 31 Maret 2016 itu muncul di mesin faksimile di sudut ruang Sekretaris Jenderal PSSI, Azwan Karim, sekitar pukul 17.00 WIB, Jumat (1/4), pekan lalu. Surat yang ditandatangani oleh Asdep Olahraga Prestasi Kemenpora Chandra Bhakti itu berisi jawaban kesediaan Kemenpora menerima audiensi PSSI yang dimohonkan lewat surat tertanggal 22 Maret 2016.

Namun, kesediaan itu dibubuhi syarat seluruh pengurus inti PSSI, termasuk ketua umumnya, harus hadir. Persoalannya, sang komandan tertinggi organisasi sepak bola di Tanah Air itu, La Nyalla Mattalitti, tengah buron setelah jadi tersangka Kejati Jatim dalam kasus korupsi dana hibah untuk Kadin Jatim.

Karena itu, jalan mengakhiri kesengkarutan persepakbolaan nasional pun masih penuh duri. Padahal, baik Kemenpora maupun PSSI tengah berpacu dengan waktu menghindari jatuhnya perpanjangan sanksi federasi sepak bola dunia, FIFA, terhadap Indonesia pada akhir bulan depan.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Gatot S Dewa Broto menolak jika surat balasan tersebut dinilai mempersulit PSSI. "Surat itu merespons surat mereka. Bukan jebakan," ujarnya, pekan lalu.

Tarik ulur Kemenpora dan PSSI memang belum menunjukkan tanda-tanda mengendur. Baik Kemenpora maupun PSSI sama-sama nyaris bergeming di titik nol. Kemenpora berkukuh tata kelola sepak bola nasional yang penuh intrik dan permainan dalam kurun lebih dari satu setengah dekade terakhir harus diakhiri dengan mereformasi PSSI. Sebelum upaya itu berhasil, Kemenpora menolak mencabut pembekuan PSSI yang pada 17 April, pekan depan, genap 1 tahun.

Kongres luar biasa

Menpora Imam Nahrawi menegaskan bahwa jalan menyelamatkan sepak bola nasional hanya melalui Kongres Luar Biasa PSSI. "Setelah itu, harus ada kompetisi profesional sesuai kaidah Statuta FIFA dan undang-undang yang berlaku di Indonesia," jelas Menpora saat ditemui di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (8/4) malam.

Sebaliknya, PSSI menyebutkan bahwa satu-satunya cara mengakhiri kekisruhan sepak bola nasional ialah dengan mencabut SK Menpora Nomor 01307 yang membekukan PSSI. "Sepak bola kita kian menderita, bukan tambah maju. Lebih baik dinormalkan," kata anggota Komite Eksekutif PSSI Tony Apriliani, kemarin.

Berbagai kalangan sepakat perlunya KLB PSSI. Pengamat sepak bola yang juga mantan pemain timnas Ferril Raymond Hattu menilai opsi KLB bisa jadi momentum membersihkan 'rumah PSSI' yang kotor. CEO PSBL Langsa, Samsul Bahri, juga tertarik mendorong KLB. "Terlebih La Nyalla buron," kata pemilik hak suara PSSI tersebut.

Perbaikan total PSSI dibutuhkan mengingat fungsi-fungsi PSSI selama pembekuan yang dimainkan Tim Transisi bentukan Kemenpora tidak optimal.

"Ibarat perang, bambu runcing saja kami tidak dikasih," kata anggota Tim Transisi Cheppy T Wartono.Namun, Menpora optimistis masalah sepak bola nasional, termasuk pembekuan PSSI, akan terurai sebelum Mei. (Rul/JS/WJ/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya