Kepengurusan PSSI Harus Dirombak Total

Nurul Fadillah
18/3/2016 20:00
Kepengurusan PSSI Harus Dirombak Total
(ANTARA/Wahyu Putro A)

KASUS tindak pidana korupsi yang menimpa Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti baru-baru ini menarik perhatian berbagai pihak. Tidak terkecuali pengamat sepak bola Ferryl Raymond Hattu. Mantan pemain sepak bola era 1980-1990an ini beranggapan sudah saatnya PSSI mengalami reformasi total, terutama dalam hal kepengurusan.

Apalagi, saat ini pemimpin federasi sepak bola Indonesia itu telah tersangkut kasus korupsi yang membuatnya ditetapkan sebagai tersangka. Meski Ferryl juga mengakui bahwa berdasarkan statuta PSSI La Nyalla masih berhak memimpin federasi lantaran belum berstatus terpidana.

Namun, pria yang pernah membawa Indonesia meraih medali emas di ajang SEA Games 1991 itu menganggap La Nyalla tidak memiliki etika moral apabila tetap memangku jabatan tertinggi di PSSI dengan menyandang status sebagai tersangka.

"Ya itu, memang kalau mau dibilang enggak malu ya iya, tetapi memang budaya kita seperti itu. Sekarang hanya satu dua orang di Indonesia yang legowo mengundurkan diri apabila dirinya bersalah, tetapi mayoritas kan tidak. Sedangkan (Sepp) Blatter itu etikanya memang tinggi dan seluruh dunia memantau sehingga saat menjadi tersangka ia langsung mundur dari jabatan Ketua FIFA," ujarnya.

Selain itu, Ferryl mengungkapkan, demi sepak bola Indonesia yang lebih baik, dia pun setuju dan mendukung apabila ada perombakan penuh dalam kepengurusan PSSI. Hal itu bisa ditempuh melalui mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB).

Kendati demikian, ia berharap para pemegang kursi jabatan di keorganisasian PSSI haruslah dari para pelaku sepak bola.

"Sekarang di PSSI orang bola itu hanya 10% yang lainnya bukan, hanya orang yang senang bola tetapi bukan orang bola sehingga keputusannya selalu seperti ini. Sikap mereka keras itu karena mereka memiliki kepentingan pribadi sehingga sepak bola betul-betul dikorbankan. Saya spribadi menganggap perlu perubahan total sepak bola, tetapi harus dari orang bola itu sendiri dan teman-teman yang memang mengerti mengelola sepak bola," lanjut Ferryl.

Perombakan perlu dilakukan demi kemajuan sepak bola Indonesia yang lebih baik. Mantan pemain Persebaya dan Petrokimia Gresik itu pun beranggapan, selama ini PSSI lalai memperhatikan pembinaan di desa-desa.

"Ini yang terjadi di PSSI sekian dekade dan dasawarsa kan tidak memperhatikan hal itu. Yang dilihat hanya yang ISL divisi yang pro yang ada duitnya, itu bukan urusan PSSI kalau itu itu urusan liga. tapi ini kan kebalik-bailik, pssi ngurusin itu sehingga pembinaan di daerah-daerah itu tidak ada. Nah ini yang salah, makanya orang-orang di PSSI ini yang enggak becus karena enggak ada orang bolanya dan ini enggak mengerti," lanjutnya.

Namun, untuk mewujudkan reformasi tata kelola sepak bola yang lebih baik diperlukan pula peranan pemerintah. Ferryl pun mendukung apabila pemerintah dalam ranah Kementerian Pemuda dan Olahraga berupaya untuk mewujudkannya.

"Pemerintah kan maunya jelas asal itu sepak bola ada ditangan orang-orang yang benar. Tapi, pemerintah kan tidak bisa menabrak aturannya. Jadi bagaimana mereka berupaya untuk bisa tidak menabrak aturan dan supaya PSSI dipegang oleh orang-orang yang kompeten. Itu kan tugas menpora untuk mencari jalan itu supaya lebih elegan dan lebih beretika kan begitu jangan melanggar statuta," tutupnya. (Rul/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya