Ada Motif Politik dan Uang dari Penyebaran Hoax

Erandhi Hutomo Saputra
23/1/2017 22:20
Ada Motif Politik dan Uang dari Penyebaran Hoax
(Ilustrasi)

SULIT untuk tidak mengaitkan maraknya penyebaran berita bohong (hoax) di media sosial saat ini dengan motif politik dan uang. Pasalnya dalam konteks kekuasaan, penyebaran berita hoax ditujukan untuk memengaruhi orang sekalipun informasi yang diberikan tidak benar.

"Dalam konteks kekuasaan, politik dan uang tidak bisa lepas, kekuasaan mengacu ke akumulasi modal," ujar Tommy di Jakarta, Senin (23/1).

Tommy menyebut, dunia digital memicu maraknya fenomena hoax yang diawali dengan banyaknya berita palsu yang muncul secara serempak yang ditujukan untuk memengaruhi pembacanya. Diakui saat ini masih sulit diketahui berapa banyak masyarakat yang percaya akan berita hoax dan berapa yang tidak.

"Untuk itu pemerintah perlu melakukan kajian, riset atau survei tentang tingkat penerimaan masyarakat terhadap hoax, tingkat kritis masyarakat terhadap hoax, dan penyebar luasan hoax sampai sejauh mana. Setelah itu buat kebijakan-kebijakan, jangan asal nge-block (situs-situs)," cetusnya.

Ia menilai penutupan portal berita yang dianggap menyebarkan berita palsu bisa menjadi solusi jangka pendek untuk menekan peredaran berita hoax, asalkan penutupan tersebut dilakukan sesuai aturan hukum yang ada.

Dihubungi terpisah, Sosiolog UI Imam Prasodjo menyebut maraknya fenomena hoax diakibatkan berkembang pesatnya teknologi komunikasi massa. Dulu, kata Imam, orang mendapatkan informasi melalui institusi media massa dengan produk koran, namun saat ini dengan adanya WhatsApp, Line, Twitter, dan Facebook orang mendapatkan informasi tidak lagi dari institusi media massa namun dari individu.
Setiap individu pun, saat ini bisa memproduksi beritanya sendiri dan menjadi "jurnalis" bagi dirinya dan kalangan sekitarnya.

"Semua orang bisa jadi pengamat sekarang ini tanpa memiliki kode etik yang kuat seperti jurnalis atau akademisi yang punya tanggung jawab akademis, sekarang anak kecil ikut dalam WA dan Facebook dia bisa ngomong apa saja tanpa memikirkan kode etik dan tanggung jawab akademis," jelasnya.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya