Dua Cagub Perlu Perbaiki Respons

Arif Hulwan
16/1/2017 08:30
Dua Cagub Perlu Perbaiki Respons
()

PERHATIAN publik dunia maya pascadebat Pilkada DKI Jakarta paling banyak tertuju ke pasangan petahana, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Kendati, perbincangan yang bersifat negatif atau kritik tercatat sedikit lebih banyak ketimbang yang positif.

Pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno disarankan memperbaiki penyampaian program dan respons atas pertanyaan untuk debat putaran kedua.

Jika tidak, perhatian publik tetap jadi milik petahana.

"Perhatian netizen terhadap pasangan petahana masih sangat besar. Program dan jawaban yang mereka sampaikan selalu diperbincangkan netizen, baik secara positif dan negatif," ungkap Pendiri Politicawave Yose Rizal, dalam siaran persnya, kemarin.

Kesimpulan itu berdasarkan analisis percakapan di dunia maya pada saat berlangsungnya debat Pilkada DKI putaran pertama, pada Jumat (13/1).

Basuki-Djarot mendominasi percakapan netizen dengan jumlah percakapan 53%, disusul Anies-Sandi dengan 38%, dan Agus-Sylvi yang hanya 9% (lihat grafik).

Menurut Yose, perhatian kepada Basuki-Djarot tidak lepas dari kemampuan keduanya dalam menjawab dengan baik pertanyaan dari moderator maupun pasangan calon lain, serta dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengklarifikasi berbagai tudingan.

"Hal ini perlu menjadi perhatian bagi dua penantangnya, baik Agus-Sylvi maupun Anies-Sandi. Mereka harus mampu memperbaiki penyampaian program dan jawaban pada dua debat selanjutnya," tutur Yose.

Yose menambahkan, Agus-Sylvi membuat debut yang cukup mengejutkan dan mendapat apresiasi dari netizen.

Sayang, pada segmen tanya jawab Agus-Sylvi dianggap kurang memahami masalah dan belum mampu menjawab sesuai pertanyaan.

Anies-Sandi juga cukup mendapatkan apresiasi positif di awal debat, namun menurut Yose, tampak kedodoran di segmen tanya jawab, "Netizen menganggap mereka belum konkret dan masih banyak retorika," tandasnya.

Pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya menilai para kandidat memiliki keunggulan masing-masing dalam debat publik perdana.

Namun, pasangan calon nomor urut 2, Basuki-Djarot, unggul di kalangan terdidik atau kelas menengah karena berani bicara prosedur yang sifatnya teknis.

Meski begitu, debat perdana itu baru sampai pada level memberi keyakinan tentang kemampuan petahana.

"Untuk sampai mengubah pilihan masih diperlukan debat kedua dan ketiga," tandas Yunarto.

Perlu data sama

Pengamat perkotaan Yayat Supriatna mengatakan Basuki-Djarot unggul karena memiliki indikator-indikator yang sudah diperbuat.

Adapun, dua pasangan calon lainnya baru mencoba memberi gagasan untuk melengkapi dan memperbaiki.

"Pasangan calon lainnya sebenarnya mereka juga sudah punya data. Mereka kan sudah blusukan. Tetapi, debat pasti akan jauh lebih menarik jika semua kandidat memegang data yang sama sehingga bisa lebih tepat dalam mengkritisi apa yang sudah terjadi sekarang," imbuhnya saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (14/9).

Waktu debat yang relatif singkat, menurut Yayat, memberikan kendala tersendiri.

Semua rencana calon tidak akan bisa diterangkan secara penuh karena tidak cukup waktu. (Nur/Pra/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya