Periode Harapan dan Tantangan

P-2
28/10/2015 00:00
Periode Harapan dan Tantangan
Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI(MI/PANCA SYURKANI)

Wapres Jusuf Kalla sudah banyak makan asam garam di pemerintahan. Ia sudah masuk dalam pemerintahan sejak era Presiden Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan sekarang era Presiden Joko Widodo. Dengan modal itu, tentunya dia paham betul akan seluk-beluk pemerintahan dengan masalah yang melingkupnya.

Wartawan Media Indonesia Sabam Sinaga, Henri Salomo, Aries Wijaksena, dan Anshar Dwi Wibowo, kemarin, diterima Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, untuk sesi wawancara. Berikut petikannya.

Bagaimana naik turun perjalanan selama berada di era empat presiden? Apakah persoalan terbesarnya?

Sangat tergantung tentu leadhership kemudian kekompakan dan situasi yang dihadapi. Waktu Gus Dur kondisi krisis, waktu Megawati tapi belum dengan SBY malah (krisis) naik. Sekarang kembali turun lagi akibat kondisi dari luar. Kalau (gaya) kepemimpinannya, berbeda-bedalah. Semua punya kelebihan, perbedaan.

Anda tentu bisa mencatat tantanganya dan tentu pola penanganannya berbeda, itu seperti apa?

Zaman Gus Dur itu kan kita akhir krisis, masih ada krisis. Ekonomi kita masih lemah akibat krisis 1998-1999 maka solusinya itu menjual aset dengan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Kita biayai lewat IMF (International Monetary Fund) sambil mengeluarkan BLBI (bantuan likuiditas Bank Indonesia). Kalau zaman Bu Mega, IMF sudah selesai maka aset yang dipegang pemerintah dijual untuk menopang. Kalau itu dijual, Indosat, BCA, yang terbesar dua itu, dan lainnya, itu konsekuensi dari habis krisis kemudian pemerintah mengeluarkan BLBI sebelumnya. Aset itu kemudian dijual untuk membiayai pemerintahan.

Zaman SBY-JK, yang dijual tidak ada lagi maka kita mempunyai suatu kemungkinan pertumbuhan dengan usaha tidak ada IMF, tidak ada lagi aset BPPN yang dijual, tapi ekonomi juga makin lebih baik. Diuntungkan kita dengan segala upaya, kekompakan, walapun kita mengalami krisis yang besar karena tsunami, kita bisa atasi dan ekonomi berjalan sampai ujungnya kita tumbuh 6,5%-6,7%. Kedua juga turun naik, tapi tumbuh bagus Pak SBY karena didukung kondisi booming ekonomi dunia setelah krisis. Walaupun ada krisis 1998, kita kembali lagi. Harga-harga bagus, ekspor komoditas bagus. Nah, pada saat ini dimulai dengan turunnya harga komoditas. Jadi, apa yang menaikkan zaman SBY terbalik, turun di sini maka ekonomi kita mengalami perlambatan.

Bagaimana dari politik dalam negeri?

Kita bersyukur begitu selesai pemilu kondisi stabil. Partai-partai tidak ada yang sangat menonjol, katakanlah oposisi tidak. Kemudian kita waktu zaman SBY juga ndak, stabil saja. Sekarang lebih stabil pada dasarnya.

Bukankah di awal pemerintahan sempat terjadi kegaduhan politik?

Iya-iya, tapi setelah tiga bulan KIH dan KMP menyadari pentingnya stabilitas negara. Semua partai itu bersatu.

Bahan evaluasi satu tahun, dari Trisakti yang mana didahulukan?

Soal penilaian sulit menilai suatu pemerintahan apa yang dicapai setahun karena program itu diset lima tahun, tapi memang itu ada langkah-langkahnya. Trisakti itu sebenarnya tidak terpisahkan. Kalau ekonomi tidak baik, pasti politik juga akan tidak bisa berdaulat, selalu meminta bantuan negara lain. Kalau politik tidak stabil, itu juga ekonomi akan mundur. Begitu juga kalau kita banyak utang, bagaimana bisa berkepribadian? Jadi, kita tidak bisa mengatakan yang mana yang lebih penting. Nah, daulat politik itu Anda harus punya kekuatan militer. Contohnya kuat secara politik internasional. Harus kita dihargai. Jadi, berdikari di politik dan ekonomi itu sebenarnya satu kesatuan.

Bagaimana dengan paket kebijakan ekonomi yang sejauh ini sudah lima?

Itu untuk menghadapi krisis. Setiap kebijakan menghadapi krisis itu bagaimana mendorong investasi pemerintah dan swasta agar menggerakkan ekonomi. Kita harus bergerak lebih cepat dan baik. Kebijakan harus lebih cepat izin, proses, memberikan layanan. Ada juga yang murah, turunkan bunga, turunkan harga BBM, turunkan pajak. Nah, kalau lebih baik, tentu aturan itu melayani orang lebih baik dan tingkat pertumbuhan baik.

Paket satu sudah dievaluasi?

Belum, itu secara bersamaan. Namun, nanti diukurnya dari pertumbuhan dan employment di samping APBN, pajaknya berapa.

Dalam RAPBN 2016 target pajak diturunkan. Pemerintah lebih realistis?

Kalau terjadi perlambatan, recovery-nya memang tidak mungkin dengan menaikkan pajak. Kedua kalau ekonomi begini, pasti pajak turun, berimbas pendapatan negara turun dan pengeluarannya juga harus diturunkan. Tahun depan makanya hanya kita share 5% dari outlook, dari kemungkinan uang masuk. Itu hanya untuk menyejajarkan inflasi. Pada dasarnya pajak tahun depan itu hampir sama dengan perkiraan pajak tahun ini. Jadi, pajak tahun ini ditambah inflasi.

Menteri Pertanian yakin bahwa pangan bisa dipenuhi sendiri dari dalam negeri, tapi...?

Yang terjadi kesalahan BPS, data tidak valid. Namun, kesalahan pokoknya, tidak benar kita punya produksi 75 juta ton aram II, tidak mungkin itu. Kesalahannya menilai konsumsi. Sederhananya selama ini tidak mengekspor beras artinya konsumsi sama dengan produksi. Pertanyannya berapa konsumsi? Ada empat angka konsumsi Indonesia, ini berbeda-beda. Agka BPS itu 88 kg/tahun, itu artinya 224 gram per hari/orang. Angka kedua BPS juga, rumah tangga, itu 114 kg/tahun. Itu artinya sekitar 300 gram. Angka pertanian dulu 150 kg/tahun sama dengan 416 gram per hari. Rupanya mereka itu dikasih jalan tengah dari 114 ditambah 150 jadi kenalah 124 kg. Itulah yang dipakai. Kita ada kesalahan statistik 20 juta ton. Kalau itu benar dikatakan BPS dan pertanian ada surplus 15 juta ton beras per tahun.

Jangan-jangan di kebijakan yang lain juga keliru?

Ooo, banyak. Statistik kita perlu evaluasi total.

Terkait dengan PAN yang sudah bergabung ke pemerintah, apa ada dampaknya di kabinet?

Dampak pasti ada bahwa karena itulah politik kita lebih stabil, khususnya di DPR, politik nasional. Soal di kabinet yang belum kita bicarakan karena itu ya tentunya Presiden yang nanti menentukannya.

Benarkah PAN sudah mengajukan nama?

Saya kira secara resmi belum saya dengar, tetapi bisa saja secara personal ada yang mengajukan, tapi tidak secara kepartaian. Itu yang saya ketahui.

Kira-kira ini jadi, ada posisi tertentu?

Ya, otomatis kalau partai bergabung dalam pemerintahan, tempatnya di kabinet supaya ikut pemerintah. Itu konsekuensi kalau ikut pemerintah, pemerintah itu berarti ada di menteri. Tidak mungkin orang memerintah tanpa mewakili di pemerintahan kan?

Ada juga kesan jadi penumpang gelap, mereka yang tidak berkeringat di awal tapi menikmati. Bagaimana?

Tentu bisa saja itu. Karena itulah, pengalaman yang lalu-lalu saya juga pada 2004 ada partai yang gabung di belakang, termasuk PAN gabungnya di belakang. Tentu bagiannya berbeda dengan partai yang berkeringat sejak awal.

Pak Jokowi terkesan solo run, benar?

Sebetulnya beliau itu sangat banyak menonjol ke mana-mana iya benar, tapi hampir semua keputusan itu dari dalam rapat. Karena itu, barangkali ini kabinet yang paling banyak rapatnya dibanding era SBY.

Semua persoalan itu diputuskan?

Ya, lihat saja rapat terbatas. Tiap hari kan? Jadi, semua keputusan itu kolegial sebenarnya.

Artinya benar Anda tidak ditinggalkan?

Ya kalau pengambil keputusan bisa dibilang tidak sama sekali solo run, kolegial.

Apakah Anda nyaman dengan kabinet sekarang?

Tergantung apa yang diperbuat dan hasilnya. Bagi saya, periode ini ialah harapan dengan begitu banyak tantangan. Tantangan dari luar, dalam negeri, banyak sekali. Kalau kita berhasil menangani, pasti terpuaskan.

Sempat sedikit terjadi dinamika dengan Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli?

Tentu itulah karena,,, kalau Rizal, dia kan berbeda dengan semua orang.

Stressing tahun kedua?

Seperti sekarang, bagaimana kalau kita tidak bisa mengekspor banyak maka yang kita lakukan ialah meningkatkan produktivitas untuk memenuhi pasar eks impor. Artinya kita masih mengimpor beras, jagung, kedelai, daging. Jadi, usaha kita memenuhi kebutuhan ini sehingga tidak perlu mengeluarkan devisa.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya