Suap Tambang Jadi Bancakan

Budi Ernanto
10/10/2015 00:00
Suap Tambang Jadi Bancakan
Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa menuntut kasus pembunuhan aktivis Salim Kancil secepatnya diungkap, di Jawa Timur.(ANTARA/Didik Suhartono)

KEPALA Divisi Propam Polri Irjen Raden Budi Winarso mengatakan pihaknya telah menerima pengakuan dari tiga anggota Polsek Pasirian yang rutin menerima setoran suap dari aktivitas tambang pasir ilegal di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

"Berdasar pengakuan, mereka baru terima selama enam bulan ini. Tapi pertambangannya sudah berjalan sejak awal 2014," kata Raden di Jakarta, kemarin.

Tiga polisi dari Polsek Pasirian yang diduga menerima suap itu, yakni Kepala Polsek Pasirian dan dua anggotanya dari Babinkamtibmas dan Unit Reserse Kriminal.

Dari hasil pemeriksaan yang berlangsung secara maraton, ketiganya diketahui menggunakan modus patroli harian untuk menerima uang setoran itu.

"Mereka ngambil jatah preman. Tidak boleh begitu, makanya kami periksa. Kanit sendiri sudah tahu itu tambang ilegal, tapi dibiarkan. Tapi, ini bukan hanya polisi, ada bupati dan DPRD. Ini bancakan ramai-ramai," ungkapnya.

Raden menambahkan, terhadap tiga polisi itu, mereka akan diproses tidak hanya secara pidana, juga kode etik. Namun, yang didahulukan ialah pidananya, baru dilanjutkan dengan sidang kode etik.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti membantah pemeriksaan ketiga oknum polisi itu terkait dengan kematian Salim Kancil.

"Ini tidak ada kaitannya (dengan pembunuhan Salim Kancil). Kita harus ada fakta hukum, beda antara suap dan pembunuhan. Kalau ada fakta hukum mengatakan seperti itu, pasti akan kita cari," ujar Badrodin.

Sebelumnya, dua warga Desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Salim Kancil dan Tosan dianiaya sekelompok orang karena aktivitas mereka yang getol menolak kegiatan penambangan ilegal pasir di sekitar Pantai Watu Pecak, Kabupaten Lumajang.

Akibat penganiayaan yang berlangsung Sabtu, 26 September 2015 itu, Salim Kancil meninggal dunia, sedangkan Tosan dalam kondisi kritis.

Aksi solidaritas

Di Brebes, Jawa Tengah, sejumlah pelukis menggelar aksi solidaritas untuk Salim Kancil.

Aksi solidaritas para pelukis tersebut diwujudkan dalam karya lukisan yang ditorehkan di dinding Stadion Karangbirahi, Brebes, dengan ukuran 4x6 meter.

Lukisan berjudul Monster Tambang Mangsa Petani tersebut melukiskan seorang petani yang digambarkan dalam sosok kancil di tengah kepungan para monster penambangan pasir.

Pelukis bernama Gus Bill bersama kawan-kawannya, seperti Wane, De Kan, dan Ar Seu merampungkan lukisan dalam bentuk mural untuk Salim Kancil yang dikerjakan dalam waktu 2 jam.

"Ini merupakan bentuk solidaritas kami untuk Salim Kancil," ujar Gus Bill, kemarin.

Gus Bill dan kawan-kawannya berharap kasus yang menimpa Salim Kancil itu segera diselesaikan hingga tuntas.

(JI/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya