(Wawancara) Agus Harimurti Yudhoyono: Bukan untuk Cari Kekuasaan

Erandhi Hutomo Saputra
21/11/2016 07:49
(Wawancara) Agus Harimurti Yudhoyono: Bukan untuk Cari Kekuasaan
(Ilustrasi/MI/Seno)

KONTESTASI pilkada DKI Jakarta telah memasuki masa kampanye sejak 28 Oktober lalu, atau hampir satu bulan sejak para kandidat resmi ditetapkan sebagai pasangan calon. Sebagai salah satu kandidat yang baru mempersiapkan diri di waktu-waktu akhir, Agus Harimurti Yudhoyono harus berlari kencang. Kandidat yang diusung Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PKB itu berpasangan dengan Sylviana Murni.

Pasangan nomor urut 1 itu kerap menganalogikan diri sebagai kuda hitam. Berbekal blusukan demi blusukan, apa saja yang ditawarkan putra sulung Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono itu kepada warga DKI Jakarta? Berikut petikan wawancara wartawan Media Indonesia Erandhi Hutomo Saputra dengan Agus dalam sejumlah kesempatan.

Sudah hampir satu bulan berkampanye, apa yang Anda tangkap dari masyarakat Jakarta selama ini?
Saya dan Mpok Sylvi bertemu dengan masyarakat, kami dengar keluh-kesah, kegelisahan, dan kecemasan mereka. Contoh di Kalibaru, Jakarta Utara, ada Haji Agus yang mengutarakan kekhawatiran masyarakat akan ancaman penggusuran. Meskipun kawasan itu lebih dulu ada daripada Muara Angke atau Muara Raya, tapi wilayah Kalibaru yang padat dan kumuh seakan dibiarkan miskin dan luput dari perhatian pemerintah.

Untuk mengatasi permasalahan yang seakan abadi di Jakarta, banjir dan kemacetan, apa solusi Anda?
Terkait dengan masalah banjir tentu permasalahannya pelik. Bagi saya, bagaimana menghadirkan sumur resapan di masyarakat. Mindset kita bukan lagi horizontal drainase tapi vertical drainase. Ini harapan bisa meyakinkan, tidak semua air dibuang ke sungai. Melalui dana program pemberdayaan komunitas, kita sangat berharap semakin meningkatkan kualitas hidup masyaakat dalam mencegah banjir. Di samping itu, masyarakat juga harus menjaga lingkungan, jangan sampai saluran-saluran pembuangan tersumbat karena sampah yang menumpuk.

Kalau soal kemacetan?
Kemacetan memang menjadi sumber banyak permasalahan. Setidaknya yang kita tahu, mengurangi waktu produktivitas kita dan mengurangi waktu kita bertemu dengan keluarga. Bagi saya, ada sejumlah hal yang dapat kita lakukan dengan serius untuk mengurangi kemacetan, secara bersamaan kita tingkatkan jumlah dan kualitas transportasi publik, dan kita harus meningkatkan kualitas manajemen lalu lintas secara terukur dan proporsional.

Untuk mengatasi masalah banjir petahana mengambil kebijakan normalisasi sungai dengan merelokasi warga yang tinggal di bantaran kali ke rusun, bagaimana dengan Anda? Setujukah dengan relokasi?
Pasti normalisasi sungai akan (terus) ditingkatkan dan dilanjutkan, (untuk) memperkuat infrastruktur sungai. Namun, bagi saya dan Mpok Sylvi, penggusuran bukanlah satu-satunya pilihan dalam menata lingkungan di Jakarta. Masih banyak cara lain yang tersedia asalkan kita kreatif dan sungguh-sungguh memanfaatkan anggaran pembangunan. Kalaupun penggusuraan tidak terelakkan, kami beprinsip hendaknya kita tidak hanya memindahkan tempat tidur mereka, tapi juga memindahkan nyenyak tidur dan mimpi-mimpinya

Bagaimana mengenai kebijakan reklamasi pantai utara Jakarta?
Saya juga punya sikap tentang reklamasi dan sudah saya sampaikan di beberapa kesempatan. Isu itu harus dilihat secara komprehensif dan dicari solusi terbaik. Yang tidak saya inginkan ialah proyek reklamasi hanya dinikmati sebagian orang. Padahal, masyarakat yang ada di bawah paling terkena dampaknya.

Terakhir, bagaimana Anda meyakinkan masyarakat Jakarta untuk memilih Anda?
Pemilih harus rasional memilih calon pemimpin berdasarkan kecocokan hati dan pikiran. Jangan berdasarkan penampilan fisik saja. Kehadiran saya dan Bu Sylvi untuk memperkaya pilihan. Silakan pilih yang visi dan misinya cocok. (P-3).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya