Pengamat LIPI Ragukan Hasil Survei LSI

Erandhi Hutomo Saputra
08/10/2016 08:50
Pengamat LIPI Ragukan Hasil Survei LSI
(MI/Galih Pradipta)

PENGAMAT politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mempertanyakan hasil survei yang dilalukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA.

Menurut Ikrar, LSI ialah konsultan politik salah satu calon dan juga mencari pasar. Ia juga mempertanyakan apa yang disebut sebagai simulasi dalam survei itu hanya penjumlahan dari perolehan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. "Sulit menguji apakah benar pendukung Agus sepenuhnya akan bermigrasi ke Anies atau sebaliknya, di putaran kedua," katanya.

Asumsi migrasi dukungan didasarkan pada sentimen keengganan pemilih muslim memilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menurut LSI mencapai 40%. Asumsi tersebut sulit diterima mengingat, berdasarkan sebaran dukungan, dukungan Ahok dari pemilih muslim justru lebih besar (27,7%), Anies (22,8%), dan Agus (20,6%).

Disebutkan, angka elektabilitas Ahok pada survei Oktober turun ke 31,4%. Angka ini sama dengan simulasi tiga pasangan ketika pasangan Ahok-Djarot juga memperoleh suara 31,4%. Angka itu dinilai ganjil karena berarti Djarot tidak memberikan andil suara.

Ikrar juga menyayangkan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) menyertai hasil survei itu. Padahal, selama ini Denny JA dikenal sebagai tokoh yang sangat menentang isu SARA. "Jadi ini survei independen atau dibayar untuk pengaruhi opini? Kalau ini terus-menerus dibiarkan, ini akan menjadi pembenaran," katanya.

Sebelumnya, peneliti utama LIPI Siti Zuhro menegaskan perlu pengaturan untuk memisahkan antara lembaga survei dan konsultan politik ataupun tim sukses agar tidak terjadi pembohongan publik. Siti mengakui lembaga survei mulai tidak karuan kiprahnya sejak 2008. Seharusnya, katanya, lembaga survei terbuka, transparan, serta berintegritas.

Sudah diprediksi
Soal beberapa survei yang bermunculan, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengaku bahwa tren penurunan elektabilitas Ahok-Djarot sudah diduga sebelumnya. Sebab, ketika dua bakal pasangan calon lainnya muncul, bakal terjadi keseimbangan baru di dalam peta dukungan terhadap kandidat.

Andreas mengaku hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan secara berlebih. Sebab, ia yakin, pada akhirnya pemilih di DKI akan mempertimbangkan aspek kualifikasi dari kandidat.

Aspek kualifikasi dalam hal ini bisa soal kepemimpinan dan kinerja dari para kandidat. "Nah, di sini pasangan Ahok-Djarot jauh unggul dari Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni," katanya.

"Petahana ini kan orang sudah liat semuanya. Lima tahun mereka sudah menunjukan kinerja dan hasil yang bisa dinilai masyarakat," imbuhnya.

Kini setelah menunjukkan hasil kinerja, pasangan Ahok-Djarot tinggal mencari cara bagaimana mengapitalisasi kinerja itu. Caranya, dengan menunjukkan bukti kepada masyarakat.

"Saya kira pada titik itu masyarakat akan menyadari, menyentuh alam bawah sadar pemilih, apa yang sudah dilakukan petahana. Petahana akan dinilai dari situ."

Terkait Pilkada 2017 ini, Menko PolhukamWiranto meminta semua pihak tak mencederai pilkada. Wiranto tidak ingin pesta demokrasi ini dikotori dengan isu SARA.(Cah/Pol/Ant/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya