Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap kasus pengoplosan 400 ton beras yang diduga cadangan Bulog atau dikenal dengan beras bersubsidi di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur.
Saat penggerebekan di gudang beras di Blok T2 Pasar Cipinang, Rabu (6/10), ditemukan sejumlah orang yang sedang mengoplos beras bermerek Palm Mas dari Demak dengan beras cadangan Bulog dari Thailand.
Pemilik gudang yang diduga sebagai pelaku, AL, mengoplos kedua beras tersebut dengan komposisi 2/3 beras dari Thailand dan 1/3 beras Palm Mas. Harga rata-rata beras Palm Mas di pasaran Rp11 ribu per kilogram, sedangkan beras dari Thailand Rp7.500-Rp8.000 per kilogram. Kemudian oleh AL, beras oplosan ini dijual seharga Rp11 ribu per kilogram sesuai harga beras Palm Mas.
"Jadi, dia mendapatkan keuntungan Rp4 ribu per kilogram," ujar Kepala Bareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto, di Jakarta, kemarin (Jumat 7/10).
Dari hasil penyelidikan sementara, Bareskrim menduga AL mendapat suplai 400 ton beras Bulog dari AS dan SU yang bersumber dari PT DSU. "PT DSU ini tidak termasuk perusahaan yang ditunjuk, berarti ilegal," papar Ari Dono.
Untuk itu, Bareskrim akan meminta keterangan dari pihak Bulog perihal mekanisme pendistribusian beras yang menyimpang tersebut. "Pasti dimintai pertanggungjawaban, bagaimana DO (<>delivery order/surat perintah pengeluaran barang) itu keluar," tandas Ari.
Bareskrim telah memeriksa tujuh orang saksi mulai dari pengoplos, yang memerintahkan untuk mengoplos, hingga yang membiayai proses tersebut. Namun, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Area distribusi beras oplosan dari gudang milik AL ini pun hingga kini masih didalami.
Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Hasil Sembiring membenarkan adanya penyalahgunaan peruntukan beras dalam kasus ini. "Hal-hal seperti ini akan menyusahkan kita saat paceklik. Petani kita dirugikan, jadi susah, harganya bisa naik, dan sebagainya," pungkas Sembiring. (Nic/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved